4 Benda Jadul yang Selalu Bikin Kangen

  • 04 Jun 2026 11:17 WIB
  •  Pontianak

RRI.CO.ID,Pontianak - Memasuki rumah kakek atau nenek di kampung halaman sering kali terasa seperti melangkah masuk ke dalam mesin waktu. Tanpa perlu teknologi canggih, suasana hangat langsung menyergap ingatan lewat aroma kayu yang khas, detak jam dinding yang lambat, dan keberadaan benda-benda ikonik yang kini mulai langka.

Bagi generasi yang tumbuh di era 80-an hingga 90-an, perkakas rumah tangga zaman dulu bukan sekadar alat bantu aktivitas sehari-hari. Setiap goresan warna, penyok kecil di sudutnya, hingga tata letaknya menyimpan memori kolektif yang mendalam tentang kebersamaan keluarga yang bersahaja namun penuh kehangatan.

1. Kaleng Kerupuk Biru yang Legendaris.

Salah satu benda yang paling membekas dalam ingatan adalah kaleng kerupuk berbentuk kotak berwarna biru atau hijau tua dengan tutup bundar di bagian atasnya. Sisi depannya yang terbuat dari kaca transparan benar-benar menjadi magnet bagi anak-anak sepulang sekolah. Melihat isi kaleng yang penuh dengan kerupuk putih atau kerupuk mlarat (kerupuk upil) adalah kebahagiaan sederhana yang tiada taranya kala itu.

Benda ini tidak hanya berfungsi sebagai wadah agar kerupuk tetap renyah, melainkan juga simbol dapur Indonesia yang komunal. Menariknya, suara dentangan seng saat tutup kaleng dibuka dan ditutup memiliki melodi tersendiri yang sangat akrab di telinga—sebuah penanda bahwa waktu makan bersama keluarga telah tiba.

2. Lukisan Dinding Klasik dan Jam Dinding Kayu.

Beralih ke ruang tamu, estetika rumah jadul sangat dipengaruhi oleh pajangan dindingnya. Hampir tidak ada rumah zaman dulu yang melewatkan lukisan pemandangan legendaris—biasanya berupa dua gunung kembar dengan hamparan sawah di bawahnya serta matahari yang sedang terbit. Pilihan lainnya adalah kaligrafi beludru atau gambar satwa seperti harimau dan sembilan ikan koi yang dipercaya membawa keberuntungan.

Nuansa nostalgia ini semakin lengkap dengan kehadiran jam dinding kayu berukuran besar yang dilengkapi bandul kuningan di bawahnya. Setiap jam berganti, suara "dentang" yang berat dan bergema akan memenuhi seluruh penjuru rumah. Suara itu kini dirindukan sebagai pengingat waktu salat, penanda jam tidur, atau sekadar pengisi sunyinya malam di masa lalu.

3. Gelas Lurik Hijau dan Termos Seng.

Di meja makan atau ruang keluarga, obrolan sore hari selalu ditemani oleh segelas teh hangat yang disajikan dalam gelas enamel lurik berwarna hijau-putih. Pasangan sejatinya adalah termos air panas berbahan seng dengan motif bunga-bunga besar yang mencolok di bagian badannya.

Menggunakan gelas berbahan seng ini memberikan sensasi tersendiri; bibir gelas yang dingin perlahan menghangat seiring dengan tuangan air teh, menciptakan momen santai yang tidak bisa digantikan oleh cangkir keramik modern sekalipun. Benda-benda ini membuktikan bahwa kesederhanaan material justru mampu mengikat memori dengan sangat kuat.

4. Merawat Memori di Era Modern.

Di tengah gempuran desain rumah minimalis dan serba futuristik saat ini, benda-benda jadul tersebut kini memiliki nilai baru. Mereka bermutasi menjadi barang antik yang diburu para kolektor. Kehadirannya di sudut-sudut kafe modern atau sebagai aksen di rumah urban bukan sekadar untuk dekorasi gaya-gayaan, melainkan upaya manusia modern untuk tetap terhubung dengan akar masa lalunya.

Mengingat benda-benda rumah jadul ini sejatinya adalah merawat rasa rindu kita pada masa kecil sebuah masa di mana kehidupan bergerak lebih lambat, lebih tenang, dan penuh dengan interaksi nyata antarmanusia tanpa distraksi layar gawai yang tiada habisnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....