Anak Dianggap “Aset” yang Harus Selalu Memenuhi Keinginan tanpa Batas
- 03 Mei 2026 13:55 WIB
- Pontianak
RRI.CO.ID, Pontianak - Dalam Islam, anak sering dipandang sebagai investasi akhirat bagi orang tua, karena doa dan amalnya dapat terus mengalir bahkan setelah orang tua wafat. Namun, konsep ini sering disalahpahami hingga anak dianggap “aset” yang harus selalu memenuhi keinginan tanpa batas.
Sebagian orang tua lupa bahwa anak juga amanah, bukan alat untuk memenuhi ambisi pribadi atau kebanggaan sosial. Ketika ekspektasi terlalu tinggi dan tidak realistis, hubungan berubah dari kasih sayang menjadi tekanan yang menyakitkan.
Sikap “tidak tahu diri” muncul ketika orang tua menuntut balasan berlebih tanpa melihat kemampuan dan kondisi anak. Padahal dalam ajaran Islam, setiap individu memikul tanggung jawab sesuai kapasitasnya, bukan berdasarkan tuntutan sepihak.
Akibatnya, anak bisa merasa terbebani, kehilangan jati diri, bahkan menjauh secara emosional dari orang tua. Hal ini berlawanan dengan tujuan keluarga dalam Islam, yaitu menciptakan ketenangan (sakinah), bukan tekanan berkepanjangan.
Solusinya dimulai dari kesadaran bahwa mendidik anak adalah ibadah, bukan investasi materi semata. Orang tua perlu menata niat, bahwa keberhasilan anak bukan hanya pada hasil duniawi, tetapi pada akhlak dan ketaatan.
Selain itu, komunikasi yang sehat perlu dibangun agar anak merasa dihargai dan didengar. Memberi ruang bagi anak untuk berkembang sesuai potensinya adalah bentuk kasih sayang yang lebih bijaksana.
Pada akhirnya, hubungan orang tua dan anak harus dilandasi keikhlasan, saling memahami, dan tanggung jawab yang proporsional. Dengan begitu, anak benar-benar menjadi investasi akhirat yang membawa keberkahan, bukan sumber luka dalam keluarga. Wallahu'alam Bishawab!
Baca juga: Broken Home dalam Pandangan Islam sering Berawal dari Rapuhnya Iman
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....