Berita Sepekan II: Rekor Gol Messi dan Serba-serbi di Luar Lapangan
- 26 Jun 2026 16:45 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Ragam cerita menarik dan momen unik hiasi pekan kedua Piala Dunia 2026
- Rekor Baru Messi: Resmi menjadi pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah Piala Dunia dengan total 18 gol.
- Persaingan sengit meraih top skor antara Messi, Mbappe, Haaland, dan Ronaldo.
- Drama di Luar Lapangan: Laga Prancis vs Irak ditunda akibat badai petir, kendala logistik tim Iran, dan aksi ikonik suporter Norwegia.
Lionel Messi Cetak Rekor Gol Terbanyak Sepanjang Sejarah Piala Dunia
RRI.CO.ID, Jakarta – Sejak kick-off pertama pada 12 Juni, kini Piala Dunia 2026 memasuki pekan kedua dengan tensi yang semakin meningkat. Pantauan RRI.co.id sejak 13-26 Juni, sejumlah catatan seminggu perjalanan pekan kedua Piala Dunia 2026 telah mampu menjadi magnet terbaru.
Haru biru lapangan hijau di dalam dan luar arena pertandingan, mulai terasa berbeda. Makin banyak pula kejutan-kejutan tak terduga yang terus menerus hadir.
Salah satu perhatian utama saat ini tertuju pada Lionel Messi yang kembali mencatat sejarah bersama Argentina. Ia resmi menjadi pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah Piala Dunia.
Adapun persaingan perebutan Sepatu Emas juga semakin sengit menjelang fase gugur. Kylian Mbappe, Erling Haaland, dan Cristiano Ronaldo terus menunjukkan ketajamannya demi merapat ke posisi puncak.
Di tengah ketatnya persaingan, sejumlah kisah tak terduga turut mencuri perhatian. Tanjung Verde dan Curacao membuktikan tim debutan mampu memberi perlawanan kepada negara besar.
Drama tidak hanya terjadi di dalam lapangan sepanjang pekan ini. Cuaca ekstrem hingga persoalan perjalanan tim turut menjadi perbincangan publik.
Suporter juga menghadirkan warna tersendiri selama berlangsungnya fase grup. Aksi ‘Viking Row’ dari pendukung Norwegia menjadi salah satu momen paling ikonik.
Dengan babak gugur semakin dekat, setiap pertandingan kini semakin berarti. Pekan kedua kian menunjukkan gambaran jelas tentang siapa yang siap berburu gelar juara.
Badai Petir di Tengah Pertandingan Prancis vs Irak
Lionel Messi kembali menorehkan sejarah di Piala Dunia 2026 bersama Argentina. Kapten Albiceleste itu kini menjadi pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah Piala Dunia.
Rekor itu tercipta saat Argentina menghadapi Austria di Grup J. Messi mencetak gol pembuka pada menit ke-38 di Dallas Stadium, Texas.
Gol tersebut membuat koleksi gol Piala Dunianya mencapai 17. Jumlah itu melewati rekor lama milik Miroslav Klose yang sudah bertahan sejak 2014.
Messi kemudian menambah satu gol lagi pada masa injury time. Tambahan itu membuat total golnya menjadi 18 dari enam edisi Piala Dunia.
Dengan capaian tersebut, Messi juga melampaui rekor Marta. Legenda Brasil itu sebelumnya memegang rekor gabungan putra dan putri dengan 17 gol.
Sebelum laga melawan Austria, Messi sudah menyamai catatan Klose. Ia melakukannya lewat hattrick saat Argentina menang 3-0 atas Aljazair.
Menariknya, pemain berusia 38 tahun itu sempat gagal mengeksekusi penalti. Namun kegagalan tersebut tidak menghalangi dirinya mencetak dua gol bersejarah tersebut.
Messi kini telah mengoleksi 121 gol dari 201 pertandingan internasional. Ia juga menjadi pemain ketiga yang mencetak gol pada enam Piala Dunia beruntun.
Pencapaian itu semakin menegaskan konsistensinya di level tertinggi. Messi bahkan baru menjadi pemain pria pertama yang tampil dalam enam Piala Dunia.
