Pepatah Lama: Guru Kencing Berdiri, Murid Kencing Berlari

  • 01 Mar 2026 18:44 WIB
  •  Pontianak

RRI.CO.ID, Pontianak - Dahulu kala, di sebuah kampung yang tenang di tepi sungai, hiduplah masyarakat yang menjunjung tinggi adat dan sopan santun. Di kampung itu berdiri sebuah surau kecil yang menjadi tempat anak-anak belajar mengaji dan menuntut ilmu. Surau itu dipimpin oleh seorang guru bernama Pak Rahman.

Pak Rahman dikenal sebagai orang yang pandai dan fasih berbicara. Banyak orang tua mempercayakan anak-anak mereka untuk belajar kepadanya. Setiap sore, suara bacaan dan tawa anak-anak terdengar dari surau, menandakan ilmu terus mengalir di tempat itu.

Namun, ada satu kebiasaan buruk Pak Rahman yang tidak banyak disadari. Ia sering menasihati murid-muridnya tentang kejujuran, kedisiplinan, dan menjaga kebersihan, tetapi dalam kesehariannya, ia sendiri kerap mengabaikan hal-hal kecil yang sebenarnya penting. Suatu hari, Pak Rahman menegur murid-muridnya karena datang terlambat.

“Orang yang terlambat adalah orang yang tidak menghargai waktu,” katanya dengan suara tegas.

Anak-anak mengangguk takut. Tetapi pada hari berikutnya, justru Pak Rahman yang datang paling akhir. Hal itu terus berulang. Murid-murid mulai memperhatikan. Bukan hanya soal waktu. Pak Rahman juga sering melarang anak-anak membuang sampah sembarangan, tetapi diam-diam ia sendiri kerap meninggalkan sisa bungkus makanan di halaman surau. Ia melarang murid-murid berkata kasar, namun sesekali ia sendiri memarahi mereka dengan kata-kata yang kurang baik.

Perlahan-lahan, kebiasaan buruk itu mulai mereka ikuti. Jika guru datang terlambat, mereka pun merasa tidak apa-apa datang lebih lambat. Jika guru kadang membuang sampah sembarangan, mereka melakukannya tanpa rasa bersalah. Jika guru sesekali berkata kasar, mereka bahkan mengucapkannya lebih sering.

Surau yang dulu bersih mulai kotor. Disiplin anak-anak semakin menurun. Mereka sering saling mengejek, datang seenaknya, bahkan ada yang berani membantah. Pak Rahman mulai merasa heran dan kesal.

“Kenapa kalian jadi malas dan tidak sopan begini?” tegurnya suatu sore.

Anak-anak terdiam. Hingga seorang murid bernama Hasan dengan suara pelan berkata,

“Guru… kami hanya mengikuti apa yang kami lihat.”

Kata-kata itu menampar hati Pak Rahman. Ia teringat semua kebiasaannya yang selama ini dianggap sepele. Tak lama kemudian, seorang tetua kampung yang mendengar keadaan itu datang menasihatinya.

“Pak Rahman,” kata sang tetua dengan bijak, “ingatlah pepatah lama: Guru kencing berdiri, murid kencing berlari. Jika yang memberi contoh melakukan sedikit kesalahan, yang meniru bisa melakukan kesalahan yang lebih besar.”

Pak Rahman tertunduk malu. Ia sadar bahwa selama ini ia hanya pandai berbicara, tetapi lalai memberi teladan. Sejak hari itu, ia berubah. Ia datang lebih awal sebelum murid-muridnya. Ia membersihkan halaman surau setiap pagi. Ia berbicara dengan lembut dan menjaga sikapnya di hadapan anak-anak.

Perubahan itu perlahan diikuti oleh murid-muridnya. Mereka kembali disiplin, menjaga kebersihan, dan saling menghormati. Surau kembali hidup dengan suasana belajar yang hangat dan tertib.

Baca juga: Pepatah Lama: Gajah Mati Meninggalkan Gading, Harimau Mati Meninggalkan Belang

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....