Pepatah Lama: Dimana Bumi Dipijak di Situ Langit Dijunjung
- 24 Feb 2026 04:19 WIB
- Pontianak
RRI.CO.ID, Pontianak - Di sebuah desa kecil di tepian sungai yang jernih, hiduplah seorang pemuda bernama Raka. Ia dikenal sebagai anak yang rajin dan sopan, namun hatinya dipenuhi rasa ingin tahu tentang dunia di luar kampung halamannya. Sejak kecil, Raka sering mendengar cerita tentang negeri-negeri jauh yang penduduknya memiliki kebiasaan dan adat yang berbeda.
Suatu hari, setelah berpamitan kepada kedua orang tuanya, Raka merantau untuk mencari pengalaman dan penghidupan yang lebih baik. Perjalanannya panjang dan melelahkan. Ia melewati hutan lebat, menyeberangi sungai, hingga akhirnya tiba di sebuah negeri yang ramai dan makmur. Negeri itu dipimpin oleh seorang kepala adat yang sangat dihormati, karena masyarakatnya hidup tertib dan menjunjung tinggi aturan yang telah diwariskan leluhur.
Namun, Raka yang datang dari tempat berbeda merasa kebiasaan di negeri itu aneh. Ia terbiasa berbicara dengan suara keras, berjalan tanpa memberi salam, dan makan tanpa mengikuti tata cara yang berlaku di sana.
Pada hari pertama bekerja di ladang milik penduduk setempat, Raka berbicara sembarangan dan menolak mengikuti aturan waktu istirahat. Beberapa warga mulai merasa tidak nyaman. Mereka menganggap Raka tidak menghargai adat dan kebiasaan di negeri mereka.
Kabar tentang sikap Raka akhirnya sampai kepada kepala adat. Ia tidak memarahi Raka, melainkan mengundangnya untuk datang ke rumahnya. Dengan suara lembut, kepala adat berkata.
“Anak muda, setiap tempat memiliki bumi yang berbeda, dan di atasnya terbentang langit dengan aturan yang harus dijunjung. Jika engkau ingin hidup tenteram di sini, hormatilah kebiasaan yang berlaku. Bukan berarti engkau harus melupakan asalmu, tetapi belajarlah menyesuaikan diri."
Kata-kata itu menancap dalam hati Raka. Ia teringat pesan ibunya sebelum berangkat merantau, “Jadilah orang yang tahu diri dan tahu tempat.”
Sejak saat itu, Raka mulai berubah. Ia belajar memberi salam ketika bertemu warga, mengikuti aturan kerja, dan menghormati adat setempat. Lambat laun, masyarakat mulai menerimanya. Ia bahkan menjadi salah satu pekerja yang dipercaya karena kerajinan dan sikap hormatnya.
Tahun demi tahun berlalu. Raka tidak hanya mendapatkan penghidupan yang layak, tetapi juga keluarga baru di negeri rantau itu. Ketika suatu hari ia pulang ke kampung halamannya, ia membawa bukan hanya hasil kerja keras, tetapi juga pelajaran hidup yang berharga. Di hadapan pemuda-pemuda desa, Raka berkata.
“Ke mana pun kita pergi, ingatlah satu hal: di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Hormati tempat kita berada, maka tempat itu akan menerima kita dengan lapang.”
Sejak saat itu, kisah Raka sering diceritakan turun-temurun sebagai pengingat bahwa kebijaksanaan bukan hanya tentang seberapa jauh seseorang pergi, tetapi tentang kemampuannya menghargai perbedaan dan hidup selaras dengan lingkungan di mana ia berada.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....