Kehadiran Messi dinilai sangat berpengaruh terhadap permainan Argentina. Rekan-rekannya merasa lebih percaya diri ketika sang kapten berada di lapangan.
"Jika ada yang berpikir tim ini lebih baik tanpa Leo (sapaan akrab Messi), hari ini jawabannya sudah jelas," kata Alexis Mac Allister, dikutip dari The Guardian. "Leo adalah sosok paling penting bagi kami."
Perjalanan menuju turnamen ini sebenarnya tidak sepenuhnya mulus bagi Messi. Ia sempat mengalami cedera hamstring dan menghadapi persoalan keluarga.
Setelah laga melawan Aljazair, Messi terlihat emosional saat merayakan golnya. Belakangan diketahui ayahnya sedang menjalani pemulihan dari masalah kesehatan.
Meski demikian, fokus dan komitmennya tetap terlihat sepanjang pertandingan. Ia terus bekerja keras bahkan ketika Argentina sedang kesulitan menguasai permainan.
"Itu terasa spesial seperti biasanya. Saya menikmati permainan dan senang bisa membantu tim meraih tiga poin,’ kata Messi.
Pelatih Argentina, Lionel Scaloni mengaku kehabisan kata untuk menggambarkan Messi. "Saya tidak punya kata-kata lagi, saat Leo 'aktif', semua pemain ikut termotivasi,”
Argentina kini berpeluang memastikan tiket ke babak berikutnya. Kemenangan atas Austria akan semakin mendekatkan mereka ke puncak klasemen Grup J.
Target besar Argentina adalah mempertahankan gelar juara dunia. Jika berhasil, mereka akan menjadi tim pertama sejak Brasil 1962 yang menjuarai Piala Dunia secara beruntun.
Skuad Iran Masih Hadapi Masalah Pelik
Piala Dunia 2026 terus menyajikan berbagai cerita menarik tak hanya dari dalam lapangan. Kini soal faktor cuaca turut mewarnai jalannya turnamen sepak bola akbar ini.
Amerika Serikat sebagai salah satu tuan rumah diketahui rentan menghadapi cuaca ekstrem pada musim panas. Beberapa pertandingan mungkin tak luput dari pengaruh cuaca tersebut.
Salah satunya saat pertandingan Prancis melawan Irak pada Grup I Piala Dunia 2026 yang harus ditunda sementara akibat badai petir. Laga tersebut berlangsung di Stadion Philadelphia, Amerika Serikat, Selasa, 23 Juni 2026.
Penundaan dilakukan pada babak kedua setelah cuaca buruk mulai mengganggu jalannya pertandingan di stadion. Keputusan tersebut diambil untuk menjaga keselamatan pemain, ofisial, dan seluruh penonton yang hadir.
"Badai petir hebat sedang mendekat. Dan berpotensi mengancam keselamatan seluruh pihak yang berada di stadion," tulis peringatan stadion.
"Mohon tinggalkan area tempat duduk terbuka. Segera cari tempat berlindung sesuai arahan petugas stadion," tulisnya, lagi.

Meski demikian, stadion tetap dipenuhi suporter yang memberikan dukungan langsung kepada kedua tim peserta. Hujan deras sempat mengguyur lapangan, namun pertandingan tetap berjalan hingga jeda babak pertama.
Bek Prancis Jules Kounde mengakui situasi tersebut berada di luar kendali tim. Menurutnya, para pemain hanya bisa menyesuaikan diri dengan kondisi yang ada.
"Itu di luar kendali kami. Kami hanya bisa beradaptasi,” kata Kounde dikutip dari The Athletics.
Deschamps juga menyadari tidak ada yang bisa dilakukan menghadapi cuaca ekstrem. "Anda tidak bisa melawan hujan atau petir," ujarnya.
Persaingan Ketat Menuju ‘Sepatu Emas’
Meski kini Iran sudah mendapat izin datang lebih awal ke Amerika Serikat, Timnas Iran masih saja menghadapi masalah perjalanan. Mereka tetap diwajibkan kembali ke markas di Tijuana, Meksiko, segera setelah laga melawan Mesir berakhir.
