Banjir Konten Digital, Minat Baca Generasi Muda Dinilai Kian Menurun
- 18 Mei 2026 21:25 WIB
- Pontianak
RRI.CO.ID, Pontianak - Generasi muda dinilai menghadapi tantangan besar dalam menjaga budaya literasi di tengah derasnya arus konten digital dan media sosial. Hal itu menjadi pembahasan dalam program RONDA (Ruang Obrolan Pro 2) bertema “Di Tengah Banjir Konten, Mengapa Minat Baca Generasi Muda Menurun?” yang disiarkan di Pro 2 RRI Pontianak dan live kanal YouTube Pro 2 Pontianak pada Selasa, 12 Mei 2026 lalu.
Program yang dipandu penyiar Dipa Revanda itu menghadirkan dua mahasiswa Hukum Tata Negara IAIN Pontianak, Abdullah dan Firdausi. Dalam dialog tersebut, keduanya mengulas perubahan kebiasaan generasi muda dalam mengonsumsi informasi di era media sosial.
Firdausi menilai perkembangan media sosial membuat masyarakat semakin mudah menerima informasi secara instan tanpa perlu membaca panjang. Menurutnya, kondisi itu ikut memengaruhi rendahnya minat baca di Indonesia.
“Sekarang informasi datang sangat cepat. Orang tinggal menonton video dan langsung menerima informasi tanpa harus membaca atau berpikir lebih panjang,” ujar Firdausi.
Ia mengatakan media sosial memang membantu penyebaran informasi, namun di sisi lain membuat kebiasaan membaca perlahan tergeser. Firdausi bahkan menyinggung data UNESCO yang menyebut tingkat minat baca masyarakat Indonesia masih tergolong rendah.
“Literasi membaca mulai tertutupi oleh media sosial. Orang lebih tertarik melihat konten singkat dibanding membaca buku atau tulisan yang panjang,” katanya.
Sementara itu, Abdullah menilai media sosial merupakan bagian dari perkembangan zaman yang tidak bisa dihindari. Meski begitu, ia mengingatkan generasi muda tetap harus memiliki sikap kritis dalam menerima informasi yang beredar di internet.
“Kita punya pilihan untuk tidak terlalu tenggelam dalam media sosial. Anak muda harus cerdas dan kritis memilih informasi yang benar,” ujar Abdullah.
Menurutnya, kebiasaan menikmati konten singkat berdurasi beberapa detik membuat banyak orang terbiasa menerima informasi secara instan tanpa mencari penjelasan lebih lengkap. Padahal, membaca tetap diperlukan agar seseorang memahami informasi secara utuh.
Dalam perbincangan itu, keduanya juga membagikan pengalaman awal menyukai kegiatan membaca. Firdaus mengaku mulai gemar membaca novel sejak mondok di pesantren karena terbiasa mengisi waktu luang dengan membaca buku dari perpustakaan pondok.
Sedangkan Abdullah mengatakan minat membacanya berawal dari komik, kemudian berkembang ke novel hingga buku-buku hukum, politik, dan keagamaan. Ia mengaku membaca membuat pikirannya lebih terbuka dan tidak mudah buntu dalam mencari ide maupun sudut pandang.
“Kita bisa mulai dari bacaan yang disukai dulu. Yang penting membiasakan diri membaca sedikit demi sedikit,” ucap Abdullah.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....