Agroforestry di Sungai Amoy Rehabilitasi Hutan Terbuka Bekas Kebakaran

  • 23 Jun 2026 16:33 WIB
  •  Pontianak

RRI.CO.ID, Kubu Raya – Selama lebih dari satu dekade, hamparan lahan di Dusun Sungai Amoy, Batu Ampar, Kabupaten Kubu Raya, terkesan mati. Lahan bekas kebakaran yang dibiarkan terbuka tersebut menjadi saksi bisu kerusakan ekosistem yang masif. Namun, kini secercah harapan mulai tumbuh di atas tanah yang selama ini terbengkalai.

Harapan itu hadir tatkala program agroforestry pangan berupa tanaman kelapa genjah dan tanaman penghasil buah serta biji-bijian mulai ditanam disana. Kegiatan ini merupakan bagian dari program Projek Delta Kapuas yang diinisiasi oleh Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Batu Ampar selaku pemilik izin kawasan hutan Desa dan Sampan Kalimantan selaku pendamping serta PT Belantara Sejahtera Mandiri (BSM) selaku pemodal atau investor.

Aksi inipun juga disambut baik oleh Pemerintah Daerah setempat, baik Pemprov Kalbar maupun Pemkab Kubu Raya, bahkan Bupati Kubu Raya Sujiwo bersama Kepala Dinas PUPR serta Kepala Dinas LHK dan OPD terkait maupun komunitas turun langsung melakukan penanaman kelapa genjah.

Sabtu, 20 Juni 2026 siang itu, rombongan menempuh perjalanan yang cukup menantang, mulai dari speedboat hingga melintasi titian kayu sepanjang hampir satu kilometer di tengah kondisi hujan dan medan berlumpur. Meski harus menempuh medan yang ekstrem, rombongan menunjukkan komitmen nyata untuk terjun langsung ke lapangan.

Direktur SAMPAN Kalimantan, Fajri Nailus Subchi, mengungkapkan agroforestry tanaman MPTS (Multi-Purpose Tree Species) penghasil nira dan MPTS Penghasil biji-bijian atau buah berbasis masyarakat tidak hanya menekan resiko kebakaran, tetapi juga menjadi solusi untuk meningkatkan ketahanan pangan dan ekonomi rumah tangga, mengingat kondisi sekarang di desa batu ampar tidak bisa lagi melakukan kegiatan rutin mereka yaitu pembuatan arang bakau khusunya di dusun Teluk Air , Sungai Limau, dan Gunung Kruwing yang direalisasikan melalui KUPS(Kelompok usaha perhutanan sosial) masing-masing dusun. Di tahap pertama ini, ditargetkan seluas 32 Ha dengan jumlah bibit 3.500 pokok kelapa genjah di blok-sungai amoy.

"Bukan sekadar menanam pohon untuk menghijaukan hutan kembali, proyek ini dirancang sebagai solusi ganda memulihkan ekosistem sekaligus mendongkrak kesejahteraan masyarakat lokal," ujarnya.

Menurut Fajri, Lahan terbuka di blok Sungai Amoy dan sekitarnya terdeteksi mencapai 2.000 hektare berdasarkan penginderaan Citra Satelit dalam sepuluh tahun terakhir. Jika dibiarkan, risiko kerusakan lahan akan semakin parah.

"Kami tidak hanya bicara soal menghutankan kembali. Hal yang tak kalah penting adalah bagaimana mensejahterakan masyarakat. Kami ingin mereka punya alternatif pendapatan baru yang berkelanjutan, bukan sekadar bergantung pada hasil yang ada sekarang," ujar Fajri.

Pilihan tanaman jatuh pada varietas penghasil nira seperti kelapa genjah serta tanaman biji-bijian dan buah-buahan seperti kopi, petai, dan jengkol. Kelapa genjah dipilih karena masa produktivitasnya yang relatif pendek. Pada tahun ketiga, petani sudah bisa mulai memanen nira untuk diolah menjadi gula merah, kecap, atau bahkan berpotensi menjadi bioetanol di masa depan.

Meskipun demikian, salah satu tantangan terbesar dalam tanaman keras adalah masa tunggu panen. Untuk menyiasati hal tersebut, selama tiga tahun pertama sebelum kelapa genjah berproduksi, masyarakat didorong menanam tanaman jangka pendek.

"Selama menunggu pohon nira berbuah, petani akan kami dorong untuk menanam hortikultura seperti cabai, terong, sayur-mayur, dan jagung. Jadi, kebutuhan harian mereka tetap terpenuhi," ucap Fajri.

Tahun ini, target rehabilitasi seluas 97 hektare mencakup beberapa lokasi, mulai dari Hutan Desa Batu Ampar, Teluk Nibung, Nipah Panjang, hingga Sungai Besar dan Ambawang. Proyek ini menyasar kurang lebih 200 kepala keluarga yang selama ini merupakan penggarap lahan turun-temurun di kawasan tersebut.

