Pepatah Lama: Habis Manis Sepah Dibuang
- 02 Mar 2026 13:12 WIB
- Pontianak
RRI.CO.ID, Pontianak - Pada suatu masa, di sebuah kampung kecil di tepian sungai yang luas dan tenang, hiduplah seorang pemuda bernama Raka. Ia dikenal sebagai anak yang rajin, jujur, dan ringan tangan membantu siapa saja. Sejak ayahnya meninggal, Raka hidup berdua dengan ibunya yang sudah renta.
Setiap pagi, Raka pergi ke hutan mencari rotan dan kayu, lalu menjualnya ke pasar kampung. Hasilnya memang tidak seberapa, tetapi cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Suatu hari, datanglah seorang saudagar kaya dari kota bernama Tuan Satria. Ia membuka usaha pengolahan rotan dan membutuhkan banyak pekerja. Melihat ketekunan Raka, ia berkata, “Jika kau mau bekerja denganku, aku akan memberimu upah lebih baik daripada hasilmu di hutan.”
Raka menerima tawaran itu dengan penuh harapan. Sejak hari itu, ia bekerja dengan sungguh-sungguh. Ia datang paling pagi, pulang paling akhir, dan selalu memastikan pekerjaan selesai dengan rapi.
| Baca juga: Pepatah Lama: Ada Udang di Balik Batu |
Berkat kerja keras Raka, usaha Tuan Satria berkembang pesat. Pesanan datang dari berbagai daerah. Gudang yang dulu sepi kini penuh dengan barang siap kirim. Tuan Satria pun semakin dikenal sebagai saudagar sukses.
Namun, kesuksesan seringkali mengubah hati manusia. Beberapa bulan kemudian, ketika usaha sudah berjalan lancar dan keuntungan semakin besar, Tuan Satria mulai merasa tidak lagi membutuhkan para pekerja lama.
Suatu pagi, ia mengumpulkan para pekerjanya. “Mulai bulan depan, aku akan mengganti pekerja dengan tenaga dari kota. Mereka lebih terampil dan cepat. Kalian tidak perlu bekerja lagi di sini.”
Para pekerja terdiam. Raka memberanikan diri bertanya, “Tuan, kami yang membangun usaha ini sejak awal. Apakah tidak ada tempat lagi untuk kami?”
| Baca juga: Pepatah Lama: Ada Udang di Balik Batu |
Tuan Satria menjawab dingin, “Usaha ini milikku. Aku berhak memilih siapa yang bekerja.”
Tanpa pesangon, tanpa ucapan terima kasih, para pekerja pun diberhentikan. Raka pulang dengan langkah berat. Ibunya hanya menepuk bahunya dan berkata lembut,
“Anakku, tidak semua kebaikan dibalas dengan kebaikan. Tapi jangan pernah berhenti menjadi orang baik.”
Raka kembali ke hutan seperti dulu. Ia bekerja lebih giat dari sebelumnya. Kali ini, ia mencoba membuat kerajinan rotan sendiri. Awalnya sulit, namun ia terus belajar dan memperbaiki hasilnya.
Beberapa pedagang mulai tertarik dengan buatannya. Lama-kelamaan, kerajinan Raka dikenal karena kuat dan indah. Usahanya pun berkembang. Ia mempekerjakan beberapa tetangganya yang membutuhkan pekerjaan.
Berbeda dengan Tuan Satria, Raka selalu memperlakukan pekerjanya dengan baik. Ia tidak pernah melupakan masa sulit yang pernah ia alami. Sementara itu, usaha Tuan Satria mulai merosot. Pekerja dari kota tidak setia dan sering berpindah-pindah. Kualitas barang menurun, pelanggan pun berkurang. Hingga akhirnya, gudangnya kembali sepi.
Suatu hari, Tuan Satria datang ke bengkel kerja Raka. Dengan wajah menunduk, ia berkata, “Raka, dulu aku telah berlaku tidak adil padamu. Kini usahaku hampir bangkrut. Maukah kau membantuku bekerja di sini?”
Raka terdiam sejenak, lalu menjawab dengan tenang, “Setiap orang pernah melakukan kesalahan, Tuan. Tapi di tempat ini, kami bekerja sebagai keluarga. Jika Tuan mau belajar dan bekerja bersama kami, pintu ini terbuka.”
Sejak saat itu, Tuan Satria bekerja bersama para pekerja lain. Ia belajar tentang arti menghargai orang yang telah berjasa.
Baca juga: Pepatah Lama: Guru Kencing Berdiri, Murid Kencing Berlari
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....