Belajar Hidup Sederhana Penuh Makna Dari Baswedan
- 04 Jan 2026 09:20 WIB
- Pontianak
KBRN, Pontianak: AR Baswedan (1908-1986) atau lengkapnya Abdulrahman Awad Baswedan, adalah salah seorang perintis kemerdekaan Indonesia dari golongan keturunan Arab.
Sebagai salah seorang perintis kemerdekaan, Baswedan ikut aktif memperjuangkan kemerdekaan Indonesia atas dasar persatuan dan keragaman. Baswedan berjuang merintis keindonesiaan sejak 1934 ketika ia mulai bergerak dan berpolitik dengan mendirikan Persatuan Arab Indonesia yang kemudian berubah menjadi Partai Arab Indonesia, dengan satu tujuan menggoncangkan generasi muda Indonesia keturunan Arab dari tidur panjangnya, untuk membangun kesadaran berbangsa dan bertanah air Indonesia.
Dimulai dengan tulisan perdana Baswedan, di harian Matahari, 1 Agustus 1934, dengan judul Peranakan Arab dan Totoknya. Tulisan ini menandai awal perjuangannya untuk menggelorakan nasionalisme di hati kaum keturunan Arab di Indonesia atas kesadaran kebangsaan.
Dan hal ini merupakan perjuangan amat berat dan ganjil pada masa itu untuk dipahami, ketika pada masa itu pemerintah kolonial Belanda membagi masyarakat menjadi beberapa kelas. Kelas tertinggi adalah Eropa, kemudian Indo-Eropa, selanjutnya Timur Asing (termasuk keturunan Asia seperti Arab dan Cina), dan yang paling bawah adalah pribumi atau inlander, orang Indonesia asli.
Baswedan dengan penuh kesadaran mengajak semua keturunan Arab untuk mengakui tanah air mereka adalah Indonesia. Hal ini merupakan langkah amat berat, berani, bahkan berbahaya. Ini sebuah perjuangan yang berat dan panjang.
Perjuangan melawan politik Belanda, sekaligus perjuangan di dalam diri sendiri atau revolusi batin, dan perjuangan seorang pemimpin yang memiliki keyakinan yang jauh melampaui masanya.
Karena Baswedan yakin atas kebangsaannya sebagai warga Indonesia dan mengambil langkah sebagai pionir untuk mengindonesiakan kaumnya, keturunan Arab, jauh sebelum Indonesia ada dan merdeka.
Demi cita-citanya itu, ia rela berjuang hingga akhir hayatnya. Baswedan adalah salah seorang manusia Indonesia yang mencintai bangsanya, melebihi cintanya pada dirinya sendiri.
Baswedan menyebutkan dalam tulisannya pada 1939, harus ada revolusi batin, dan inilah pekerjaan Partai Arab Indonesia (PAI) yang terutama, menghendaki bergeloranya rasa cinta kepada tanah air Indonesia dalam hati peranakan Arab.
Semarang, 1 Agustus 1934, surat kabar golongan peranakan Tionghoa, Mata Hari, memuat foto yang menggemparkan. Seorang pemuda keturunan Arab yang mengenakan beskap dan belangkon. Si pemuda menyerukan kepada kaumnya agar bersatu membantu perjuangan bangsa Indonesia. Di mana seorang dilahirkan, di situlah tanah airnya, tegasnya.
Anak muda itu adalah Abdul Rahman (AR) Baswedan, seorang wartawan, politikus, pejuang, dan orang Indonesia sejati.
Tak ada alasan untuk tak mengapresiasi Baswedan dan perjuangannya. Ia layak disebut sebagai salah seorang Bapak Bangsa, founding father, Republik Indonesia. Baswedan ikut serta dalam Badan Penyelidik Usaha-usaha Kemerdekaan Indonesia, mantan Menteri Muda Penerangan.
