Sulit Bilang Tidak? Waspada Jadi People Pleaser tanpa Sadar

  • 02 Mei 2026 20:39 WIB
  •  Pontianak

RRI.CO.ID, Pontianak - Fenomena people pleaser menjadi ulasan dalam program RONDA (Ruang Obrolan Pro 2) yang disiarkan langsung dari Pro 2 ontianak, Kamis, 30 April 2026. Dalam obrolan santai yang juga disiarkan melalui kanal YouTube Pro 2 tersebut, dua narasumber, Nurul dan Reno, mengupas sisi lain dari sikap “terlalu baik” yang kerap berujung pada pengorbanan diri.

Nurul menjelaskan bahwa people pleaser merupakan sikap seseorang yang kesulitan menolak permintaan orang lain, meski sebenarnya tidak menginginkannya. “Orang yang people pleaser itu cenderung selalu mengiyakan karena tidak enak hati, padahal dalam dirinya ingin menolak,” ujarnya.

Sementara itu, Reno menambahkan bahwa perilaku ini sering kali membuat seseorang mengabaikan kebutuhan dan perasaannya sendiri. “Mereka lebih mendahulukan kepentingan orang lain, bahkan sampai melanggar hak pribadinya sendiri,” kata Reno.

Keduanya setuju bahwa sikap people pleaser tidak selalu sepenuhnya buruk. Dalam konteks membantu dengan tulus, hal tersebut bisa menjadi nilai positif. Namun, jika dilandasi rasa takut ditolak, dijauhi, atau dihakimi, maka perilaku ini justru dapat berdampak negatif bagi kesehatan mental.

Lebih jauh, Nurul mengungkapkan bahwa faktor pola asuh dalam keluarga turut berperan membentuk karakter tersebut. Pola asuh yang cenderung otoriter, menurutnya, dapat membuat anak terbiasa menuruti perintah tanpa ruang untuk menyampaikan pendapat.

“Kalau sejak kecil tidak diberi kesempatan untuk bicara, akhirnya terbawa sampai dewasa,” ucap Nurul.

Dalam diskusi itu juga dibahas bahwa kebiasaan menjadi people pleaser bisa terbentuk dan terbawa ke berbagai lingkungan, baik pertemanan, kampus, hingga dunia kerja. Namun, ada juga kemungkinan seseorang hanya bersikap demikian di situasi tertentu, tergantung tingkat keberanian dalam menyampaikan keinginan pribadi.

Pengalaman pribadi turut mewarnai diskusi. Nurul mengaku pernah berada di fase tersebut saat remaja. Ia mulai menyadari dampaknya ketika merasa lelah terus-menerus mengikuti keinginan orang lain.

“Akhirnya saya coba belajar menolak. Ternyata respons orang tidak seburuk yang dibayangkan,” ungkapnya.

Sebagai penutup, kedua narasumber menekankan pentingnya sikap asertif, yaitu kemampuan menyampaikan keinginan tanpa melanggar hak orang lain. Reno menyebut, kebahagiaan orang lain bukanlah kewajiban, melainkan pilihan. Sementara Nurul mengajak generasi muda untuk berani berkata “tidak” demi menjaga kenyamanan dan kesehatan diri sendiri.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....