Pertandingan tersebut akan digelar di Seattle pada 26 Juni. Kota itu berjarak sekitar 1.000 mil dari pusat latihan Iran di Meksiko dan memerlukan penerbangan sekitar dua hingga tiga jam.
Aturan tersebut membuat Iran harus melakukan perjalanan malam hari usai pertandingan. Situasi itu dinilai kurang ideal mengingat pentingnya laga terakhir fase grup.
Pelatih Iran, Amir Ghalenoei, mengaku kecewa dengan kebijakan tersebut. Ia mempertanyakan alasan timnya harus langsung meninggalkan Amerika Serikat setelah pertandingan selesai.
Menurutnya, keputusan itu cukup mengganggu persiapan tim selama turnamen. Ia juga merasa pihak lain terlalu banyak menentukan agenda perjalanan Iran.
"Kami benar-benar terganggu oleh hal itu. Sejujurnya kami tidak tahu mengapa harus dipulangkan," kata Ghalenoei melalui penerjemah, dikutip dari The Athletics.
Pelatih berusia 63 tahun itu menilai situasi tersebut terasa tidak biasa. Ia menganggap pengaturan yang diterapkan kepada Iran berbeda dibanding yang dialami tim lain.
"Situasinya terasa sangat aneh. Sepertinya orang lain yang membuat perencanaannya untuk kami," ujarnya.
Ghalenoei kemudian menyampaikan kritik yang lebih tajam terhadap kondisi yang dihadapi skuadnya. Ia merasa Iran menjadi tim yang paling dirugikan selama berlangsungnya Piala Dunia 2026.
"Tim kami adalah yang paling tertindas di seluruh Piala Dunia," ucap Ghalenoei.
Terlepas dari keluhan tersebut, Iran kini fokus menghadapi Mesir pada laga penentuan Grup G. Hasil pertandingan itu akan sangat menentukan peluang mereka untuk melangkah ke babak gugur.
Laga melawan Mesir menjadi sangat krusial bagi Iran. Hasil pertandingan tersebut akan menentukan peluang mereka untuk melaju ke fase gugur Piala Dunia 2026.
Di satu sisi, dengan berbagai rintangan yang dihadapi, Iran sempat mendapat perhatian langsung dari FIFA. Presiden FIFA Gianni Infantino menemui skuad setelah laga melawan Selandia Baru.
Infantino beri apresiasi dan menilai para pemain tetap menunjukkan semangat tinggi sepanjang turnamen. Menurutnya, Iran mampu bertahan di tengah tekanan yang tidak mudah.
"Ini momen penting bagi Anda semua di Piala Dunia 2026," kata Infantino. Ia meminta para pemain terus berjuang dan memberikan yang terbaik.

Infantino juga menegaskan Iran masih memiliki peluang pada pertandingan berikutnya. Ia menyebut Team Melli layak tampil di panggung terbesar sepak bola dunia.
"Anda semua menunjukkan kepada dunia bahwa Anda layak berada di Piala Dunia," ujarnya. Pesan tersebut menjadi suntikan motivasi bagi skuad Iran.
Tanjung Verde Cetak Gol Pertama di Piala Dunia 2026
Piala Dunia 2026 menjadi panggung baik bagi para pemain bintang untuk unjuk kehebatannya. Dalam beberapa laga terakhir, Messi, Mbappe, Haaland, hingga Ronaldo sukses curi perhatian setelah nama mereka masuk dalam daftar persaingan top skor.
Messi menjadi sorotan utama setelah membawa Argentina menang 2-0 atas Austria. Dua golnya sekaligus mengantarkannya menjadi pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah Piala Dunia dengan koleksi 18 gol.
Kapten Argentina itu mencetak gol pada menit ke-38 dan masa injury time. Catatan tersebut membuatnya melampaui rekor sebelumnya dan memperkuat statusnya sebagai legenda sepak bola dunia.
“Rasanya spesial,” kata Messi usai pertandingan. Ia juga mengaku senang karena Argentina berhasil mengamankan tiket ke fase gugur lebih cepat.
Sementara itu, Mbappe juga menunjukkan ketajamannya bersama Prancis sepanjang fase grup. Penyerang berusia 27 tahun itu terus menempel Messi dalam perburuan Sepatu Emas Piala Dunia 2026.