Di kalangan internal, Baswedan telah berjuang menyatukan komunitas Arab agar mereka menjadi bagian integral dari bangsa Indonesia. Melalui Partai Arab Indonesia (1934-1942), ia tegaskan Indonesia adalah ibu pertiwi keturunan Arab.
Baswedan adalah salah seorang tokoh perintis bangsa. Dia anggota Panitia 19 Perumus Pembukaan UUD 1945, anggota BPUPKI, anggota KNIP (Komite Nasional Indonesia Pusat), dan anggota Parlemen RI.
Dia adalah seorang manusia multi talenta, seorang manusia multi dimensi. Seorang jurnalis, diplomat, politikus, agamawan, negarawan, dan sekaligus juga budayawan dan sastrawan. Seorang pejuang sejati.
Setiap langkah dalam hidupnya dan napas jiwanya adalah perjuangan. Tulisannya di media massa adalah untuk menyuarakan perjuangan, karya puisinya adalah inspirasi perjuangan. Dakwahnya adalah ceramah yang menggelorakan semangat perjuangan di tengah umat atau masyarakat.
Baswedan juga seorang Menteri Muda Penerangan dalam Kabinet Sjahrir III, 1946. Ia bukan hanya sekadar seorang menteri, melainkan juga seorang diplomat yang ikut berjuang langsung untuk mendapatkan pengakuan kemerdekaan Indonesia dari dunia internasional.
Dia terlibat langsung dalam misi diplomatik Indonesia yang pertama, bersama Haji Agus Salim sebagai kepala misi ke Mesir pada 1947. Misi ini berhasil mendapatkan pengakuan kemerdekaan dari Pemerintah Mesir.
Dokumen pengakuan tersebut harus dibawa pulang oleh Baswedan sendiri dengan disembunyikan di dalam kaos kakinya, melewati barikade militer Belanda dengan risiko nyawanya.
Baswedan juga seorang seniman dan sastrawan. Ia menulis beberapa syair dan puisi yang bertebaran di beberapa majalah dan harian di Indonesia pada era 1940-an hingga 1980-an.
| Baca juga: Tujuh Manfaat Mengajak Pasangan Jalan Berdua |
Baswedan terkenal keras dalam pendirian dan keyakinannya, tetapi halus dalam budi bahasa dan budayanya. Ia sering menumpahkan isi hatinya melalui bahasa sastra puisi.
Dia juga menulis beberapa drama atau tonil, salah satunya Vrouwen Emancipatie atau Emansipasi Wanita, yang dipentaskan di Surakarta pada 1940 dan dia sendiri sebagai sutradaranya.
Baswedan adalah sosok pemimpin sejati yang hidup sederhana. Sebagai seorang menteri atau anggota kabinet, dia memiliki pilihan dan kesempatan untuk hidup nyaman, tapi dia memilih hidup sederhana bahkan penuh perjuangan.
Selama perjalanan hidupnya, dia tidak memikirkan segala kesenangan pribadi. Bahkan, Baswedan sampai detik terakhir kehidupannya tidak mempunyai rumah pribadi. Satu-satu rumah yang pernah ia tempati adalah rumah pinjaman dari seseorang dermawan yang meminjamkan rumahnya para pejuang revolusi saat itu, ketika ibukota republik berada di Yogyakarta. Ia lebih senang jalan kaki atau membonceng sepeda motor teman.
Bersumpah menjadi Indonesia saat Indonesia sudah terjadi bukan hal aneh. Tapi bersumpah menjadi Indonesia jauh sebelum Indonesia jadi kenyataan adalah bukti otentik kecintaan Baswedan pada tanah tempat dia berada.
Dia berkali-kali mengungkapkan bahwa nasionalisme bukan karena garis darah tapi karena pendidikan. Pendidikanlah jalan menumbuhkan nasionalisme.
Dia sangat sederhana. Baswedan adalah tipikal para perintis kemerdekaan, mereka membicarakan negerinya tanpa sempat memikirkan kesenangan materialistik.
