Pakar Kehutanan: Pemanfaatan Limbah dan Biomassa Kunci Kemandirian Energi
- 18 Apr 2026 21:02 WIB
- Pontianak
RRI.CO.ID, Pontianak — Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Kalimantan Barat berkolaborasi dengan Dewan Energi Nasional (DEN) dan Pertamina menyelenggarakan Seminar Nasional Energi Terbarukan bertajuk "Akselerasi Transisi Energi di Kalimantan Barat" di Hotel Golden Tulip, Pontianak pada Sabtu, 18 April 2026 .
Satu di antara sorotan utama dalam agenda ini adalah paparan tajam dari Guru Besar Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura (UNTAN), Prof Dwi Astiani. Ia menekankan bahwa Kalimantan Barat ibarat "lumbung energi" yang kaya akan potensi biomassa dari limbah organik, yang mampu menjadi tulang punggung transisi energi di tingkat lokal hingga pelosok daerah.
Dalam pemaparannya, Dwi Astiani mengingatkan bahwa umur cadangan minyak bumi dalam negeri diperkirakan hanya tersisa sekitar 9 hingga 11 tahun lagi. Ketergantungan yang berlebihan pada energi fosil yang terus menipis dan berbiaya tinggi untuk dieksplorasi (seperti pengeboran laut dalam) merupakan posisi yang sangat rawan.
"Kita tidak boleh menunggu sampai bahan bakar fosil itu benar-benar habis. Paling tidak, harus ada energi pendamping (substitusi) yang dibangun dari sekarang. Terutama untuk memastikan desa-desa dan kawasan pelosok yang sulit dijangkau pasokan BBM tetap bisa memiliki akses energi alternatif," tegas Dwi Astiani dihadapan ratusan peserta yang terdiri dari akademisi, mahasiswa, dan pemangku kebijakan.
Lebih jauh, ia menjelaskan bahwa Kalimantan Barat memiliki stok bahan baku biomassa yang sangat melimpah-mulai dari limbah kehutanan (ranting dan sisa tebangan), limbah pertanian (sekam padi, bongkol jagung), limbah perkebunan (cangkang sawit), hingga tumpukan sampah organik perkotaan.
Secara ekologis, penggunaan biomassa untuk energi dapat menciptakan siklus karbon yang netral (zero emission). Gas karbon dioksida (CO2) yang dihasilkan dari pembakaran biomassa akan diserap kembali oleh pepohonan dan vegetasi baru yang ditanam, sehingga tidak memicu akumulasi gas rumah kaca secara tak terkendali di atmosfer layaknya pembakaran batu bara.
Dwi Astiani turut membagikan pengalamannya saat meninjau pengelolaan energi di Kota Borås, Swedia. Di kota tersebut, kemandirian energi berhasil dicapai melalui sistem pemilahan sampah organik rumah tangga secara otomatis, yang kemudian diolah melalui digester dan teknologi termal untuk menyuplai tenaga listrik dan pemanas ke seluruh penjuru kota.
Meski menjanjikan, Dwi Astiani tidak menampik adanya sejumlah tantangan teknis dan regulasi. Limbah biomassa umumnya memakan banyak tempat (bulky) sehingga biaya logistik antarwilayah bisa menjadi sangat mahal. Oleh karena itu, pendekatan desentralisasi, yakni membangun Pembangkit Listrik Tenaga (PLT) Biomassa berskala kecil di tingkat kecamatan atau pedesaan langsung di sumber limbahnya, adalah strategi yang paling logis.
Merespons kekhawatiran peserta mengenai potensi konflik kepentingan antara ekspansi perkebunan (seperti sawit) untuk ketahanan pangan versus kebutuhan bahan bakar biodiesel, sang Guru Besar memberikan catatan tegas.
"Hukum ekonomi pasti berlaku. Jika harga biomassa energi melonjak tajam, orientasi produksi berisiko beralih ke sana dan mengancam pasokan pangan," ungkapnya.
Oleh karena itu, menurut Dwi, diperlukan aturan negara yang sangat kuat. Lahan produktif pangan tidak boleh dikonversi. Ekspansi tanaman khusus energi (hutan tanaman energi) harus diarahkan secara ketat hanya pada lahan-lahan marjinal atau lahan kritis, serta memaksimalkan pengolahan dari limbah sisa, bukan dari produk utamanya.
Menutup paparannya, Prof. Dwi Astiani memberikan seruan inspiratif kepada generasi muda dan mahasiswa yang hadir untuk berani mengambil peluang di sektor ekonomi hijau (green economy). Transisi menuju energi terbarukan membuka banyak lapangan kerja dan inovasi baru di daerah.
"Limbah akan selalu ada setiap hari, bahan bakar fosil akan habis. Kalian pilih yang mana? Mulailah dari sekarang. Anak muda bisa masuk ke bisnis karbon, mendirikan pabrik pelet biomassa skala UMKM, mengelola instalasi biogas komunal yang menghasilkan pupuk cair gratis untuk petani, atau menjadi konsultan energi untuk kemandirian desa," pungkasnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....