Di kubu Norwegia, Haaland kembali menjadi andalan lini depan timnya. Striker Manchester City tersebut mencetak brace (dua gol dalam satu pertandingan) dan membantu Norwegia menjaga laju positif menuju babak berikutnya.
Penampilan impresif Haaland membuat persaingan pencetak gol semakin menarik. Duel antara Haaland dan Mbappe bahkan menjadi salah satu cerita terbesar sepanjang fase grup turnamen ini.
Tak kalah, Ronaldo juga tampil gemilang saat Portugal menghadapi Uzbekistan. Pemain berusia 41 tahun itu mencetak dua gol dalam kemenangan telak 5-0 Portugal.
Brace tersebut menjadi jawaban Ronaldo setelah Portugal gagal menang pada laga sebelumnya. Kehadirannya tetap menjadi faktor penting bagi ambisi Portugal di Piala Dunia 2026.
Secara keseluruhan, Messi kini memimpin daftar pencetak gol sementara turnamen dengan lima gol. Namun Mbappe, Haaland, dan Ronaldo masih terus membayangi dalam persaingan menuju gelar top skor.
Pengamat sepak bola Prancis, Julien Laurens, menilai para pemain bintang selalu memiliki motivasi lebih saat tampil di Piala Dunia. Menurutnya, target mereka tidak sebatas hanya mencatatkan nama di papan skor.
“Mereka cenderung selalu ingin menguasai bola. Mereka bukan hanya mengejar Sepatu Emas, tetapi juga rekor gol terbanyak sepanjang sejarah Piala Dunia,” kata Laurens kepada BBC, dikutip RRI.CO.ID pada 25 Juni 2026.
Ia menilai banyak pihak sempat memperkirakan Mbappe akan kembali menjadi pusat perhatian turnamen ini. Namun, rekor yang diburu penyerang Prancis tersebut kini sudah menjadi milik Messi.
“Kami sempat berpikir ‘Mbappe Show’ akan kembali terjadi, mengingat rekor yang ia kejar sangat luar biasa. Sekarang rekor itu dipegang oleh Messi,” ujarnya.
Sementara itu, pelatih Norwegia Ståle Solbakken memberikan pujian khusus kepada Haaland. Ia menilai striker andalannya tetap produktif meski tidak bermain untuk negara dengan tradisi kuat seperti Prancis atau Argentina.
“Haaland adalah penyerang terbaik Norwegia. Saat ini ia sudah mengoleksi empat gol dan dua kali mencetak brace di Piala Dunia,” kata Solbakken.
Solbakken mengakui peluang meraih Sepatu Emas biasanya lebih besar bagi pemain yang membela tim unggulan. Meski begitu, Norwegia bertekad membantu Haaland terus menambah gol sepanjang turnamen.
“Lebih mudah memenangkan Sepatu Emas jika bermain untuk Prancis atau Argentina. Kami ingin memberi Haaland lebih banyak pertandingan dan lebih banyak dorongan,” ucap Solbakken.
“Ia sedang dalam performa terbaik. Dan saya sangat senang melihatnya mencetak gol di panggung sepak bola besar seperti ini,” lanjutnya, lagi.
Aksi 'Viking Row' Guncang Piala Dunia 2026
Piala Dunia 2026 menghadirkan warna baru lewat penampilan sejumlah tim debutan. Setelah Curacao, kini Tanjung Verde yang langsung mencuri perhatian dunia.
Kehadiran mereka menjadi bukti format 48 tim membuka peluang lebih luas. Namun, keduanya menunjukkan kualitas yang tidak sekadar numpang lewat.
Di Grup H, Tanjung Verde juga menghadirkan kejutan besar. Mereka menahan imbang Spanyol 0-0 pada laga pertama turnamen.
Performa impresif itu berlanjut saat menghadapi Uruguay. Tanjung Verde bermain imbang 2-2 dan mencetak gol pertama mereka di Piala Dunia.
Gol Kevin Pina dari tendangan bebas langsung masuk catatan sejarah. Itu menjadi gol perdana Tanjung Verde di Piala Dunia.
