Luka Emosional yang Tak Terlihat, Waspadai Child Grooming pada Remaja

  • 17 Mar 2026 12:37 WIB
  •  Pontianak

RRI.CO.ID, Pontianak – Tidak semua luka dapat terlihat jelas secara fisik. Dalam Program Ruang Obrolan Pro 2 (RONDA), Nana Selviana membahas bagaimana luka emosional dapat memengaruhi kehidupan seseorang, terutama pada kasus child grooming yang rentan dialami anak dan remaja.

Nana menjelaskan bahwa luka tidak selalu berbentuk fisik, tetapi juga bisa berupa rasa sakit secara emosional. Perasaan tersebut kerap muncul saat seseorang mengingat kembali pengalaman tertentu yang meninggalkan bekas mendalam.

“Luka yang tidak terlihat, ketika mengingat kembali suatu keadaan atau suasana ada perasaan nyelekit yang sakit di hati yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Perasaan tidak nyaman,” kata Nana awal Maret lalu.

Ia juga menyoroti fenomena child grooming, yaitu kondisi di mana anak-anak menjadi rentan dimanipulasi dan dipengaruhi oleh pihak yang lebih dewasa. Anak-anak dinilai sebagai kelompok yang paling mudah untuk “dicuci pikirannya” dalam situasi tersebut.

Menurut Nana, korban child grooming biasanya menunjukkan dampak secara psikologis. Mereka cenderung menjadi kurang percaya diri dan mengalami gangguan dalam aktivitas sehari-hari, seperti tidak berani berinteraksi dengan banyak orang.

Ia mencontohkan kasus child grooming yang dapat terjadi pada anak di bawah usia 18 tahun. “Misalnya anak usia 14 tahun memiliki hubungan spesial dengan orang yang jauh lebih dewasa, misalnya usia 31 tahun. Dalam kondisi ini, orang tersebut bisa menekan anak dengan mengatakan ‘aku ini lebih dewasa dari kamu’, sehingga terbentuk sugesti dan keterikatan,” ujarnya.

Untuk pencegahan, Nana menekankan peran penting orang tua dalam memberikan pengawasan terhadap anak. Orang tua diharapkan mengetahui lingkungan pergaulan anak serta memastikan anak berada dalam lingkungan yang aman dan positif.

Selain itu, anak juga perlu memiliki kesadaran untuk membatasi diri dalam pergaulan. “Ikut komunitas yang sudah trusted atau terpercaya, seperti forum anak, PKBI, OSIS, atau komunitas pelajar lainnya, agar aktivitasnya bisa terarah dan terpantau,” kata Nana.

Bagi korban child grooming, Nana menyarankan untuk segera mencari bantuan profesional, seperti psikolog atau konselor. Ia juga mengingatkan masyarakat untuk memberikan dukungan kepada korban tanpa menghakimi.

“Kita sebagai bagian dari masyarakat jangan pernah menghakimi teman-teman yang mungkin pernah menjadi korban. Kalau traumanya sudah mendalam, sebaiknya dibawa ke profesional. Lebih baik kita memberikan dukungan kepada korban,” katanya, mengakhiri.

Baca juga: Jangan Dianggap Biasa, Ini Ciri Child Grooming

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....