Andreas Acui Simanjaya Terima Penghargaan dari MABT Pontianak
- 04 Mar 2026 17:36 WIB
- Pontianak
RRI.CO.ID, Pontianak - Andreas Acui Simanjaya menerima piagam penghargaan atas inisiatif dan upayanya mendirikan Majelis Adat Budaya Tionghoa (MABT) pada tahun 2005. Penyerahan penghargaan berlangsung di Kantor MABT Kota Pontianak, Senin (1/3/2026), dan diserahkan langsung oleh Ketua MABT Kota Pontianak, Hendry Pangestu Lim, disaksikan para pengurus MABT Kota Pontianak.
Penghargaan tersebut menjadi bagian dari rangkaian perayaan Imlek Tahun Kuda Api, sekaligus bentuk apresiasi atas gagasan awal pembentukan lembaga adat budaya Tionghoa di Kalimantan Barat.
Dalam keterangannya, Andreas Acui Simanjaya menyampaikan rasa terima kasih atas penghargaan yang diberikan. Ia mengungkapkan bahwa ide mendirikan MABT berawal dari diskusi bersama rekannya, Herman, seorang Tionghoa mualaf yang juga teman satu angkatan di SMA Santu Petrus tahun 1986.
Menurutnya, saat itu muncul kesadaran bahwa kalangan Tionghoa memerlukan wadah majelis adat budaya untuk melestarikan tradisi sekaligus membangun komunikasi yang setara dengan entitas adat dan budaya dari berbagai suku di Kalimantan Barat.
Andreas menjelaskan, proses pendirian MABT tidaklah singkat. Ia menginisiasi pertemuan dengan berbagai tokoh Tionghoa melalui puluhan kali rapat di sejumlah tempat, dengan dukungan berbagai pihak yang membantu penyediaan ruang dan konsumsi.
Setelah membentuk tim formatur bersama sejumlah tokoh masyarakat, di antaranya Santyoso, Surjanto, Adhie Rumbee, Su Mian, dan Budi Santoso, MABT kemudian didirikan secara resmi dan sah secara hukum melalui notaris Ali.
Tokoh pengusaha Tionghoa, Huat Jong atau Michael Smith, menilai langkah Ketua MABT Kota Pontianak memberikan penghargaan kepada Andreas merupakan keputusan yang tepat dan patut dicontoh.
Menurutnya, penghargaan tersebut bukan hanya bentuk apresiasi, tetapi juga cerminan nilai budaya Tionghoa yang tidak melupakan jasa dan budi baik seseorang yang telah berkontribusi besar dalam pelestarian tradisi dan budaya.
Sementara itu, Tokoh Pemuda Bugis, Effendi, menyebut Andreas sebagai sosok yang peduli terhadap persoalan sosial kemasyarakatan. Ia menilai pembentukan MABT menjadi langkah strategis dalam menghadirkan wadah komunikasi resmi yang setara dengan organisasi berbasis kesukuan lainnya di Kalimantan Barat.
Effendi menambahkan, sebelum terbentuknya MABT, belum ada lembaga yang representatif untuk mewakili dialog ketika muncul persoalan yang berkaitan dengan komunitas Tionghoa. Dengan hadirnya MABT, kesenjangan komunikasi dinilai dapat lebih mudah diatasi.
Ia juga berharap MABT dapat terus menjadi aset daerah yang bermanfaat bagi seluruh masyarakat Kota Pontianak dan Kalimantan Barat secara umum, serta dijaga marwahnya agar tetap berkiprah untuk kepentingan bersama. Penyerahan penghargaan ini menjadi momentum refleksi atas perjalanan panjang MABT sejak 2005 hingga kini, sekaligus pengingat pentingnya menjaga kebersamaan lintas suku dan budaya di Kota Pontianak.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....