“Kami juga datang ke sini sebagai sebuah negara mungkin kecil dan memiliki keterbatasan finansial. Tetapi kami ingin membuktikan kalau mereka tangguh, mereka tetap bisa berdiri sejajar dengan tim-tim besar dan para pemain kelas dunia.”
Pelatih Bubista menegaskan timnya datang dengan identitas kuat. “Kami juga datang ke sini sebagai sebuah negara mungkin kecil dan memiliki keterbatasan finansil,” kata Pedro Leitão Brito atau Bubista melalui penerjemah, dikutip dari FOX Sports, 25 Juni.
Kini peluang kedua tim masih terbuka menjelang laga terakhir grup. Curacao menghadapi Pantai Gading, sedangkan Tanjung Verde bertemu Arab Saudi.
Terlepas dari hasil akhir nanti, keduanya sudah menorehkan sejarah. Curacao dan Tanjung Verde membuktikan tim kecil juga mampu bersaing di panggung terbesar dunia.
Satu-persatu Tim Mulai ‘Angkat Koper’
Saat menghadapi Irak di Boston Stadium pada Rabu, 17 Juni, ribuan suporter Norwegia tampak memadati tribun. Mereka tampil dengan jersey merah dan berbagai atribut khas tim nasional.
Di tengah pertandingan, para pendukung memperagakan sorakan unik bernama 'Viking Row'. Atraksi itu terinspirasi dari budaya pelaut Viking yang melekat dengan sejarah Norwegia.
Para suporter bergerak seolah sedang mendayung perahu bersama-sama. Mereka juga meneriakkan kata "Ro!" secara berulang hingga menggema di stadion.

Aksi tersebut sukses menambah semarak suasana pertandingan. Bahkan, Viking Row tidak hanya dilakukan di dalam stadion.
Pada hari pertandingan, sejumlah pendukung terlihat melakukan atraksi serupa di sekitar Boston Gardens. Kehadiran mereka menarik perhatian banyak penggemar sepak bola dari negara lain.
Aksi itu akhirnya sampai juga ke para pemain Timnas Norwegia. Viking Row kembali terlihat saat Norwegia memastikan tiket ke babak 32 besar setelah laga yang digelar di Stadion New York New Jersey pada 23 Juni.
Usai pertandingan, Kapten Martin Ødegaard memimpin rekan-rekan setimnya melakukan Viking Row di tengah lapangan. Para pemain duduk berbaris sambil menirukan gerakan mendayung kapal.
Erling Haaland, Marcus Holmgren Pedersen, dan pemain lainnya ikut dalam selebrasi tersebut. Mereka bergerak serempak sambil bertepuk tangan mengikuti irama sorakan para pendukung.

Suasana stadion semakin meriah dengan kibaran bendera Norwegia. Warna merah, putih, dan biru mendominasi tribun sepanjang perayaan berlangsung.
Bagi Norwegia, Viking Row bukan sekadar selebrasi kemenangan. Tradisi itu menjadi simbol kebanggaan sekaligus kedekatan antara pemain dan para suporter.
Apa Kata Pengamat
Sebanyak tujuh negara telah resmi tersingkir, setelah menjalani dua hingga tiga pertandingan grup. Dari total 48 peserta, nantinya 16 tim akan terhenti langkahnya di fase grup Piala Dunia 2026.
Tim pertama yang dipastikan angkat koper adalah Haiti. Mereka kembali gagal meraih poin di Piala Dunia setelah kalah dari Skotlandia dan Brasil.
Haiti sebenarnya sempat memberikan perlawanan saat menghadapi Skotlandia. Namun peluang emas Frantzdy Pierrot belum mampu menghasilkan gol bersejarah bagi negaranya.
"Tetap terasa mengecewakan karena kami tidak dapat satu poin pun," ujar striker Haiti, Wilson Isidor. Meski demikian, Isidor optimis generasi pemain Haiti bisa kembali lebih kompetitif di masa depan.
"Dengan generasi yang kami miliki sekarang, saya yakin dalam empat tahun kami akan kembali. Kami akan datang untuk meraih poin pertama kami di Piala Dunia," kata Isidor, penuh percaya diri.
