Dompet Kosong, Pasca Idulfitri 1447 H
- 29 Mar 2026 13:06 WIB
- Pontianak
RRI.CO.ID, Pontianak - Suasana ruang keluarga masih dipenuhi kehangatan Idulfitri 1447 Hijriah. Piring kue kering tersisa setengah, gelas sirup berjejer di meja, dan tawa keluarga sesekali pecah di antara obrolan ringan. Rafi duduk bersandar di kursi, memegang dompetnya yang tampak kempis. Ia membukanya perlahan, lalu menghela napas panjang.
“Kenapa, Bang? Kok wajahnya seperti habis kehilangan sesuatu?” tanya Lina sambil menggigit nastar.
Rafi tersenyum tipis. “Bukan kehilangan, Lin… tapi memang sudah tidak ada.”
“Apa maksudnya?” Lina mengernyit.
Ibu yang sedang merapikan meja ikut menoleh. “Apa yang tidak ada, Nak?”
Rafi mengangkat dompetnya. “Ini, Bu… isinya sudah kosong.”
Lina langsung tertawa kecil. “Wah, efek Lebaran ya, Bang?”
Ayah yang duduk di sudut ruangan ikut tersenyum. “Coba ceritakan, ke mana saja perginya uang itu?”
Rafi menarik napas, lalu mulai bercerita.
“Awalnya biasa saja, Yah. Tapi begitu mau mudik, harga tiket naik. Lalu di jalan, karena BBM langka, ongkos travel juga ikut naik. Belum lagi harus beli makan di perjalanan yang harganya tidak seperti biasa.”
Ibu mengangguk pelan. “Iya, memang semua jadi serba mahal.”
Rafi melanjutkan, “Sampai di kampung, aku juga tidak enak kalau tidak berbagi. Ada keponakan, tetangga kecil, semua minta THR.”
Lina tertawa. “Pasti Bang Rafi jadi favorit anak-anak ya!”
“Favorit… tapi dompet jadi korban,” jawab Rafi sambil tersenyum pahit.
Semua tertawa kecil.
“Terus, sekarang benar-benar habis?” tanya Ayah.
Rafi membuka dompetnya lebar-lebar. “Coba lihat sendiri, Yah. Tinggal kartu dan struk belanja.”
Ibu mendekat, lalu tersenyum lembut. “Tidak apa-apa, Nak. Yang penting kau sudah berbagi dan sampai di rumah dengan selamat.”
Rafi menunduk sejenak. “Iya, Bu. Tapi jujur saja, agak khawatir juga memulai kerja nanti dengan kondisi seperti ini.”
Ayah lalu berkata dengan tenang, “Dompet boleh kosong, tapi semangat jangan sampai kosong.”
Rafi menatap Ayahnya. “Maksudnya, Yah?”
“Rezeki itu tidak hanya soal uang yang ada sekarang,” lanjut Ayah. “Yang penting kau punya niat, usaha, dan semangat untuk kembali bekerja. Setelah Lebaran, saatnya bangkit lagi.”
Lina ikut menimpali, “Betul, Bang. Anggap saja ini ‘reset’ keuangan. Mulai lagi dari nol!”
Rafi tertawa kecil. “Reset ya… boleh juga.”
Ibu kemudian menyodorkan sepiring kue. “Makan dulu. Jangan dipikirkan terlalu berat. Semua orang juga merasakan hal yang sama setelah Lebaran.”
Rafi mengangguk. “Benar juga, Bu. Ternyata bukan cuma saya yang ‘tipis’ setelah Idulfitri.”
Ayah tersenyum. “Justru dari kondisi seperti ini, kita belajar mengatur keuangan lebih baik ke depannya.”
Rafi menutup dompetnya, lalu menarik napas dalam-dalam. “Baiklah. Dompet boleh kosong hari ini, tapi besok harus mulai diisi lagi.”
Lina mengangkat gelasnya. “Untuk semangat baru pasca Lebaran!”
“Untuk semangat baru,” sahut mereka bersama.
Di tengah tawa sederhana itu, Rafi menyadari bahwa Idulfitri bukan hanya tentang memberi dan merayakan, tetapi juga tentang belajar tentang keikhlasan, kebersamaan, dan memulai kembali dengan hati yang lebih kuat, meski dompet sedang kosong.
Baca juga: Kisah Lebaran Idulfitri 1447 H
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....