Hari Pertama Kerja dan Halalbihalal

  • 29 Mar 2026 13:23 WIB
  •  Pontianak

RRI.CO.ID, Pontianak - Pagi pertama masuk kerja setelah Idulfitri 1447 Hijriah terasa berbeda. Udara masih menyisakan suasana Lebaran, dan wajah-wajah di kantor tampak lebih cerah dari biasanya. Rafi melangkah masuk ke kantor dengan rapi. Meski dompetnya masih terasa “ringan” pasca Lebaran, semangatnya justru terasa penuh. Di lobi kantor, sudah terdengar suara tawa dan salam yang saling bersahutan.

“Assalamualaikum, Rafi! Selamat Idulfitri!” sapa Budi, rekan kerjanya, sambil menjabat tangan.

“Waalaikumsalam, Bud. Mohon maaf lahir dan batin,” jawab Rafi sambil tersenyum.

Mereka berjalan bersama menuju ruang kerja, yang hari itu tampak sedikit berbeda. Meja-meja dirapikan, dan di tengah ruangan sudah tersedia aneka hidangan ringan untuk acara halalbihalal.

“Wah, lengkap juga ya,” kata Rafi.

Budi tertawa kecil. “Ini momen yang ditunggu-tunggu. Tapi jujur saja, aku lebih penasaran cerita mudikmu. Katanya tahun ini penuh drama karena BBM langka?”

Rafi mengangguk sambil duduk. “Betul sekali. Bahkan sempat hampir tidak jadi pulang.”

“Serius?” tanya Sinta yang tiba-tiba bergabung.

Rafi tersenyum, lalu mulai bercerita, sementara beberapa rekan lain ikut mendekat.

“Di perjalanan, BBM benar-benar sulit didapat. Kami hampir kehabisan di tengah jalan. Bayangkan saja, mobil harus didorong bersama-sama menuju SPBU yang jaraknya cukup jauh.”

“Wah, seperti film saja,” ujar Sinta.

“Capek pasti,” timpal Budi.

“Capek, tapi juga berkesan,” jawab Rafi. “Karena di situ terasa sekali kebersamaan. Semua penumpang saling bantu.”

Seorang rekan lain, Andi, ikut menyela, “Kalau aku malah batal mudik. Tidak berani ambil risiko karena BBM.”

“Banyak yang begitu,” jawab Rafi. “Makanya aku bersyukur masih bisa sampai rumah, walau dengan perjuangan.”

Tak lama kemudian, atasan mereka, Pak Arman, masuk ke ruangan.

“Baik, teman-teman,” ucapnya dengan suara hangat. “Sebelum kita kembali ke rutinitas, mari kita manfaatkan momen ini untuk saling memaafkan.”

Semua berdiri dan membentuk barisan. Satu per satu saling berjabat tangan.

“Mohon maaf lahir dan batin,” ucap Rafi kepada rekan-rekannya.

“Maaf juga ya kalau selama ini ada salah,” jawab Budi.

Suasana haru bercampur hangat terasa di ruangan itu. Beberapa bahkan saling berpelukan.

Setelah sesi halalbihalal selesai, mereka kembali duduk santai sambil menikmati hidangan.

Sinta tersenyum ke arah Rafi. “Setelah semua cerita itu, bagaimana rasanya kembali kerja hari ini?”

Rafi menatap sekeliling wajah-wajah yang kini terasa lebih dekat dan suasana yang penuh kehangatan.

“Rasanya seperti memulai dari awal lagi,” jawabnya. “Lebaran bukan cuma tentang libur, tapi juga tentang memperbaiki diri dan hubungan.”

Budi mengangguk. “Dan juga… memperbaiki kondisi dompet,” katanya sambil tertawa.

Semua ikut tertawa.

Rafi pun tersenyum. “Betul. Tapi yang paling penting, semangatnya sudah kembali.”

Pak Arman menambahkan, “Ingat, setelah kita saling memaafkan, saatnya kita bekerja lebih baik lagi. Jadikan semangat Idulfitri sebagai energi baru.”

Rafi mengangguk mantap. “Siap, Pak.”

Hari itu, pekerjaan mungkin belum berjalan sepenuhnya normal. Namun suasana kebersamaan dan keikhlasan yang terbangun dari halalbihalal membuat segalanya terasa lebih ringan.

Di akhir hari, Rafi menyadari bahwa kembali bekerja setelah Idulfitri bukanlah beban, melainkan awal baru dengan hati yang bersih, hubungan yang diperbaiki, dan semangat yang diperbarui.

Baca juga: Dompet Kosong, Pasca Idulfitri 1447 H

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....