Dalam pengerjaan rehabilitasi ini bukan tanpa hambatan. Fajri mengakui bahwa kondisi lahan yang berat membuat proses pengerjaan menjadi sangat menantang. Saat ini, pembersihan lahan hingga pembuatan lubang tanam masih dilakukan secara manual oleh para penggarap.

"Medan di lapangan sangat berat. Kami bekerja dengan peralatan manual, menebas semak, hingga membuat parit pengairan dengan tenaga manusia. Ke depan, kami berharap ada ruang untuk menggunakan alat mekanis agar proses ini bisa lebih mudah," katanya.

Seluruh proses ini dikelola langsung oleh Kelompok Perhutanan Sosial (KUPS) sesuai dengan rencana kerja tahunan mereka. Dengan skema ini, hutan desa tidak lagi sekadar kawasan konservasi yang dibatasi, melainkan ruang produktif yang memberikan manfaat ekonomi langsung bagi masyarakat yang menjaganya.

Masa Depan Hijau Kalimantan

Inisiatif penanaman 3.500 bibit kelapa genjah di Sungai Amoy hanyalah langkah awal. Fajri berharap, melalui integrasi tanaman MPTS (Multi-Purpose Tree Species) dengan tanaman endemik kehutanan, blok-blok lahan kritis di Kalimantan Barat perlahan akan berubah menjadi hutan yang produktif.

"Ini adalah upaya kami menjadikan lahan bekas kebakaran yang tidak produktif menjadi sumber ekonomi. Jika masyarakat sejahtera karena menjaga hutannya, maka dengan sendirinya mereka akan menjadi garda terdepan untuk mencegah kebakaran hutan di masa depan," kata Fajri.

Bupati Kubu Raya, Sujiwo mengungkapkan, bahwa langkah kolaborasi ini diambil sebagai solusi konkret pemerintah daerah dalam memberikan alternatif penghidupan baru bagi masyarakat setempat pasca penghentian produksi arang bakau.

Bupati Kubu Raya menegaskan bahwa program ini merupakan bentuk keseriusan pemerintah dalam menggandeng pihak swasta untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat yang bermartabat tanpa harus mengorbankan kelestarian ekosistem mangrove.

"Ini adalah langkah konkret kami. Setelah keputusan untuk tidak lagi memproduksi arang bakau diambil, kami tidak membiarkan masyarakat kehilangan arah. Kami hadir untuk menjaga marwah dan martabat masyarakat Desa Batu Ampar menuju kesejahteraan, namun tetap dengan komitmen kuat menyelamatkan lingkungan mangrove," ujar Sujiwo.

Bupati beserta jajaran OPD, perwakilan Bank Kalbar, serta para aktivis lingkungan menempuh perjalanan yang cukup menantang. Dengan melintasi titian kayu sepanjang lebih dari setengah kilometer di tengah kondisi hujan dan medan berlumpur, rombongan menunjukkan komitmen nyata untuk terjun langsung ke lapangan.

"Memimpin adalah menderita, sebagaimana pesan pahlawan nasional Agus Salim. Jika ingin menjadi pemimpin, harus siap merasakan apa yang dirasakan rakyatnya. Perjalanan hari ini adalah bukti betapa besarnya cinta kami kepada masyarakat Desa Batu Ampar dan kelestarian mangrove yang ada di sini," ucap Bupati.

Menuju Kesejahteraan yang Berkelanjutan

Penanaman kelapa genjah dipilih karena merupakan varietas yang adaptif dengan potensi produktivitas yang baik bagi ekonomi petani dalam jangka menengah. Skema agroforestri ini memungkinkan masyarakat untuk tetap mengelola lahan secara produktif dengan sistem tumpang sari yang ramah lingkungan.

Program ini diharapkan tidak hanya berhenti pada penanaman simbolik, melainkan akan terus berkelanjutan dengan pemantauan ketat dari pemerintah daerah dan mitra terkait. Fokus utama pemerintah adalah memastikan peralihan mata pencaharian masyarakat dari sektor arang bakau ke sektor pertanian berbasis lingkungan ini dapat berjalan mulus dan memberikan hasil ekonomi yang memadai.

Dengan sinergi antara pemerintah, swasta, dan masyarakat, Desa Batu Ampar diharapkan dapat menjadi model percontohan bagi desa lain dalam pengelolaan ekosistem mangrove yang berwawasan ekonomi produktif. Upaya ini menjadi penegasan bahwa pelestarian lingkungan dan kemajuan ekonomi masyarakat adalah dua hal yang dapat berjalan beriringan.

Agroforestri ini juga menjadi bukti bahwa rehabilitasi lingkungan dan kesejahteraan ekonomi bukanlah dua kutub yang berseberangan. Dengan perencanaan yang tepat, tanah yang sempat dianggap mati bisa kembali menjadi sumber kehidupan yang menjanjikan bagi generasi mendatang di Kalimantan Barat.

Baca juga: Harisson Soroti Ancaman Alih Fungsi Hutan Mangrove Kalbar

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....