Kisah Ismael Saibari dari Anak yang Sulit Berjalan hingga Pahlawan Maroko
- 01 Jul 2026 12:30 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Ismael Saibari berlari memeluk sang ibu usai mencetak penalti penentu kemenangan Maroko atas Belanda di Piala Dunia 2026.
- Saibari lahir dengan kelainan pada kedua kaki dan sempat diprediksi dokter tidak akan bisa berjalan normal.
- Berkat perjuangan panjang bersama keluarganya, Saibari kini menjadi salah satu pahlawan Maroko yang membawa tim lolos ke babak 16 besar.
RRI.CO.ID, Jakarta - Euforia kemenangan Maroko atas Belanda di babak 32 besar Piala Dunia 2026 melahirkan satu momen yang menyentuh hati. Sesaat setelah memastikan kemenangan timnya lewat adu penalti, Ismael Saibari berlari ke tribun untuk memeluk sang ibu.
Momen itu terekam kamera dan dengan cepat menyebar di media sosial. Banyak warganet menyebut pelukan Saibari dengan ibunya sebagai salah satu adegan paling mengharukan sepanjang Piala Dunia 2026.
Di balik selebrasi tersebut, tersimpan perjalanan hidup yang tidak mudah. Saibari lahir dengan kelainan bawaan pada kedua kakinya yang membuat telapak kakinya menghadap ke dalam secara ekstrem.
Melansir dari Says, kondisi itu membuatnya kesulitan berjalan sejak kecil. Dalam sebuah wawancara pada 2024, Saibari mengungkapkan bahwa dokter sempat meragukan dirinya bisa berjalan normal.
"Ya, kaki saya menghadap jauh ke dalam sehingga saya harus menggunakan alat khusus. Bahkan dokter pernah mengatakan kepada orang tua saya bahwa mungkin saya tidak akan bisa berjalan dengan normal seumur hidup," ujar Saibari.
Di tengah prediksi tersebut, ibunya tidak pernah kehilangan harapan. Ia terus mendampingi proses pengobatan putranya sambil berharap suatu hari nanti Saibari bisa menjalani hidup seperti anak-anak lainnya.
"Ibu saya hanya berdoa agar saya bisa hidup normal. Syukurlah, sekarang saya memiliki kaki yang normal dan tubuh yang sehat," kata pemain berusia 24 tahun itu.
Saibari menjalani terapi menggunakan penyangga ortopedi selama lebih dari satu tahun untuk membantu membentuk posisi tulangnya. Kemudian pada 2007, krisis keuangan yang melanda Spanyol, memaksa keluarganya pindah ke Belgia saat usianya baru enam tahun.
Meski menghadapi berbagai kesulitan, kecintaannya terhadap sepak bola tidak pernah padam. Perjalanan panjang itu akhirnya membawanya tampil di panggung Piala Dunia bersama Timnas Maroko.
Pada laga melawan Belanda, Maroko sempat tertinggal lebih dulu sebelum Issa Diop mencetak gol penyeimbang pada masa injury time. Pertandingan kemudian berlanjut ke babak tambahan dan ditentukan melalui adu penalti.
Saibari menjadi penendang penentu kemenangan Maroko pada malam itu. Tendangannya memastikan Atlas Lions menang atas Belanda dan melaju ke babak 16 besar Piala Dunia 2026.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....