Kejutan besar datang dari Turki yang sebelumnya dianggap sebagai salah satu kuda hitam. Meski mencatat 62 tembakan dalam dua pertandingan, mereka tak mampu mencetak satu gol pun.
Tunisia juga mengalami masa yang sulit setelah kebobolan sembilan gol dalam dua pertandingan. Kekalahan telak dari Swedia dan Jepang memastikan mereka gagal lolos dari grup.
Pergantian pelatih dari Sabri Lamouchi kepada Herve Renard tidak membawa perubahan berarti. Jepang tetap mampu menang meyakinkan dan mengakhiri harapan Tunisia.
"Kami tidak punya cukup waktu untuk bekerja. Alih-alih memperbaiki yang sudah ada, kami malah membongkar semuanya dan memulai dari awal setiap saat," ujar bek Tunisia, Ali Abdi.
Tim debutan, Yordania, turut tersingkir dari persaingan. Mereka kalah dari Austria dan Algeria meski berhasil mencetak gol dalam kedua pertandingan.
Panama menjadi tim berikutnya yang harus mengakhiri perjalanan mereka lebih cepat. Kekalahan tipis dari Ghana dan Kroasia membuat peluang lolos mereka tertutup.
Gol Ante Budimir untuk Kroasia menjadi penentu nasib Panama. Laga tersebut juga menandai penampilan internasional ke-200 Luka Modric bersama negaranya.
RRI.CO.ID juga meminta tanggapan salah satu pengamat sepak bola, Estu Ernesto mengenai cerita yang paling menarik sepanjang dua pekan Piala Dunia 2026 berjalan. Yang menjadi perhatian utama Estu ternyata datang dari segi pemain.
Dirinya menilai pemain senior masih menjadi salah satu cerita terbesar turnamen kali ini. Menurutnya, usia bukan lagi penghalang bagi pemain untuk tetap tampil sebagai andalan tim.
Ia mencontohkan sejumlah pemain kenamaan seperti Cristiano Ronaldo, Lionel Messi, Luka Modric, Manuel Neuer, Yuto Nagatomo, hingga Vozinha. Mereka tetap dipercaya memperkuat negaranya meski sebagian sudah berusia di atas 38 tahun.
“Jadi menarik, ternyata sepak bola bukan hanya milik anak-anak muda. Tapi pemain-pemain senior juga masih oke,” ujarmya kepada RRI.CO.ID, Jumat, 26 Juni 2026.
Kualitas pemain menurutnya tetap menjadi pertimbangan utama dibanding faktor usia. "Paling tidak, ini menunjukkan kalau usia bukan alasan untuk tidak berprestasi," lanjutnya.
Estu juga menyoroti berbagai rekor yang dicapai oleh nama-nama legendaris seperti Messi dan Ronaldo di Piala Dunia kali ini. Namun, ia enggan memperdebatkan siapa yang lebih hebat antara keduanya.
“Saya rasa tidak perlu diperdebatkan antara Messi atau Ronaldo, siapa yang paling jago atau apa. Tapi yang pasti, selama masih ada dua orang ini, terutama Messi, dunia akan masih terhibur dengan sepak bola yang ada,” ujarnya.
Menurutnya, masing-masing pemain pasti punya nilainya sendiri. "Biarkan mereka menjadi bagian dari sepak bola yang menarik ini," ucap Estu, melanjutkan.
Di sisi lain, ia melihat generasi penerus mulai bermunculan. Kylian Mbappe, Erling Haaland, dan Vinicius Junior dinilai siap menggantikan dominasi pemain-pemain senior seperti Messi dan Ronaldo.
Untuk Mbappe, Estu mengatakan dirinya memiliki peluang besar menandingi rekor hebat milik Messi. Apalagi, penyerang asal Prancis itu masih berpeluang tampil pada dua hingga tiga edisi Piala Dunia berikutnya.
“Usianya baru 27, sementara sekarang catatan dia di Piala Dunia juga sudah menyamai catatan senior-seniornya. Jadi menurut saya ada kemungkinan dia bisa menggeser Messi,” katanya.
