Balai Bahasa Kalbar Dorong Budaya Literasi Generasi Muda
- 15 Mar 2026 05:51 WIB
- Pontianak
RRI.CO.ID, Pontianak – Upaya meningkatkan budaya literasi di Kalimantan Barat (Kalbar) terus digalakkan oleh berbagai pihak, salah satunya Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar). Melalui berbagai program dan kegiatan edukasi, lembaga ini mendorong generasi muda untuk lebih aktif membaca, menulis, dan memahami bahasa sebagai bagian penting dari kehidupan masyarakat.
Dalam program Insightment di RRI Pro2 Pontianak, Jumat, 13 Maret 2026, perwakilan Balai Bahasa Kalbar, Prima Duantika menjelaskan bahwa literasi memiliki makna yang jauh lebih luas daripada sekadar kemampuan membaca dan menulis. “Literasi itu sebetulnya cukup luas. Pada intinya adalah kemampuan kita memahami lingkungan sekitar, tidak hanya sekadar membaca dan menulis, tetapi juga mencakup berbagai jenis literasi seperti literasi budaya, finansial, dan lainnya,” ujar Prima.
Menurutnya, kondisi literasi masyarakat di Kalbar saat ini menunjukkan perkembangan meskipun masih membutuhkan penguatan di berbagai sektor. “Gambaran umumnya bisa dilihat dari Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat. Kalimantan Barat saat ini berada di peringkat sembilan, artinya sudah ada perkembangan tetapi masih perlu peningkatan,” ujarnya.
Prima juga menekankan pentingnya peran bahasa daerah dalam memperkuat literasi kebahasaan di masyarakat. Kalbar sendiri dikenal memiliki keragaman bahasa daerah yang berasal dari berbagai etnis seperti Melayu, Dayak, Tionghoa, hingga Madura.
“Bahasa daerah memiliki peranan penting sebagai bahasa ibu dalam proses literasi awal. Sebagian besar masyarakat menggunakan bahasa daerah sebagai bahasa pertama dalam kehidupan sehari-hari,” katanya.
Selain itu, bahasa daerah juga menjadi sumber bahan bacaan yang kontekstual karena dekat dengan kehidupan masyarakat, misalnya melalui cerita rakyat, legenda, hingga pantun yang sering digunakan dalam kegiatan adat maupun sosial. Di sisi lain, ia juga menyoroti berbagai tantangan yang dihadapi dalam meningkatkan minat membaca dan menulis di kalangan generasi muda, salah satunya pengaruh teknologi dan media sosial.
“Generasi muda saat ini cenderung lebih tertarik pada konten visual seperti video atau gambar di media sosial dibandingkan membaca buku,” ucapnya.
Meski demikian, ia menilai media sosial tidak selalu berdampak negatif terhadap literasi. Jika dimanfaatkan dengan bijak, platform digital justru dapat menjadi sarana efektif untuk memperluas akses informasi dan bahan bacaan.
“Media sosial memiliki dua sisi. Di satu sisi bisa menjadi peluang untuk meningkatkan literasi karena akses informasi semakin luas, tetapi di sisi lain juga bisa menjadi tantangan jika tidak digunakan secara bijak,” katanya, menambahkan.
Lebih lanjut, Prima menegaskan bahwa sekolah dan perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam membangun budaya literasi sejak dini. Lingkungan pendidikan menjadi tempat penting bagi generasi muda untuk membiasakan diri membaca, menulis, dan berpikir kritis. “Sekolah dan perguruan tinggi adalah lingkungan yang sangat strategis untuk menumbuhkan budaya literasi, mulai dari kebiasaan membaca hingga kegiatan diskusi dan penulisan,” ujarnya.
Balai Bahasa Kalbar sendiri terus melakukan berbagai program literasi di kabupaten dan kota, termasuk memberikan pelatihan, pendampingan komunitas literasi, hingga bantuan buku bacaan bagi masyarakat. Di akhir dialog, Prima mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan penggunaan bahasa Indonesia dan pelestarian bahasa daerah di tengah perkembangan zaman.
“Kita harus mengutamakan bahasa Indonesia, melestarikan bahasa daerah, dan juga menguasai bahasa asing,” katanya, menegaskan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....