Umbut Rotan: Cita Rasa Hutan Kalimantan

  • 17 Feb 2026 13:25 WIB
  •  Pontianak

RRI.CO.ID, Pontianak - Di tengah kepulan asap masakan yang hangat, tersaji sebuah hidangan yang mungkin terlihat sederhana, namun menyimpan kekayaan rasa dan filosofi yang mendalam. Inilah Umbut Rotan atau sering disebut Pekat dalam beberapa dialek lokal, sebuah kuliner kebanggaan masyarakat Dayak Kanayatn di Kalimantan Barat.

Umbut rotan bukanlah sayuran yang bisa Anda temukan dengan mudah di supermarket modern. Bahan utamanya adalah rotan muda yang tumbuh liar di hutan-hutan Kalimantan.

Proses mendapatkannya pun memerlukan usaha dan keberanian. Masyarakat harus masuk ke dalam hutan, memilih batang rotan yang masih muda, dan dengan hati-hati membersihkan duri-duri tajam yang melindunginya. Bagian yang diambil hanyalah bagian dalam yang lunak, berwarna putih kekuningan.

Seperti yang terlihat pada gambar, Umbut Rotan sering kali dimasak dengan kuah kuning ata bersantan kental, dilengkapi dengan bumbu rempah khas. Namun, ada juga yang lebih menyukai versi kuah bening yang lebih segar.

Apa yang membuat masakan ini begitu istimewa adalah profil rasanya yang unik, dari teksturnya yang renyah namun lembut saat digigit. Dari rasa, ada sensasi rasa gurih yang dominan, yang kemudian disusul oleh rasa sedikit pahit di ujung lidah. Rasa pahit inilah yang menjadi ciri khasnya. Pahit pada Umbut Rotan tidaklah mengganggu, melainkan justru menambah nafsu makan, terutama ketika disantap dengan nasi hangat dan sambal pedas. Rasa pahit ini dipercaya oleh masyarakat setempat sebagai obat alami yang dapat memulihkan tenaga dan menyehatkan badan.

Di balik kelezatannya, Umbut Rotan mengandung makna filosofis yang dipegang teguh oleh masyarakat Dayak Kanayatn. Hidangan ini adalah simbol kesederhanaan.

Ia tidak dimasak dengan bahan-bahan impor yang mahal yang rumit. Ia dimasak dengan bumbu dapur sederhana, bawang merah, bawang putih, kunyit, serai, dan santan kelapa, namun mampu menghasilkan rasa yang luar biasa.

Masakan ini mengajarkan tentang hidup berdampingan dengan alam. Masyarakat Dayak mengambil rotan secukupnya untuk dimakan, tidak mengeksploitasi berlebihan. Hutan dianggap sebagai "pasar" alami yang harus dijaga. Jika hutan rusak, maka rotan hilang, dan hilang pulalah sajian istimewa ini dari meja makan.

Menikmati semangkuk Umbut Rotan bukan hanya sekadar mengenyangkan perut, melainkan sebuah cara untuk menghormati tradisi, merayakan kesederhanaan, dan mensyukuri berkah yang diberikan oleh alam Kalimantan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....