Pengkang Galang: Gurihnya Ketan Bakar Ikonik Kebanggaan Kalimantan Barat

  • 13 Apr 2026 08:31 WIB
  •  Pontianak

RRI.CO.ID, Pontianak - Jika Anda melintasi jalur trans-Kalimantan menuju arah Singkawang, aroma harum daun pisang yang terbakar pasti akan menggoda indera penciuman saat memasuki kawasan Peniti, Kabupaten Mempawah. Aroma itu berasal dari Pengkang, kuliner tradisional khas pesisir Kalimantan Barat yang hingga kini masih menjadi primadona wisatawan.

Pengkang bukanlah sekadar penganan pengganjal perut. Bagi masyarakat setempat, kuliner ini adalah simbol ketekunan dan warisan turun-temurun. Terbuat dari beras ketan berkualitas yang diisi dengan ebi (udang kering), kemudian dibungkus daun pisang berbentuk kerucut yang dijepit dengan bambu, atau yang akrab disebut "pengapit".

Cita Rasa Otentik dari Tungku Arang

Keunikan utama Pengkang terletak pada proses pengolahannya. Setelah dikukus setengah matang, bungkusan ketan ini dibakar di atas bara api arang yang membara. Proses pembakaran inilah yang memberikan aroma smoky yang khas dan tekstur ketan yang garing di luar namun tetap lembut di dalam.

Satu hal yang tak boleh terlewatkan saat menyantap Pengkang adalah pendampingnya: Sambal Kepah. Kepah adalah sejenis kerang yang banyak ditemukan di hutan bakau pesisir Kalimantan Barat. Perpaduan antara gurihnya ketan ebi dengan pedas-manisnya sambal kepah menciptakan harmoni rasa yang sulit dilupakan.

Lebih dari Sekadar Kuliner

Selain rasanya yang melegenda, Pengkang juga menjadi urat nadi ekonomi bagi warga di sepanjang pesisir Mempawah. Warung-warung Pengkang yang berjejer rapi menjadi tempat persinggahan favorit, baik bagi warga lokal maupun pelancong mancanegara yang ingin merasakan sensasi kuliner otentik.

"Belum ke Kalimantan Barat rasanya kalau belum singgah makan Pengkang,Hal ini membuktikan bahwa kuliner tradisional mampu menjadi magnet pariwisata yang kuat bagi daerah.

Menjaga Warisan Lewat Rasa

Di tengah gempuran makanan kekinian yang serba instan, Pengkang tetap bertahan dengan cara pengolahan yang masih sangat tradisional. Tidak ada mesin otomatis; setiap jepit bambu dan bungkus daun pisang dikerjakan dengan tangan-tangan terampil yang menjaga konsistensi rasa selama puluhan tahun.

Bagi Anda yang sedang merencanakan perjalanan di akhir pekan, mencicipi sepiring Pengkang panas sambil menikmati semilir angin pesisir bisa menjadi pilihan terbaik untuk merayakan kekayaan kuliner Nusantara.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....