Songkok Recca, Warisan Budaya Suku Bugis

  • 30 Des 2024 14:36 WIB
  •  Makassar

KBRN, Makassar : Budaya suku bugis dikenal kaya, termasuk dalam hal berpakaian dan aksesoris pelengkapnya, dan yang sangat terkenal dan sering menjadi perwakilan aksesoris budaya nasional di Indonesia adalah Songkok Recca, yang juga dikenal sebagai Songkok Pamiring atau Songkok To Bone, adalah salah satu warisan budaya yang kaya dari Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan. Kopiah ini tidak hanya berfungsi sebagai penutup kepala, tetapi juga melambangkan identitas dan status sosial pemakainya. Dalam masyarakat Bugis, songkok ini memiliki makna yang dalam dan sering kali menjadi simbol kehormatan lebih dari sekadar penutup kepala; mereka adalah simbol sejarah, budaya, dan identitas masyarakat Bugis.

Sejarah Songkok Recca menurut indonesia.go.id dimulai pada tahun 1683, ketika Raja Bone ke-15, Arung Palakka, memimpin pasukannya dalam pertempuran melawan Tana Toraja. Dalam upaya untuk membedakan pasukannya dari musuh, Arung Palakka memerintahkan prajuritnya untuk mengenakan songkok sebagai tanda pengenal. Sejak saat itu, songkok ini dikenal sebagai Songkok Recca, yang berasal dari kata "recca" yang berarti "dipukul" dalam bahasa Bugis, merujuk pada proses pembuatan songkok dari serat pelepah daun lontar.

Pada masa pemerintahan Raja Bone ke-32, La Mappanyukki, Songkok Recca diresmikan sebagai kopiah kebesaran bagi raja dan bangsawan. Untuk membedakan derajat sosial, songkok ini dihiasi dengan pinggiran emas yang dikenal sebagai pamiring. Hanya anggota kerajaan dan bangsawan yang diperbolehkan mengenakan songkok ini, menjadikannya simbol status yang sangat dihormati.

Songkok Pamiring tidak hanya berfungsi sebagai aksesori, tetapi juga mencerminkan hierarki sosial dalam masyarakat Bugis. Semakin tinggi lingkaran emas pada songkok, semakin tinggi pula derajat pemakainya. Hanya raja dan keturunan langsung yang diperbolehkan mengenakan songkok dengan lapisan emas penuh, sementara golongan lain memiliki batasan tertentu dalam penggunaannya.

Setelah berakhirnya sistem kerajaan di Bone pada tahun 1959, penggunaan Songkok Pamiring mulai meluas. Kini, songkok ini dapat dikenakan oleh siapa saja, tanpa memandang status sosial. Meskipun demikian, songkok ini tetap dianggap istimewa dan sering dipakai dalam acara-acara resmi, menunjukkan bahwa pemakainya memiliki pemahaman tentang nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya.

Pembuatan Songkok Recca melibatkan teknik tradisional yang rumit. Serat pelepah daun lontar dipukul hingga tersisa serat halus, yang kemudian direndam dalam lumpur untuk mendapatkan warna hitam. Proses penganyaman dilakukan dengan menggunakan acuan yang disebut Assareng, yang terbuat dari kayu nangka. Ukuran dan desain songkok dapat disesuaikan dengan permintaan konsumen, menjadikannya produk yang unik dan personal.

Saat ini, Songkok Recca dan Songkok Pamiring tidak hanya diproduksi di Bone, tetapi juga di daerah lain di Indonesia. Masyarakat modern mulai menghargai nilai budaya yang terkandung dalam songkok ini, dan banyak pejabat serta tokoh masyarakat yang mengenakannya dalam acara formal. Songkok ini menjadi simbol kebanggaan dan identitas budaya yang terus dilestarikan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....