Kisah Lebaran Idulfitri 1447 H

  • 29 Mar 2026 11:37 WIB
  •  Pontianak

RRI.CO.ID, Pontianak - Suasana rumah Rafi terasa hangat di hari pertama Idulfitri 1447 Hijriah. Aroma opor ayam dan ketupat masih memenuhi udara. Tawa kecil terdengar dari ruang keluarga, tempat semua anggota keluarga berkumpul setelah salat Id. Rafi duduk bersila di lantai, ditemani segelas teh hangat. Wajahnya masih terlihat lelah, namun senyumnya tak pernah lepas. Di depannya, Ibu, Ayah, dan adiknya, Lina, menatap penuh rasa ingin tahu.

“Ibu sudah dengar di berita, katanya perjalanan mudik tahun ini sulit karena BBM langka. Kau tidak apa-apa, Nak?” tanya Ibu dengan nada cemas.

Rafi menghela napas, lalu tersenyum tipis. “Perjalanannya memang berat, Bu. Bahkan sempat terpikir tidak jadi pulang.”

“Loh, kenapa bisa begitu, Bang?” Lina mendekat, matanya membesar.

Rafi mulai bercerita, sementara semua orang menyimak dengan saksama.

“Waktu itu di terminal, antrean panjang sekali. Banyak kendaraan tidak berangkat karena takut kehabisan BBM. Aku sempat ragu,” ujar Rafi.

Ayah mengangguk pelan. “Lalu bagaimana kau bisa sampai di sini?”

“Akhirnya aku nekat ikut travel, Yah. Tapi di tengah jalan, BBM kami hampir habis. Kami semua panik.”

Ibu menutup mulutnya. “Astaga… terus?”

Rafi tersenyum kecil, mengenang momen itu. “Kami berhenti di pinggir jalan. Sopir bilang SPBU masih dua kilometer lagi, tapi antreannya panjang. Tidak ada pilihan lain.”

Lina langsung menyela, “Jangan bilang mobilnya mogok, Bang?”

“Iya,” jawab Rafi sambil tertawa pelan. “Hampir saja. Akhirnya, kami semua turun dan mendorong mobil bersama-sama.”

“Masyaallah…” gumam Ibu.

Ayah tersenyum bangga. “Itu namanya perjuangan. Tidak semua orang mau melakukan itu.”

Rafi mengangguk. “Awalnya terasa berat, Yah. Panas, lelah, dan sempat putus asa. Tapi karena kami saling menyemangati, rasanya jadi ringan. Bahkan kami sempat bercanda di tengah jalan.”

Lina ikut tersenyum. “Seru juga ya, Bang, walau capek.”

“Benar,” jawab Rafi. “Ada seorang ibu yang bilang, perjalanan pulang itu bukan hanya soal sampai tujuan, tapi tentang kebersamaan.”

Suasana ruang keluarga menjadi hening sejenak. Kata-kata itu seakan meresap ke dalam hati masing-masing.

Ibu lalu menggenggam tangan Rafi. “Ibu bersyukur kau tetap pulang. Betapa pun sulitnya, rumah ini selalu menunggumu.”

Rafi menatap ibunya dengan mata berkaca-kaca. “Itu yang membuatku kuat, Bu. Ingatan tentang rumah dan keluarga.”

Ayah menepuk bahu Rafi. “Setiap kesulitan pasti ada hikmahnya. Mungkin ini cara Tuhan mengajarkan arti sabar dan syukur.”

Rafi tersenyum. “Iya, Yah. Lebaran tahun ini terasa lebih bermakna.”

Lina berdiri sambil tersenyum ceria. “Yang penting sekarang, Bang sudah sampai. Ayo kita makan lagi! Opor Ibu masih banyak!”

Semua tertawa. Suasana hangat kembali memenuhi ruang keluarga.

Di tengah kebersamaan itu, Rafi menyadari bahwa segala lelah dan perjuangan di perjalanan telah terbayar lunas. Karena pada akhirnya, rumah bukan hanya tempat untuk pulang, tetapi juga tempat untuk berbagi cerita, tawa, dan cinta yang tak pernah habis.

Baca juga: Pantun Penyemangat Masuk Kerja Pasca Idulfitri 1447 H

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....