Pepatah Lama: Bagai Kacang Lupa Kulitnya

  • 21 Feb 2026 21:23 WIB
  •  Pontianak

RRI.CO.ID, Pontianak - Pada zaman dahulu, di sebuah kampung sederhana yang dikelilingi ladang dan hutan, hiduplah seorang janda tua bernama Mak Sari. Ia tinggal bersama anak laki-lakinya, Raka. Sejak kecil, Raka dibesarkan dengan penuh kasih sayang meski hidup mereka serba kekurangan.

Setiap hari, Mak Sari bekerja di ladang orang dan menanam kacang di kebun kecil miliknya. Hasilnya tidak seberapa, tetapi cukup untuk makan dan membiayai sekolah Raka.

“Belajarlah yang rajin, Nak. Ibu tidak ingin kamu hidup susah seperti Ibu,” pesan Mak Sari suatu sore sambil menjemur kacang hasil panennya.

Raka mengangguk. Ia memang anak yang cerdas dan rajin. Berkat kegigihannya, ia berhasil melanjutkan sekolah ke kota dengan bantuan beasiswa. Mak Sari menjual sebagian kebunnya untuk biaya awal keberangkatan.

Hari perpisahan itu menjadi hari yang mengharukan.

“Jangan lupakan kampung ini, Nak. Di sinilah kamu dibesarkan,” kata Mak Sari dengan mata berkaca-kaca.

“Iya, Bu. Raka akan kembali dan membahagiakan Ibu,” jawabnya penuh semangat.

Waktu berlalu. Tahun demi tahun, Raka berhasil menyelesaikan pendidikan dan mendapatkan pekerjaan yang baik di kota. Kehidupannya berubah. Ia mulai mengenakan pakaian bagus, tinggal di rumah yang layak, dan bergaul dengan orang-orang terpandang.

Namun, kesibukan dan kehidupan barunya perlahan membuat Raka jarang pulang. Surat untuk ibunya semakin jarang, hingga akhirnya tidak pernah datang lagi.

Di kampung, Mak Sari tetap menunggu. Setiap musim panen kacang, ia selalu menyisihkan sebagian.

“Kalau Raka pulang, dia pasti suka kacang rebus buatan Ibu,” gumamnya.

Suatu hari, Raka pulang ke kampung karena urusan pekerjaan. Ia datang dengan mobil mewah dan pakaian rapi. Warga kampung menyambutnya dengan bangga.

Namun, saat Mak Sari yang berpakaian lusuh mendekatinya di depan banyak orang, Raka justru merasa malu.

“Ibu… nanti saja di rumah,” katanya pelan sambil menghindar.

Hati Mak Sari terasa perih, tetapi ia tetap tersenyum.

Malam itu di rumah kecil mereka, Mak Sari menyajikan kacang rebus hangat.

“Ini makanan kesukaanmu sejak kecil,” katanya lembut.

Raka terdiam. Ia memandang tangan ibunya yang kasar, rumah yang hampir roboh, dan kacang rebus sederhana di hadapannya. Kenangan masa kecilnya tiba-tiba kembali-bagaimana ibunya bekerja keras, menahan lapar, dan berjuang agar ia bisa sekolah.

Air mata Raka jatuh tanpa terasa.

“Maafkan Raka, Bu. Raka terlalu sibuk dengan kehidupan baru sampai lupa dari mana Raka berasal.”

Mak Sari tersenyum dan mengusap kepala anaknya.

“Tidak apa-apa, Nak. Yang penting kamu ingat kembali.”

Sejak saat itu, Raka sering pulang dan memperbaiki rumah ibunya. Ia juga membantu membangun fasilitas untuk kampungnya.

Kisah Raka pun menjadi pelajaran bagi warga. Orang tua di kampung sering mengingatkan anak-anak mereka dengan sebuah pepatah lama “Jangan sampai seperti kacang lupa kulitnya.”

Baca juga: Pepatah Lama: Ada Udang di Balik Batu

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....