Putus Rantai Trauma, Nindi: Luka Keluarga Harus Berhenti di Kita
- 22 Jun 2026 08:43 WIB
- Pontianak
RRI.CO.ID, Pontianak - Keluarga merupakan kelompok sosial terkecil sekaligus ‘kanvas putih’ pertama yang mewarnai kepribadian seorang anak. Ketika fungsi ruang aman di dalam keluarga gagal terpenuhi, lingkungan pendidikan dan masyarakat harus siap mengambil alih peran tersebut agar remaja tidak kehilangan arah.
Hal tersebut disampaikan oleh Calon Mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) asal Pontianak, Sindy Nindita Sujana, dalam program bincang malam "Ronda" (Ruang Obrolan Pro 2) di RRI Pro 2 Pontianak pada Kamis, 18 Juni 2026. Mengusung topik "Pentingnya Ruang Aman bagi Remaja", perempuan 18 tahun yang akrab disapa Nindi ini membagikan perspektifnya, berangkat dari pengalaman pribadi tumbuh dalam keluarga yang bercerai (broken home).
"Aku tumbuh dengan keluarga yang tidak lengkap sejak usia dua tahun. Yang paling dominan aku rasakan bukan sedih atau kecewa, melainkan rasa kesepian. Dari sana aku bertekad, kalau aku punya anak nanti, mereka tidak boleh merasakan apa yang aku rasakan," ujar Nindi yang diterima di jurusan Ilmu Keluarga dan Konsumen (IKK) IPB tersebut.
Dalam obrolan bersama host Anwar, Nindi secara khusus menyoroti fenomena fatherless atau ketiadaan peran figur ayah di Indonesia. Menurutnya, ketimpangan pengasuhan ini berdampak besar; anak perempuan cenderung mencari validasi sosok ayah pada pasangan yang salah, sementara anak laki-laki berpotensi mewarisi siklus pasif dalam tanggung jawab rumah tangga.
Selain isu pengasuhan, Nindi juga menyinggung urgensi edukasi seksual (sex education) yang kerap disalahpahami masyarakat sebagai hal tabu. Ia meluruskan bahwa edukasi tersebut bukan bercerita tentang hubungan intim, melainkan pemahaman atas batasan diri, identitas, dan kesehatan biologis sejak dini agar remaja terhindar dari penyimpangan seksual maupun penyakit menular seperti HIV.
"Masyarakat kita masih menganggapnya tabu, sehingga informasinya menjadi kabur. Akhirnya anak mencari tahu sendiri lewat internet yang belum tentu seratus persen tepat. Edukasi pengenalan diri ini seharusnya sudah didapat anak sejak usia lima tahun dari keluarganya," kata Nindi menegaskan.
Terkait metode mendidik, Nindi mendorong para orang tua dan generasi muda untuk mulai mempelajari pola gentle parenting. Ia mengkritik pola asuh otoriter masa lalu yang diistilahkannya dengan candaan sebagai 'parenting gaya VOC, karena mendisiplinkan anak melalui pukulan atau bentakan keras justru hanya melahirkan trauma dan ketakutan jangka panjang, bukan rasa hormat.
Di akhir perbincangan, Nindi mengajak para remaja yang saat ini sedang terjebak dalam kondisi keluarga yang kurang ideal untuk tidak menyerah pada masa depan, melainkan proaktif mencari 'kepingan puzzle' diri yang hilang melalui kegiatan positif di luar rumah.
"Kampanye yang selalu aku pegang adalah: hal-hal buruk dari generasi sebelumnya, ayo kita putuskan berhenti di kamu. Membentuk Indonesia yang lebih baik harus dimulai dari hal paling dasar, yaitu memberi remaja ruang aman untuk berbicara dan bereksplorasi," ucapnya mengakhiri.
Baca juga: Sulit Keluar dari 'Circle' Toxic? Ini Solusi dari dr. Firdaus
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....