Atasi Fenomena NEET, Pemuda Diajak Aktif Berorganisasi

  • 13 Jul 2026 18:42 WIB
  •  Pontianak

RRI.CO.ID, Pontianak - Tingginya angka pengangguran dan munculnya fenomena pemuda pasif (NEET: Not in Employment, Education, or Training) di era modern menjadi tantangan serius bagi masa depan bangsa. Merespons kondisi tersebut, dua tokoh pemuda inspiratif, Irwansyah, S.Sos. dan Andreka Yuda Pratama, S.Pd., melihat pentingnya keaktifan berorganisasi untuk menempa karakter dan mentalitas kerja anak muda.

Gagasan ini mengemuka dalam dialog program NGOPI (Ngobrolin Prestasi dan Informasi) yang dipandu host Dipa Revanda di RRI Pro 2 Pontianak pada Senin, 06 Juli 2026.

Irwansyah mengungkapkan, salah satu penghambat utama kemajuan anak muda saat ini adalah tingginya rasa gengsi, terutama di kalangan sarjana baru (fresh graduate). Menurutnya, banyak pemuda yang terjebak pada ekspektasi gelar akademis dan enggan memulai karier dari bawah.

"Pendidikan kuliah itu sebetulnya untuk mengubah metode berpikir (mindset). Namun praktiknya, banyak yang lulus lalu gengsi bekerja serabutan atau menjadi tenaga freelance, padahal dompetnya kosong. Di sinilah pentingnya memiliki target dan soft skill," ujar Irwansyah mengkritisi fenomena saat ini.

Di sisi lain, Andreka Yuda Pratama, yang juga aktif berprofesi sebagai pendidik dan pengusaha muda, menekankan bahwa soft skill terbaik dapat dibentuk melalui wadah organisasi. Menurut Yuda, pengalaman berorganisasi secara otomatis akan mengasah kemampuan komunikasi, yang secara empiris menentukan 70 hingga 95 persen tingkat keberhasilan seseorang di dunia kerja.

"Orang yang aktif berorganisasi akan sangat berbeda cara komunikasinya. Mereka terbiasa memecahkan masalah besar menjadi kecil, memikul tanggung jawab, dan tidak mudah kagok (culture shock) saat terjun ke masyarakat. Di organisasi, kita belajar menempatkan diri dan menghadapi berbagai karakter manusia," ucap Yuda.

Selain kemampuan komunikasi, kedua narasumber sepakat bahwa attitude (adab) dan integritas adalah mata uang yang berlaku di mana saja. Kepintaran akademis tanpa dibarengi sikap saling menghargai tidak akan membawa seseorang jauh dalam kariernya.

Yuda juga mengutip filosofi tokoh bangsa Tan Malaka, "Terbentur, terbentur, terbentuk", sebagai analogi bahwa kedewasaan lahir dari benturan konflik dan permasalahan. Ia mengajak anak muda untuk tidak mencari kenyamanan yang mematikan potensi.

"Smooth seas don't make good sailors. Pelaut yang hebat tidak lahir dari lautan yang tenang. Anak muda harus berani mencari panggung yang membuat mereka merasa kecil, agar mereka mau terus belajar dan bertumbuh," kata Dipa Revanda menyimpulkan obrolan.

Dialog sore itu ditutup dengan pesan menohok dari Irwansyah bagi generasi muda yang masih terbuai rasa malas. "Paksa diri Anda untuk keluar dari zona nyaman. Kalau tidak mau berproses, jangan banyak protes!" katanya mengakhiri.

Baca juga: Hilangnya Intonasi di Medsos Rentan Picu Konflik Antar Remaja

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....