Kasus Stunting di Parit Mayor Turun 45 Kasus hingga Juli

  • 14 Agt 2026 11:31 WIB
  •  Pontianak

RRI.CO.ID, Pontianak: Kasus stunting di wilayah kerja Puskesmas Parit Mayor, Kota Pontianak, Kalimantan Barat, mengalami penurunan hingga Juli 2026. Dari sekitar 60 kasus pada 2025, jumlah tersebut berkurang sekitar 45 kasus.

‎Kepala Puskesmas Parit Mayor, Sulistiyo Adhi Purnomo, mengatakan penurunan tersebut terjadi karena sebagian anak mengalami perbaikan status gizi, sementara sebagian lainnya sudah melewati usia lima tahun.

‎"Yang 2025 itu sekitar 60-an, tapi yang jelas di 2026 ini sampai dengan bulan Juli itu mengalami penurunan sekitar 45 kasus," ujar Sulistiyo, Jumat 14 Agustus 2026.

‎Meski mengalami penurunan, Sulistiyo menegaskan pemantauan tetap dilakukan. Hal ini untuk mencegah anak yang sudah mengalami perbaikan status gizi kembali mengalami stunting.

‎"Ada yang kasusnya berhenti karena usianya sudah melewati usia lima tahun, ada yang meman kasusnya menjadi baik dari yang tadinya stunting menjadi baik tidak stunting. Tapi ini tetap kita waspadai, jangan sampai anak yang tadinya sudah bagus tiba-tiba kembali stunting," katanya.

‎Pemantauan dilakukan melalui Posyandu yang berfungsi sebagai wadah deteksi dini kondisi kesehatan anak, salah satunya seperti di Posyandu Ananda. Pemeriksaan meliputi penimbangan berat badan dan pengukuran tinggi badan.

‎Data pertumbuhan balita kemudian dimasukkan ke aplikasi elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat atau e-PPGBM milik Kementerian Kesehatan.

‎Sulistiyo menjelaskan, pencatatan secara rutin diperlukan agar perubahan status gizi anak dapat diketahui lebih cepat sehingga intervensi dapat segera dilakukan. ‎"Setiap data itu harus di-input supaya kita cepat penanganannya," ujarnya

‎Ia menambahkan, intervensi terhadap anak yang mengalami masalah gizi dilakukan berdasarkan kondisi masing-masing sasaran. Puskesmas dapat melakukan kunjungan rumah, memberikan edukasi, vitamin A, obat cacing, hingga bantuan susu dari Dinas Kesehatan.

‎Menurutnya, intervensi kesehatan tersebut berbeda dengan pemberian MBG yang diberikan secara umum kepada kelompok sasaran.

‎"Kalau dari MBG-nya sendiri, ini kan masih dalam bentuk makanan global, makanan lengkap. Tapi kalau secara spesifik, untuk pemberian makanan yang khusus stunting itu dalam bentuk seperti tadi, karena kita intervensinya berupa vitamin A, atau tablet cacing, dan susu," ucap Sulistyo, menjelaskan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....