Simfoni Kerukunan dari Mimbar FKUB
- 12 Feb 2026 17:28 WIB
- Pontianak
RRI.CO.ID, Pontianak - Menjaga harmoni di kota yang heterogen seperti Pontianak memerlukan komitmen kolektif. Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Pontianak, Abdul Syukur, menegaskan bahwa perbedaan suku dan agama bukanlah pemisah, melainkan identitas yang harus dirayakan selayaknya sebuah pertunjukan orkestra.
Pemerintah Kota Pontianak terus berupaya menciptakan suasana yang toleran dan bersahabat. Namun, perjuangan ini bukan hanya tugas pemerintah, melainkan tanggung jawab seluruh warga.
Abdul Syukur, memandang kerukunan dari sudut pandang teologis dan nasionalis yang mendalam. Menurutnya, keberagaman adalah ketetapan Tuhan yang tidak boleh dihilangkan.
"Semua manusia berasal dari Nabi Adam dan Ibu Hawa, kemudian berkembang menjadi suku dan bangsa. Suku itu identitas yang tidak boleh hilang, karena jika suku hilang, hilanglah Indonesia dengan Bhinneka Tunggal Ika-nya. Bagi saya sebagai muslim, Allah berfirman bahwa yang terbaik bukan sukunya, tapi orang yang paling bertakwa sesuai agamanya," ucapnya, saat menjadi narasumber pada dialog RRI Pontianak dengan tema "Menjaga Harmoni Antar Suku dan Agama", Kamis, 12 Februari 2026.
Menurut Abdul Syukur, umat manusia ini telah berkembang bersuku-suku hingga menjadi bangsa. Karena itu, suku itu tidak boleh hilang, begitu juga bangsa. "Harus saling mengenal, kulitnya putih, kulitnya hitam, kulitnya coklat, itu identitas tidak boleh hilang, itu ciptaan Tuhan," ucapnya.
Dalam konteks keyakinan, Abdul Syukur menekankan pentingnya prinsip "Lakum Dinukum Waliyadin" bagimu agamamu dan bagiku agamaku. Rambu-rambu ini sangat jelas tidak boleh ada pemaksaan dalam beragama. Ia mengajak masyarakat untuk menjalankan agama masing-masing dengan baik tanpa meributkan perbedaan.
Ia pun menganalogikan keharmonisan Indonesia seperti sebuah musik orkestra yang memiliki instrumen beragam. Namun, menghasilkan satu harmoni yang indah.
"Pernah nonton orkestra? Alat musiknya beda-beda, ada biola, ada piano, ada gendang. Bunyinya tidak sama, tapi jika dimainkan sesuai fungsinya masing-masing, akan menjadi simfoni lagu Indonesia Raya yang indah. Pedagang silakan berdagang, guru silakan mengajar, semua berperan sesuai karakternya, namun tetap dalam irama Indonesia," katanya.
Meskipun tantangan terbesar terletak pada figur "dirigen" atau pemimpin yang mampu merangkul semua pihak seperti sosok almarhum Gus Dur. Karena itu, Abdul Syukur optimis dengan kebersamaan, segala persoalan bangsa bisa dihadapi. Indonesia pasti bisa berdiri kokoh di atas fondasi lima sila Pancasila yang menjadi payung bagi Bhinneka Tunggal Ika.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....