Pepatah Lama: Berat Sama Dipikul, Ringan Sama-Sama Dijinjing
- 23 Feb 2026 21:55 WIB
- Pontianak
RRI.CO.ID, Pontianak - Dahulu kala, di sebuah kampung kecil yang terletak di bawah perbukitan, hiduplah masyarakat yang sederhana dan saling mengenal satu sama lain. Kampung itu bernama Kampung Rantau Sejahtera. Tanahnya subur, sungainya jernih, dan hutan di sekitarnya menjadi sumber kehidupan bagi penduduk.
Namun yang membuat kampung itu istimewa bukanlah alamnya, melainkan kebiasaan warganya yang selalu hidup dalam kebersamaan. Di kampung itu hiduplah seorang janda tua bernama Mak Suri. Ia tinggal seorang diri di rumah kayu yang sudah lapuk dimakan usia. Untuk bertahan hidup, Mak Suri menanam sayur di pekarangan kecil dan sesekali menjual hasilnya ke pasar.
Suatu hari, hujan deras turun tanpa henti selama beberapa hari. Sungai yang biasanya tenang berubah keruh dan meluap. Air perlahan masuk ke rumah-rumah warga. Sebagian penduduk panik, terutama mereka yang tinggal di bagian paling rendah, termasuk Mak Suri. Ketika air mulai setinggi lutut, Mak Suri hanya bisa duduk di sudut rumahnya. Tenaganya sudah tidak kuat untuk menyelamatkan barang-barangnya sendiri.
“Ya Tuhan… bagaimana nasibku ini,” gumamnya lirih.
| Baca juga: Kisah Lebaran Idulfitri 1447 H |
Tak lama kemudian, terdengar suara ramai dari luar.
“Mak Suri! Kami datang membantu!” teriak Pak Leman, kepala kampung.
Beberapa pemuda segera masuk ke rumah. Mereka mengangkat lemari, kasur, dan peralatan dapur ke tempat yang lebih tinggi. Para ibu membantu mengemas pakaian dan bahan makanan. Di luar, warga lain membuat tanggul darurat dari karung pasir. Anak-anak membawa ember, sementara para lelaki bekerja tanpa henti menahan arus air.
Tidak ada yang bekerja untuk dirinya sendiri. Semua bergerak untuk kepentingan bersama. Hingga larut malam, mereka terus berjibaku. Kelelahan terlihat di wajah mereka, namun tak seorang pun mengeluh.
| Baca juga: Pepatah Lama: Habis Manis Sepah Dibuang |
Keesokan harinya, hujan mulai reda. Air perlahan surut. Rumah-rumah memang basah dan sebagian rusak, tetapi tidak ada satu pun warga yang kehilangan tempat tinggal sepenuhnya. Beberapa hari kemudian, warga kembali berkumpul di balai kampung.
“Rumah Mak Suri paling parah kerusakannya,” kata Pak Leman.
“Kita perbaiki bersama. Yang punya kayu bawa kayu, yang punya tenaga bantu bekerja.”
Tanpa menunggu lama, seluruh warga bergerak. Ada yang menyumbang bahan, ada yang memasak untuk para pekerja, dan para pemuda memperbaiki rumah itu hingga kembali kokoh. Melihat rumahnya berdiri kembali, Mak Suri menitikkan air mata.
“Mak tidak punya apa-apa untuk membalas kebaikan kalian,” katanya haru.
Pak Leman tersenyum.
“Di kampung ini, tidak ada yang menanggung beban sendirian, Mak. Berat sama kita pikul, ringan sama kita jinjing.” kata Pak Leman.
Sejak saat itu, peristiwa banjir menjadi cerita yang selalu dikenang oleh warga Kampung Rantau Sejahtera. Mereka semakin yakin bahwa kebersamaan adalah kekuatan terbesar yang mereka miliki. Dan hingga kini, orang-orang tua di kampung itu selalu menasihati anak-anak mereka. “Jangan hidup sendiri-sendiri. Ingatlah, jika beban dipikul bersama, seberat apa pun akan terasa ringan. Itulah makna sebenarnya dari pepatah berat sama dipikul, ringan sama dijinjing," pepatah lama.
Baca juga: Pepatah Lama: Bagai Kacang Lupa Kulitnya
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....