Lebih Lama Ngumpulin Niat daripada Mandi: ternyata Ada Penjelasan Ilmiahnya

  • 13 Mar 2026 21:23 WIB
  •  Pontianak

RRI.CO.ID, Pontianak - Ada satu kebiasaan kecil yang mungkin pernah anda sadari: sebelum mandi, sering kali kita justru menghabiskan waktu cukup lama untuk “mengumpulkan niat”. Duduk sebentar di kasur, membuka handphone, scroll media sosial, menunda lima menit lagi, lalu lima menit lagi.

Menariknya, waktu yang digunakan untuk berpikir tentang mandi kadang justru lebih lama daripada waktu mandinya sendiri. Fenomena ini terlihat sepele, tetapi sebenarnya cukup menarik jika dilihat dari sudut pandang psikologi dan cara kerja otak manusia.

Secara ilmiah, kebiasaan menunda memulai suatu aktivitas dikenal dengan prokrastinasi. Banyak orang mengira prokrastinasi hanya terjadi pada pekerjaan besar seperti tugas kantor atau belajar menjelang ujian. Padahal, penelitian menunjukkan bahwa perilaku menunda juga sering muncul pada aktivitas sehari-hari yang sederhana. Salah satu bentuknya adalah penundaan saat memulai aktivitas, atau yang disebut onset delay dalam studi perilaku.

Penelitian yang dipublikasikan dalam Frontiers in Psychology menjelaskan bahwa orang sering menunda memulai suatu tindakan bahkan ketika mereka sebenarnya sudah berniat melakukannya (Svartdal et al., 2018).

Dalam konteks mandi, otak anda sebenarnya sedang melakukan evaluasi kecil: apakah perlu segera melakukannya sekarang, atau bisa ditunda sebentar lagi. Aktivitas mandi mungkin terdengar sederhana, tetapi tetap membutuhkan sedikit usaha.

Mulai dari berdiri kemudian beranjak dari posisi nyaman, berjalan ke kamar mandi, serta beradaptasi dengan sensasi air yang mungkin dingin. Bagi otak, perubahan kecil dari kondisi nyaman ke aktivitas baru ini bisa terasa seperti “biaya” yang harus dikeluarkan.

Di sinilah muncul fenomena yang dalam psikologi perilaku disebut present bias, yaitu kecenderungan manusia untuk lebih memilih kenyamanan saat ini dibandingkan manfaat yang akan diperoleh nanti. Dalam teori ekonomi perilaku, manusia sering membuat keputusan yang memprioritaskan kenyamanan jangka pendek, meskipun mereka tahu ada manfaat jangka panjang dari tindakan tersebut (Kleinberg & Oren, 2014). Dalam kasus ini, tetap duduk santai terasa lebih menyenangkan dibandingkan langsung mandi, meskipun mandi sebenarnya hanya membutuhkan waktu singkat.

Selain itu, banyak penelitian tentang motivasi menunjukkan bahwa bagian paling sulit dari sebuah aktivitas sering kali adalah memulainya. Kita sering berpikir bahwa tindakan harus didahului oleh motivasi atau niat yang cukup kuat. Namun dalam banyak kasus, justru sebaliknya: motivasi muncul setelah seseorang mulai melakukan tindakan tersebut. Psikolog David Burns bahkan menekankan bahwa tindakan kecil sering kali menjadi pemicu munculnya motivasi, bukan hasil darinya.

Itulah sebabnya proses “mengumpulkan niat” terasa panjang. Otak anda sedang berada di fase transisi antara niat dan tindakan. Dalam psikologi tindakan, fase ini disebut task initiation, yaitu tahap ketika seseorang beralih dari sekadar berniat menjadi benar-benar melakukan sesuatu.

Menariknya, begitu seseorang akhirnya berdiri dan berjalan ke kamar mandi, hambatan mental tersebut biasanya langsung berkurang. Setelah aktivitas dimulai, otak tidak lagi terlalu mempermasalahkan usaha yang sebelumnya terasa berat.

Pada akhirnya, kebiasaan “ngumpulin niat sebelum mandi” bukan sekadar kebiasaan lucu yang sering dialami banyak orang. Ia mencerminkan bagaimana otak manusia bekerja dalam menghindari ketidaknyamanan kecil, menunda usaha, dan membutuhkan dorongan kecil untuk memulai tindakan. Kadang yang membuat sebuah aktivitas terasa lama bukanlah aktivitas itu sendiri, melainkan waktu yang kita habiskan untuk memikirkan kapan harus memulainya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....