Jebakan Filter Sosial Media dan Dampak Buruk Terhadap Body Image
- 11 Jul 2026 19:53 WIB
- Pontianak
RRI.CO.ID, Pontianak - Saat ini media sosial telah bertransformasi layaknya etalase digital. Hampir setiap orang berlomba-lomba memajang versi terbaik, termulus, dan paling membanggakan dari hidupnya. Sayangnya, fenomena ini bagaikan pedang bermata dua yang perlahan menggerus rasa percaya diri anak muda terhadap tubuhnya sendiri (Body Image).
Keresahan ini menjadi perbincangan hangat dalam program bincang malam "RONDA" (Ruang Obrolan Pro 2) yang disiarkan oleh RRI Pro 2 Pontianak pada Kamis, 9 Juli 2026. Hadir sebagai narasumber, Clara Lipani, perwakilan dari Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Kota Pontianak, membedah krisis kepercayaan diri yang sering kali dipicu oleh standar kecantikan tak realistis di media sosial.
Di hadapan host Anwar, Clara menjelaskan bahwa body image adalah citra tubuh, bagaimana seseorang melihat, memikirkan, dan merasakan kondisi fisiknya sendiri saat sedang berkaca atau membayangkan dirinya.
| Baca juga: Orang Lain Bahagia, Kenapa Kita yang Panas? |
Clara tak menampik bahwa dirinya pun kerap menjadi korban dari body image negatif akibat terlalu sering scrolling di Instagram maupun TikTok. "Jujur, saat melihat video perempuan dengan kulit mulus dan bentuk badan sempurna, perasaan insecure (rendah diri) itu sering kali muncul. Saya merasa kurang percaya diri dengan wajah dan tubuh saya," ungkapnya berterus terang.
Ekspektasi tidak realistis dari media sosial juga diperparah dengan kehadiran filter kamera yang mampu mengubah bentuk tubuh secara instan. Meski penggunaannya sering kali hanya untuk keseruan, Clara menyebut bahwa filter tersebut bisa menjadi candu.
Menurutnya, penggunaan aplikasi pengubah bentuk tubuh secara berlebihan akan membuat seseorang semakin membenci penampilan aslinya di dunia nyata. Seseorang menjadi tidak mau menerima kekurangan diri karena sudah terbiasa dengan "ilusi kesempurnaan" yang diciptakan oleh kecerdasan buatan.
Lebih lanjut, Clara mengingatkan akan bahaya jebakan Social Comparison (membandingkan kehidupan diri sendiri dengan kehidupan orang lain). Ia mencontohkan banyak anak muda yang sering kali berandai-andai ingin memiliki standar fisik selayaknya Anya Geraldine atau Davina Karamoy. Namun pada akhirnya, hal tersebut hanya berujung pada kekecewaan karena mencoba hidup di dalam bayang-bayang kehidupan orang lain.
Untuk melawan rasa insecure tersebut, Clara mengedukasi para pendengar Gen Z agar tidak hanya bergantung pada kecantikan fisik, melainkan mulai menggali potensi dari dalam diri (Inner Beauty). "Kita harus mulai meyakinkan diri bahwa kita memiliki kelebihan lain yang patut dibanggakan, entah itu bakat, karya, atau prestasi akademik," tutur Clara memotivasi.
Di akhir perbincangan, ia memberikan sebuah tantangan yang kuat bagi seluruh pendengar RRI Pro 2 Pontianak: berani melakukan "Detox" media sosial dari akun-akun yang memicu rasa tidak percaya diri.
"Mulai hari ini, mari bersihkan linimasa sosial media kita dari hal-hal beracun. Jangan mencoba untuk menjadi orang lain. Jadilah Main Character (Karakter Utama) di dunia nyata dengan tubuh asli kita, tanpa harus mengandalkan filter untuk merasa berharga," pesannya mengakhiri.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....