Ngopi Yuk, Wadah Dialog Penguatan Budaya sebagai Identitas

  • 14 Apr 2026 23:05 WIB
  •  Pontianak
Poin Utama
  • Dana Indonesia Raya
  • Sanggar Bougenville
  • Kebudayaan

RRI.CO.ID, Kubu Raya - Sanggar Bougenville Kalbar menggelar kegiatan "Ngopi Yuk"! sebagai ruang diskusi terbuka yang mengangkat gagasan dan opini terkait pergerakan budaya inklusif. Kegiatan ini diinisiasi untuk mendorong pemanfaatan Dana Indonesia Raya 2026 agar lebih berdampak luas dan berkelanjutan bagi masyarakat.

Perwakilan Sanggar Bougenville, Reno Winangun, menjelaskan bahwa Ngopi Yuk merupakan wadah dialog yang mempertemukan berbagai pemikiran tentang penguatan budaya sebagai identitas bangsa. Menurutnya, program Dana Indonesia Raya yang sebelumnya dikenal sebagai Dana Indonesiana, perlu dimaksimalkan tidak hanya untuk penerima manfaat secara langsung, tetapi juga memberi dampak jangka panjang.

“Program ini kita diskusikan supaya tidak hanya dimanfaatkan oleh penerima bantuan, tetapi juga memiliki dampak berkelanjutan bagi masyarakat serta mampu mengembalikan kebudayaan sebagai identitas bangsa,” ujar Reno, di Weng Coffee, Minggu, 12 April 2026.

Ia menambahkan, Dana Indonesia Raya diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat luas serta bisa diakses oleh individu, tidak terbatas pada organisasi tertentu. Dengan demikian, siapa pun yang memiliki ide atau keresahan terkait budaya dapat ikut berpartisipasi.

“Siapapun bisa mengakses, baik perorangan maupun kelompok, terutama yang memiliki perhatian terhadap isu budaya, termasuk di Kalimantan Barat saat ini,” imbuh Reno.

Selain itu, dana tersebut disebut sebagai dana abadi yang diharapkan dapat terus mendukung pengembangan kebudayaan secara berkelanjutan di masa depan.

Reno menyampaikan harapannya agar program-program budaya yang dijalankan dapat memperhatikan aspek keberlanjutan, terutama dalam hal regenerasi kepada generasi muda.

“Saya berharap apa yang dikerjakan para pelaku seni benar-benar memperhatikan bagaimana budaya ini bisa diteruskan, khususnya kepada anak-anak muda dan pelajar,” ungkapnya.

Ia juga menyoroti masih adanya ketidaksesuaian dalam penerapan muatan lokal di sejumlah daerah. Menurutnya, terdapat kasus di mana materi muatan lokal justru tidak berkaitan dengan budaya setempat.

“Ada cerita dari sebuah daerah, muatan lokal yang diajarkan justru tidak ada hubungannya dengan budaya lokal. Ini tentu menjadi perhatian bersama,” ungkapnya lagi.

Karena itu, ia mendorong para seniman, khususnya di perkotaan, untuk lebih peduli terhadap pelestarian budaya lokal di wilayah perbatasan dan daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).

Kegiatan diskusi tersebut diharapkannya, menjadi langkah awal dalam memperkuat kolaborasi berbagai pihak guna menjaga dan mengembangkan kebudayaan Indonesia secara inklusif dan berkelanjutan.

Baca juga: Dana Indonesia Raya 2026 Dukung Ekonomi Budaya Daerah

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....