Hilangnya Intonasi di Medsos Rentan Picu Konflik Antar Remaja
- 11 Jul 2026 19:54 WIB
- Pontianak
RRI.CO.ID, Pontianak - Arus digitalisasi dan maraknya penggunaan media sosial membawa tantangan tersendiri bagi generasi muda, khususnya terkait etika, kesantunan, dan cara berbahasa. Merespons fenomena tersebut, Duta Bahasa Provinsi Kalimantan Barat, Ridho Mahendra dan Nasywa Maully, mengajak Generasi Z (Gen Z) untuk lebih bijak menyaring informasi dan menempatkan tutur kata sesuai dengan situasi.
Hal tersebut dibahas dalam obrolan interaktif program NGOPI (Ngobrolin Prestasi dan Informasi) yang dipandu oleh penyiar Dipa Revanda di RRI Pro 2 Pontianak pada Kamis, 09 Juli 2026.
Nasywa Maully, yang akrab disapa Moli, mengulas bagaimana interaksi di media sosial sering kali membuat seseorang merasa anonim, sehingga memicu keberanian untuk melontarkan kata-kata tanpa filter. Menurutnya, penggunaan diksi gaul atau slang words memang sudah menjadi kultur keseharian anak muda saat ini, namun penggunaannya tidak boleh menghilangkan nilai kesantunan.
"Kemudahan di media sosial terkadang membuat kita tercemar dengan kata-kata toksik atau istilah gaul yang kelihatannya keren tapi maknanya kurang baik. Kuncinya ada pada kontrol diri kita sendiri untuk memfilter narasi tersebut. Menggunakan bahasa gaul itu tidak masalah, asalkan tahu penempatannya. Sangat tidak etis jika bahasa pergaulan tongkrongan digunakan di forum formal seperti sidang skripsi," jelas mahasiswi yang juga aktif membangun kemandirian sebagai content creator dan affiliator tersebut.
Senada dengan Moli, Ridho Mahendra menekankan bahwa tantangan terbesar saat berkomunikasi di era digital adalah hilangnya unsur intonasi, terutama saat bertukar pesan teks (chatting). Ketiadaan intonasi dan ekspresi ini sangat rawan memicu miskomunikasi dan konflik.
"Di media sosial atau chat, kita mengetik tanpa nada suara. Pesan yang niatnya baik bisa dipersepsikan ketus hanya karena dibalas terlalu singkat. Jangankan tidak berpikir, kita yang sudah berpikir sebelum ngomong saja kadang masih salah paham. Makanya, butuh kedewasaan untuk memastikan pesan kita sampai tanpa menyakiti orang lain," tutur pengusaha muda yang telah merintis bisnis sejak tahun 2020 tersebut.
Lebih lanjut, Ridho membagikan pengalamannya berinteraksi dengan berbagai kalangan saat menjalankan usahanya. Menurutnya, kemampuan beradaptasi dan menyesuaikan gaya bahasa (code-switching) adalah sebuah keharusan.
"Kita harus punya kerendahan hati untuk menyesuaikan umur lawan bicara. Saat melayani pelanggan yang lebih tua, tidak mungkin saya memaksakan istilah-istilah Gen Z seperti 'literally' atau 'which is'. Kita harus menggunakan bahasa Indonesia yang baik agar mudah dimengerti," tambahnya.
Di akhir obrolan, kedua Duta Bahasa Kalbar ini berpesan agar anak muda terus merawat kelestarian dan kesantunan berbahasa. Jangan sampai kemajuan teknologi dan masifnya serapan bahasa asing menggerus adab dan budaya bangsa.
Mengutip sebuah filosofi tentang kuatnya dampak sebuah bahasa, Dipa Revanda menutup obrolan sore tersebut dengan sebuah refleksi mendalam, "Bahasa bisa membuat seseorang berkembang, tapi juga bisa menjatuhkan. Luka fisik yang berdarah bisa lebih cepat sembuh, dibandingkan luka karena kata-kata."
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....