Merawat Harapan dari Tetesan Getah Karet di Kala Fajar

  • 09 Jun 2026 12:38 WIB
  •  Pontianak

RRI.CO.ID, Pontianak - Ketika sebagian besar penduduk kota masih terbuai dalam pekatnya mimpi, deru langkah kaki di atas tanah basah sudah mulai memecah kesunyian di hamparan perkebunan karet Kalimantan Barat. Berbekal lampu senter yang diikatkan di kepala, pisau toreh yang melengkung tajam, dan sebotol air minum, para penoreh getah melangkah pasti menembus embun subuh.

Bagi masyarakat di pedalaman dan seputaran daerah Kalimantan Barat, menoreh getah—atau yang sering disebut nderes—bukan sekadar pekerjaan musiman. Ini adalah urat nadi perekonomian, sebuah tradisi bertahan hidup yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Seni Mengiris Tanpa Menyakiti

Menoreh getah sepintas terlihat mudah, namun sebenarnya aktivitas ini memerlukan keahlian dan kepekaan yang tinggi. Di bawah temaram cahaya lampu senter, tangan-tangan terampil para petani dengan cekatan menyayat kulit pohon karet secara spiral.

"Mengiris kulit pohon ini tidak boleh terlalu dalam, tidak boleh juga terlalu tipis," ujar sapaan akrab para petani di kebun. Jika irisan terlalu dalam hingga mengenai kayu bagian dalam (cambium), pohon akan rusak dan tidak bisa menghasilkan getah lagi di masa depan.

Dari sayatan presisi itulah, cairan putih pekat serupa susu mulai menetes perlahan, mengalir menyusuri alur petak, dan jatuh ke dalam mangkuk penampung yang terbuat dari tempurung kelapa atau plastik. Setiap tetesan adalah simbol dari harapan baru untuk hari esok.

Berkejaran dengan Waktu dan Cuaca

Mengapa harus subuh? Secara ilmiah, tekanan turgor (tekanan air dalam sel tanaman) berada pada titik tertinggi saat dini hari hingga menjelang pagi, ketika suhu udara masih dingin. Pada waktu inilah pohon karet mengeluarkan getah paling banyak dan lancar. Begitu matahari mulai meninggi dan suhu memanas, getah akan lebih cepat membeku dan berhenti mengalir.

Tantangan terbesar para penoreh adalah cuaca. Ketika musim hujan tiba, aktivitas menoreh sering kali terhambat. Air hujan yang mengalir di batang pohon dapat menghanyutkan getah sebelum sempat masuk ke mangkuk penampung, atau membuat kualitas getah menjadi turun karena bercampur air.

Filosofi Ketangguhan dari Kebun Karet

Ada pelajaran hidup yang mendalam dari sebatang pohon karet dan sebilah pisau toreh. Pohon karet mengajarkan kita tentang arti memberi. Meski kulitnya harus diiris dan terluka setiap pagi, ia tetap memberikan cairan berharga yang menghidupi jutaan keluarga petani di Indonesia.

Sementara dari para penorehnya, kita belajar tentang konsistensi dan ketangguhan. Di tengah fluktuasi harga karet dunia yang terkadang tidak menentu, mereka tetap setia bangun sebelum fajar, menerobos dingin, dan mengayunkan pisau demi memastikan anak-anak mereka bisa mengenyam bangku pendidikan yang layak.

Dari setiap tetesan getah yang terkumpul di mangkuk-mangkuk kecil itu, ada cerita tentang keringat, doa, dan martabat hidup yang terus dirawat di bawah rimbunnya pohon-pohon karet Borneo.

Baca juga: Filosofi di Balik Tenangnya Bebek Berenang, Ada Pelajaran Hidup yang Mendalam

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....