Hingga akhir hayatnya Baswedan tidak sempat memikirkan rumah pribadi. Perjuangannya penuh dengan ketangguhan. Dia hibahkan hidupnya untuk memperjuangkan agar Republik Indonesia ini berdiri.
Dia tidak memilih jalur nyaman dan aman. Ketika dia masih muda, tidak ada kata terlalu muda untuk berjuang bagi bangsa Indonesia. Dia sangat mencintai Indonesia, melebihi cinta kepada dirinya.
Pada usia dini, Baswedan sudah menyadari gawatnya situasi yang ada dan akhirnya memutuskan untuk mendedikasikan seluruh hidupnya demi memecahkan permasalahan yang ada.
| Baca juga: Penghalang Rezeki Rumah Tangga dan Solusinya |
Sebagai seorang jurnalis dan sebagai politisi, baik sebelum dan sesudah kemerdekaan Indonesia, ia memberikan kontribusi aktif di dalam integrasi bertahap terhadap isolasi di mana kelompok populasinya berada. Sehingga tidaklah berlebihan bila dikatakan bahwa Baswedan telah mengabdikan seluruh hidupnya untuk Indonesia.
Meskipun Baswedan bukan satu-satunya Hadhrami yang berjuang agar saudara-saudaranya bisa mendapatkan tempat yang layak di Indonesia, ada Salim Maskatie, Hoesin Bafagieh, dan Hamid Algadri untuk menyebutkan beberapa saja.
Baswedan adalah manusia barkarakter. Ia berani mengambil risiko dan mendayung melawan arus. Dia juga seorang ahli strategis penting dan orator alami. Hidupnya selalu optimis.
Dia setia pada cita-citanya tanpa kehilangan rasa hormat terhadap pendapat orang lain. Sebagai anggota parlemen setelah Indonesia merdeka, ia mempertahankan hubungan persahabatan dengan lawan-lawan politiknya.
Di detik-detik akhir hayatnya, Baswedan sempat berwasiat, memohon untuk tidak dimakamkan di Taman Makam Pahlawan. Sebuah bukti kebesaran hati seorang pejuang dan pemimpin sejati, seorang anak bangsa yang dari awal perjalanan hidupnya sampai akhir napasnya, tidak pernah memikirkan dirinya sendiri.
Tiap napas dan detak nadi kehidupannya, tiap tetes darahnya, tiap jejak langkahnya, hanya diperuntukkan bagi bangsa dan tanah airnya Indonesia.
Sebatang bambu runcing dan bendera merah putih yang bertuliskan Pejuang Kemerdekaan dipancangkan di atas makam mantan anggota Konstituante dari Partai Masyumi ini.
AR Baswedan seorang pahlawan sejati. Seorang pahlawan bangsa yang tidak mengharap penghargaan dan penghormatan, karena baginya, penghormatan terbesar bagi seorang anak bangsa adalah kehormatan untuk bisa mengabdi kepada bangsa dan tanah air.
Dan penghormatan terbesar yang bisa diberikan baginya adalah terus mengingat perjuangannya dan tidak melupakan namanya.
Baswedan yang masih punya darah Hadramaut dalam dirinya menyatu dengan rapi nilai-nilai keislaman dan keindonesiaan, layak mendapatkan penghargaan yang pantas dia terima. Dia sebagai seorang anak bangsa sudah mengabdikan dari keseluruhan hidupnya untuk bangsa dan negara.
Seorang yang memiliki semangat nasionalis, berlatar jurnalis, menjunjung tinggi moral, bergelut dengan politik serta berkecimpung dalam kebudayaan, dengan modal ini Baswedan tidak diragukan lagi sebagai salah satu tonggak utama mekarnya nasionalisme Indonesia.dan AR Baswedan memang layak diakui sebagai Pahlawan Nasional.
Penulis: Syafaruddin DaEng Usman, peminat sejarah dan budaya Indonesia.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....