Enam Alasan Kenapa Individu Melakukan Panic Buying

  • 01 Apr 2026 05:27 WIB
  •  Pontianak

RRI.CO.ID, Pontianak - Panic buying atau perilaku belanja berlebihan sering muncul di tengah situasi krisis dan ketidakpastian. Fenomena ini terlihat jelas ketika dunia menghadapi permasalahan tertentu maupun statement dari pihak berwenang setempat, dimana masyarakat berbondong-bondong membeli kebutuhan pokok, dalam jumlah besar. Akibatnya, rak-rak toko menjadi kosong dalam waktu singkat, bahkan memicu kelangkaan barang yang sebenarnya masih tersedia dalam rantai distribusi.

Perilaku ini bukan sekadar soal kebutuhan, melainkan berkaitan erat dengan faktor psikologis dan sosial. Rasa takut akan kekurangan, dorongan untuk melindungi diri dan keluarga, serta pengaruh lingkungan sekitar membuat individu mengambil keputusan yang cenderung tidak rasional. Ditambah lagi, arus informasi yang cepat melalui media dan media sosial sering kali memperkuat kepanikan tersebut.

Ada beberapa alasan utama kenapa ini bisa terjadi:

1. Rasa takut dan ketidakpastian

Saat terjadi krisis seperti pandemi, bencana, atau konflik, orang merasa situasi tidak terkendali.

2. Efek ikut-ikutan (herd behavior)

Melihat orang lain menimbun barang membuat individu lain merasa harus melakukan hal yang sama, meskipun sebenarnya belum tentu perlu.

3. Kekhawatiran terhadap kelangkaan

Jika ada rumor atau berita bahwa barang tertentu akan langka, orang cenderung membeli lebih banyak sebagai “cadangan”.

4. Kurangnya kepercayaan pada sistem distribusi

Kalau masyarakat tidak yakin pemerintah atau pasar bisa menjaga stok, mereka akan mengamankan kebutuhan sendiri.

5. Pengaruh media dan sosial media

Sebagai contoh berita atau video rak kosong bisa memperkuat rasa panik, walaupun kondisi sebenarnya belum separah itu.

6. Insting bertahan hidup

Secara psikologis, manusia punya dorongan alami untuk mengamankan sumber daya saat merasa terancam.

Perilaku ini bukan hanya berdampak pada individu, tetapi juga dapat memicu ketidakseimbangan distribusi barang dan merugikan masyarakat luas. Dengan memahami alasan di balik panic buying, mulai dari faktor psikologis hingga pengaruh sosial kita diharapkan dapat lebih bijak dalam mengambil keputusan. Mengelola emosi, memilah informasi yang benar, serta membeli sesuai kebutuhan adalah langkah penting untuk mencegah kepanikan yang berlebihan. Pada akhirnya, sikap tenang dan rasional menjadi kunci agar kita tidak ikut terjebak dalam perilaku panic buying, sekaligus membantu menjaga kestabilan ketersediaan barang bagi semua orang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....