Makna Bakcang, Warisan Budaya dan Keteladanan Kejujuran
- 18 Jun 2026 20:41 WIB
- Pontianak
RRI.CO.ID, Pontianak - Beragam makna dan nilai kehidupan tersimpan dalam perayaan Hari Bakcang yang hingga kini terus dilestarikan warga Tionghoa. Festival Duan Wu atau Hari Bakcang kembali diperingati masyarakat Tionghoa pada tanggal 5 bulan 5 penanggalan lunar China. Perayaan yang telah berlangsung selama ribuan tahun ini identik dengan tradisi menyantap bakcang, makanan berbahan dasar beras ketan yang dibungkus daun bambu dan berisi daging atau berbagai isian lainnya.
Pemerhati Sosial Budaya Kemasyarakatan, Andreas Acui Simanjaya, mengatakan bakcang merupakan bagian penting dari tradisi Duan Wu yang diwariskan secara turun-temurun.
"Sesuai asal katanya, 'Bak' berarti daging. Namun seiring perkembangan zaman, isi bakcang tidak hanya daging, tetapi juga bisa menggunakan sayur atau kacang sesuai selera," ujarnya di Pontianak, Kamis, 18 Juni 2026.
Menurut Andreas, Hari Bakcang memiliki banyak sebutan, di antaranya Festival Duan Wu, Festival Bulan Kelima, Festival Musim Panas, Festival Dumpling hingga Festival Perahu Naga yang paling dikenal secara internasional.
Dalam tradisi masyarakat Tionghoa, perayaan ini juga dikenal dengan nama Peh Cun yang jatuh setiap hari kelima bulan kelima kalender lunar China. Selain memiliki nilai budaya, Hari Bakcang juga sarat makna historis. Tradisi tersebut digelar untuk mengenang Qu Yuan, seorang menteri Negara Chu yang dikenal jujur, patriotik dan berjuang demi kepentingan rakyatnya.
Qu Yuan hidup pada periode sekitar 340 hingga 278 sebelum Masehi. Ia dikenal sebagai pejabat yang menentang korupsi dan agresi negara Qin, namun justru mengalami fitnah hingga diasingkan. Menurut legenda, Qu Yuan kemudian mengakhiri hidupnya dengan melompat ke Sungai Miluo sebagai bentuk keputusasaan atas kondisi negaranya.
Masyarakat yang menghormati pengorbanannya berusaha mencari jasad Qu Yuan dengan perahu. Mereka juga melemparkan bakcang ke sungai agar ikan dan makhluk air tidak memakan tubuh sang tokoh. Sejak saat itu, bakcang menjadi simbol penghormatan terhadap Qu Yuan sekaligus lambang kesetiaan, pengorbanan dan integritas seorang pemimpin.
Andreas menjelaskan, bentuk bakcang yang memiliki empat sudut juga mengandung doa dan harapan baik bagi kehidupan. Sudut pertama melambangkan kasih sayang antar sesama manusia. Sudut kedua bermakna harapan akan kedamaian, kesehatan dan kesejahteraan keluarga. Sementara sudut ketiga menjadi simbol kelancaran rezeki dan keberkahan hidup. Adapun sudut keempat mengandung doa agar usaha, pekerjaan dan karier dapat berjalan sukses.
Bagi Andreas, nilai paling penting dari perayaan Hari Bakcang bukan hanya tradisi kulinernya, tetapi penghargaan masyarakat terhadap sosok pejabat yang jujur dan berani memperjuangkan kebenaran.
"Perayaan Festival Bakcang dimaknai sebagai penghargaan masyarakat atau rakyat atas pengorbanan seorang pejabat yang jujur," pungkasnya.
Di tengah modernisasi, perayaan Hari Bakcang tidak hanya menjadi ajang melestarikan budaya Tionghoa, tetapi juga mengingatkan pentingnya kejujuran, pengabdian, dan keberanian memperjuangkan kepentingan masyarakat.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....