Kalau melihat dari persaingan top skor sementara ini, Mbappe memang yang paling mendekati Messi dengan selisih 1 gol saja. Lantas, apa benar Mbappe akan mampu menandingi sang 'GOAT" tersebut? waktu akan menjawabnya.
Soal tim debutan yang tampil luar biasa di Piala Dunia ini, Estu punya pandangan dari sisi lain. Menurutnya, keberhasilan mereka tidak lepas dari fenomena pemain diaspora yang semakin berkembang.
“Contoh kalau kita bicara Curacao atau Tanjung Verde. Sebenarnya mereka nyaris 90 persen pemainnya tidak lahir dan dibesarkan dibesarkan di negara itu,” ujar Estu.
Menurut Estu, pengalaman tumbuh di negara berbeda turut memengaruhi karakter bermain para pemain. “Beberapa dari mereka ada yang besar di Belanda, dilatih di Belanda, makanya cara bermain seperti itu mungkin karena terbawa faktor itu,”
Hanya saja, karena terkait soal keimigrasian dan serba-serbi peraturan FIFA, mereka harus bermain di bawah nama negara asal muasal keluarga mereka. "Tapi sebenarnya sah-sah saja, ini bagian dari dinamika baru di sepak bola," ucapnya.
Estu mencontohkan fenomena serupa juga terlihat pada Timnas Indonesia yang memanfaatkan pemain diaspora. Intinya, pengalaman tumbuh di negara berbeda turut memengaruhi karakter bermain para pemain.
Selain itu, bicara tentang satu-persatu tim tersingkir dari Piala Dunia 2026, menurutnya, Turki menjadi salah satu yang paling disayangkan. Mereka sebenarnya cukup agresif, tapi penyelesaian akhirnya belum ada yang sukses satupun.
“Tragis kan sebenarnya. Jadi shoot-nya banyak sampai 62 di dua pertandingan, tapi kenyataannya dia bukan nggak menang lagi, cetak gol aja nggak,” ujarnya.
Timnas Turki, kata Estu, pernah punya pemain yang bagus, seperti Umit Davala dan Hakan Sukur misalnya. Sementara saat ini, belum ada yang menyamakan level ketajaman seperti itu.
“Ini agak-agak bercanda aja ya. Tapi Turki ciptakan lagi, dong, striker-striker bagus seperti Hakan Sukur,” ucap dia.
“Saya memang nggak ada hak untuk bicara begitu, tapi menurut saya, ya itu catatan penting untuk evaluasi Timnas Turki. Biar mereka bisa lebih menyukseskan peluang-peluangnya saat bertanding, siapa tahu saja mereka mendengar saya” lanjutnya, sambal tertawa.
Di luar pertandingan, Estu justru memilih kampanye Bandara Changi Singapura sebagai momen favoritnya sejauh ini. Bandara tersebut membuat film pendek bertajuk “Where World Come to Play” untuk menyemarakkan Piala Dunia sekaligus mendukung Timnas mereka sendiri.
Ia menilai kampanye itu mampu menghubungkan euforia Piala Dunia dengan promosi sepak bola nasional. Menurutnya, pendekatan serupa layak dicontoh negara lain, termasuk Indonesia.
“Padahal momen ini bagus untuk campaign sekaligus penghargaan perjuangan pemain timnas kita, walaupun kita nggak lolos Piala Dunia juga. Tapi mengkaitkan sepak bola kearifan lokal kita dengan hype yang lagi ada kan menarik, kok kita nggak kepikiran bikin begitu juga?” ucapnya.
Secara keseluruhan, pekan kedua Piala Dunia 2026 masih menghadirkan lebih dari sekadar kemenangan dan kekalahan. Rekor baru, persaingan para bintang, kejutan tim debutan, hingga cerita di luar lapangan menunjukkan turnamen ini terus melahirkan momen yang layak dikenang.
Memasuki fase gugur, persaingan dipastikan semakin sengit karena setiap laga menjadi penentu langkah menuju gelar juara dunia. Berbagai kisah yang telah tercipta sejauh ini pun menjadi pengingat bahwa Piala Dunia selalu menghadirkan cerita yang melampaui 90 menit pertandingan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....