Peneliti IAIN dan STAKat Pontianak Ungkap Praktik Humanisme Religius di Ketapang

  • 05 Jul 2026 11:16 WIB
  •  Pontianak

RRI.CO.ID, Ketapang — Kerukunan antarumat beragama di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, ternyata bukanlah hal yang baru. Keharmonisan ini telah mengakar kuat dan dipraktikkan jauh sebelum Indonesia merdeka.

Fakta menarik ini mengemuka dalam acara Focus Group Discussion (FGD) yang digelar oleh tim peneliti kolaborasi dari Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pontianak dan Sekolah Tinggi Agama Katolik (STAKat) Negeri Pontianak di Kabupaten Ketapang pada Rabu, 1 Juli 2026.

FGD ini merupakan bagian dari riset yang didanai melalui program MoRA The Air Funds, dengan mengangkat tema besar “Praktik Humanisme Religius Dalam Komunitas Beragama di Kalimantan Barat”. Tim peneliti kolaboratif ini diketuai oleh Prof Zaenuddin, dengan anggota Elmansyah dari IAIN Pontianak. Sementara itu, tiga akademisi dari STAKat Negeri Pontianak turut memperkuat tim ini, yakni Ona Sastri Lumban Tobing Oktavianey Meman, dan Angga Satya Bhakti.

Toleransi dalam Tindakan Nyata

Dalam forum FGD tersebut, Oktavianey Meman mempresentasikan hasil wawancara lapangan yang telah dilakukan oleh tim. Acara ini dihadiri oleh berbagai pemangku kepentingan, mulai dari perwakilan organisasi keagamaan, Kementerian Agama (Kemenag), Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), Badan Kesbangpol, hingga perwakilan TNI dan Polri.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kabupaten Ketapang memiliki rekam jejak yang sangat baik dalam pelaksanaan praktik humanisme religius. Harmoni tersebut tidak hanya sebatas retorika, melainkan terwujud dalam berbagai tindakan nyata di masyarakat, antara lain:

Sinergi Lintas Agama dalam Budaya: Acara keagamaan dan budaya, seperti perayaan Cap Go Meh, rutin melibatkan seluruh elemen masyarakat tanpa memandang latar belakang agama, menciptakan suasana yang rukun dan damai.

Inisiatif Lintas Komunitas: Terdapat aksi solidaritas konkret, seperti yang dilakukan oleh Orang Muda Katolik (OMK) yang secara sukarela berkeliling masjid untuk membagikan tempat sampah, serta turut mendirikan lembaga pendidikan.

Kontribusi Sosial Keagamaan: Organisasi Islam seperti Muhammadiyah juga mengambil peran besar dengan mendirikan berbagai lembaga pendidikan dan fasilitas kesehatan yang manfaatnya dirasakan oleh masyarakat luas.

Martabat Manusia sebagai Kunci Utama

Tim peneliti menyimpulkan bahwa secara umum, masyarakat Kabupaten Ketapang sangat menjunjung tinggi martabat manusia. Penghormatan terhadap nilai-nilai kemanusiaan inilah yang menjadi kunci dalam menghargai sesama dan memperjuangkan kemanusiaan, yang pada akhirnya membawa kemajuan bagi daerah setempat.

Para peserta FGD dari berbagai latar belakang sepakat bahwa penghormatan terhadap martabat manusia sangat sejalan dengan ajaran agama yang mereka yakini masing-masing.

Sebagai puncak dan penutup kegiatan, dilakukan penandatanganan dokumen Policy Brief (ringkasan kebijakan) oleh perwakilan organisasi agama, Kemenag, Kesbangpol, serta unsur TNI-Polri. Dokumen hasil rumusan riset ini diharapkan dapat menjadi landasan dan rujukan bagi Pemerintah Kabupaten Ketapang beserta pihak-pihak terkait dalam merumuskan kebijakan publik di masa depan, khususnya yang berkaitan dengan penguatan humanisme religius dan toleransi di daerah tersebut.

Baca juga: IAIN Pontianak Bentuk Relawan Pendamping Disabilitas, Dorong Kampus Inklusi

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....