Kenali Anxious dan Avoidant Attachment dalam Relationship
- 21 Mei 2026 16:36 WIB
- Pontianak
RRI.CO.ID, Pontianak – Istilah anxious attachment dan avoidant attachment belakangan semakin sering muncul di media sosial, terutama saat membahas hubungan yang penuh tarik-ulur. Ada orang yang mudah cemas ketika pasangan berubah sedikit saja, tetapi ada juga yang justru memilih menjauh saat hubungan mulai terasa terlalu dekat.
Fenomena ini berkaitan dengan attachment style atau pola keterikatan emosional seseorang dalam hubungan.
Menurut teori attachment yang dikembangkan oleh John Bowlby dan Mary Ainsworth, pengalaman emosional sejak kecil dapat memengaruhi cara seseorang membangun hubungan saat dewasa, termasuk dalam hubungan romantis. Seseorang dengan anxious attachment umumnya membutuhkan kepastian lebih dalam relationship. Mereka cenderung mudah overthinking, takut ditinggalkan, dan merasa tidak aman ketika hubungan berubah sedikit saja.
Hal sederhana seperti chat yang dibalas lama atau pasangan yang terlihat lebih dingin bisa memicu kecemasan berlebihan. Orang dengan pola ini juga biasanya lebih sering membutuhkan reassurance dan sulit merasa tenang ketika konflik terjadi. Berbeda dengan itu, avoidant attachment membuat seseorang cenderung menjaga jarak emosional. Mereka sering terlihat mandiri, cuek, atau sulit membuka diri.
Kedekatan emosional kadang terasa menekan sehingga mereka lebih memilih menarik diri saat konflik atau ketika hubungan mulai terlalu intens. Meski begitu, bukan berarti mereka tidak memiliki perasaan, melainkan memiliki cara berbeda dalam menghadapi rasa takut dan kerentanan emosional. Dinamika anxious dan avoidant sering kali membuat relationship terasa melelahkan.
Pihak anxious biasanya ingin lebih dekat dan mencari kepastian, sementara pihak avoidant justru menjauh ketika merasa terlalu ditekan. Akibatnya, hubungan terasa seperti tarik-ulur yang terus berulang. Satu pihak mengejar, sementara pihak lain menghindar, hingga akhirnya keduanya sama-sama merasa lelah secara emosional.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa kombinasi attachment anxiety dan attachment avoidance dapat memengaruhi rasa percaya, kepuasan hubungan, hingga komitmen pasangan. Tidak sedikit orang yang akhirnya merasa hubungannya penuh drama, padahal sebenarnya kedua pihak sama-sama membawa rasa takut yang berbeda. Pihak anxious takut ditinggalkan, sedangkan pihak avoidant takut kehilangan ruang pribadi atau kembali terluka.
Meski ramai dibahas di internet, attachment style bukanlah label permanen. Para ahli menjelaskan bahwa pola attachment dapat berkembang menjadi lebih sehat melalui hubungan yang aman, komunikasi yang baik, serta kesadaran diri. Dengan lingkungan yang suportif, seseorang dapat belajar membangun hubungan yang lebih stabil dan aman secara emosional
Pada akhirnya, relationship bukan hanya soal cocok atau tidak cocok, tetapi juga tentang bagaimana dua orang membawa pengalaman, rasa takut, dan cara bertahan masing-masing ke dalam hubungan. Memahami anxious dan avoidant attachment bukan untuk saling menyalahkan, melainkan agar hubungan bisa dijalani dengan komunikasi dan pemahaman yang lebih baik.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....