PGRI Kalbar Gelar Seminar Cegah Ideologi Ekstrem Neo-Nazi

  • 12 Feb 2026 08:35 WIB
  •  Pontianak

RRI.CO.ID, Pontianak – Pengurus Provinsi PGRI Kalimantan Barat menggelar Seminar Kebangsaan bertema “Peningkatan Wawasan Guru sebagai Benteng Pencegahan Ideologi Ekstrem Neo-Nazi dan White Supremacy” di Aula Hadari Nawawi Universitas PGRI Pontianak, Rabu (11/2/2026). Seminar sebagai ini sebagai bentuk penguatan ketahanan ideologi di lingkungan pendidikan yang menjadi perhatian serius bagi para pendidik.

Kegiatan yang diikuti sekitar 140 peserta dari kalangan guru se-Kota Pontianak dan Kabupaten Kubu Raya tersebut menghadirkan unsur Pemerintah Daerah, Kepolisian, Akademisi, serta Perwakilan Densus 88 AT Polri sebagai narasumber.

Hadir dalam kegiatan tersebut antara lain Kapolresta Pontianak Kombes Pol Endang Tri Purwanto, S.I.K., M.Si., Asisten Pemerintahan dan Kesra Setda Kota Pontianak Ismail, S.H., M.H. mewakili Wali Kota Pontianak, Ketua PGRI Kalbar Dr. Muhamad Firdaus, M.Pd., serta sejumlah tokoh pendidikan dan pengurus PGRI Kalbar.

Ketua PGRI Kalbar Dr. Muhamad Firdaus dalam sambutannya menegaskan bahwa tantangan dunia pendidikan saat ini tidak hanya soal kualitas akademik, tetapi juga pembentukan karakter dan daya tahan ideologi peserta didik.

Menurutnya, guru memiliki posisi strategis dalam mendeteksi sejak dini perubahan perilaku siswa yang mengarah pada intoleransi maupun kecenderungan radikal.

“Pendidikan bukan hanya transfer ilmu, tetapi juga pembinaan karakter. Guru harus mampu menjadi penjaga nilai-nilai kebangsaan dan membangun generasi yang berintegritas,” ujarnya.

Ia juga menekankan bahwa peningkatan kualitas sumber daya manusia di Kalimantan Barat harus berjalan seiring dengan penguatan moral dan mental generasi muda.

Sementara itu, Kapolresta Pontianak Kombes Pol Endang Tri Purwanto dalam sambutannya menyoroti derasnya arus informasi di era digital yang membuka ruang masuknya ideologi ekstrem transnasional.

Ia menyampaikan bahwa paham seperti Neo-Nazi dan White Supremacy jelas bertentangan dengan Pancasila dan semangat Bhinneka Tunggal Ika. Generasi muda menjadi sasaran utama penyebaran paham tersebut melalui media sosial, konten digital, hingga propaganda terselubung dalam budaya populer.

“Sekolah harus menjadi safe zone, bukan hanya bebas dari kekerasan fisik, tetapi juga dari infiltrasi pemahaman yang menghalalkan kekerasan dan diskriminasi,” tegasnya.

Kapolresta juga menekankan pentingnya sinergi antara kepolisian, pemerintah daerah, lembaga pendidikan, dan masyarakat dalam melakukan langkah preemtif dan preventif.

Dalam sesi diskusi panel, narasumber dari Densus 88 AT Polri memaparkan berbagai pola radikalisasi terbaru, termasuk fenomena salad bar/mixed ideology dan paparan konten kekerasan di komunitas digital yang dapat menjadi pintu masuk ekstremisme.

Sementara itu, Plh. Kadisdikbud Provinsi Kalbar memaparkan strategi pencegahan intoleransi, radikalisme, ekstremisme, dan terorisme (IRET) di sekolah. Strategi tersebut meliputi penguatan pendidikan karakter berbasis Pancasila, literasi digital, deteksi dini perubahan perilaku siswa, serta koordinasi dengan orang tua dan pihak berwenang.

Guru juga didorong untuk peka terhadap indikator awal seperti penolakan terhadap simbol negara, sikap intoleran, penyebaran konten kebencian, hingga perubahan perilaku sosial yang drastis.

Pengurus PGRI Kalbar dalam materinya menegaskan bahwa ekstremisme tidak selalu hadir dalam bentuk simbol atau atribut tertentu, tetapi sering kali tumbuh dari sikap merasa paling unggul dan kebiasaan merendahkan kelompok lain.

“Jika hinaan dianggap candaan dan pengucilan dianggap biasa, maka itu menjadi pintu masuk dehumanisasi. Guru adalah garis pertahanan terakhir sebelum anak terseret lebih jauh,” disampaikan dalam paparan.

Seminar yang berlangsung hingga pukul 12.50 WIB tersebut berjalan aman dan kondusif. Para peserta aktif mengikuti diskusi serta sesi tanya jawab.

Melalui kegiatan ini, diharapkan guru semakin siap menjadi garda terdepan dalam membentengi generasi muda dari pengaruh ideologi ekstrem serta memperkuat peran sekolah sebagai ruang aman, inklusif, dan berkarakter kebangsaan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....