Gelombang Protes Bayangi Pembukaan Piala Dunia 2026 di Meksiko
- 07 Jun 2026 16:45 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Ribuan guru di Meksiko menggelar aksi protes menjelang Piala Dunia 2026 dan mengancam melanjutkan demonstrasi selama turnamen berlangsung.
- Demonstran menuntut kenaikan gaji serta pencabutan aturan pensiun, sementara bentrokan dengan polisi menyebabkan sejumlah peserta aksi terluka.
- Gelombang protes mulai memengaruhi aktivitas pemerintahan dan bisnis di Mexico City, serta memunculkan kekhawatiran terhadap kelancaran penyelenggaraan Piala Dunia.
RRI.CO.ID, Jakarta - Gelaran Piala Dunia 2026 di Meksiko dibayangi aksi protes besar yang dilakukan ribuan guru dalam beberapa hari terakhir. Para demonstran bahkan mengancam akan terus menggelar aksi selama turnamen berlangsung, jika tuntutan mereka tidak dipenuhi pemerintah.
Melansir dari The Guardian, aksi terbaru terjadi di pusat Kota Mexico City pada Selasa, 2 Juni 2026, waktu setempat. Guru-guru yang tergabung dalam serikat independen Meksiko, Coordinadora Nacional de Trabajadores de la Educación (CNTE). Mereka turun ke jalan dan memblokade sejumlah ruas utama ibu kota.
Mereka juga merobohkan manekin raksasa berbentuk pemain sepak bola yang dipasang sebagai bagian dari promosi Piala Dunia. Manekin tersebut kemudian dibakar bersama sejumlah bola sepak sebagai bentuk protes terhadap pemerintah.
Para demonstran menuntut kenaikan gaji dan pencabutan aturan pensiun yang dinilai merugikan pekerja. Hingga kini, negosiasi dengan pemerintah belum menghasilkan kesepakatan yang memuaskan.
Aksi demonstrasi tersebut berlangsung hanya beberapa hari sebelum pertandingan pembuka Piala Dunia digelar di Meksiko. Situasi itu memunculkan kekhawatiran terhadap kesiapan negara tuan rumah dalam menyelenggarakan ajang olahraga terbesar di dunia tersebut.
Tekanan terhadap pemerintah semakin meningkat setelah bentrokan antara demonstran dan aparat keamanan terjadi sehari sebelumnya. Guru-guru yang bergerak menuju kawasan Zócalo dilaporkan dibubarkan oleh polisi antihuru-hara.
Pimpinan serikat menyebut sedikitnya lima orang mengalami luka-luka dalam insiden tersebut. Namun otoritas Mexico City membantah tuduhan penggunaan peluru karet maupun gas air mata saat menghalau massa.
Pada aksi lanjutan yang digelar, para demonstran berkumpul di depan Kementerian Dalam Negeri untuk mengecam tindakan aparat. Mereka meneriakkan slogan "Jika tidak ada solusi, bola tidak akan bergulir" sebagai peringatan kepada pemerintah menjelang Piala Dunia.
"Ini menunjukkan bahwa ruang publik milik rakyat bisa diprivatisasi sesuka hati demi kepentingan perusahaan-perusahaan besar di balik Piala Dunia. Sementara perjuangan hak-hak pekerja justru dikesampingkan," kata salah satu pemimpin serikat, Filiberto Frausto, dikutip dari The Guardian, Minggu, 7 Juni 2026.
Dampak aksi protes juga dirasakan pemerintah pusat kota Meksiko. Presiden Meksiko, Claudia Sheinbaum, bahkan harus menggelar pertemuan secara daring dengan pejabat tinggi Spanyol. Hal ini dilakukan, setelah akses menuju kawasan Zócalo dan Istana Nasional diblokade demonstran.
Meski demikian, Sheinbaum menegaskan pemerintah masih membuka ruang dialog dengan para guru. Ia mengakui tidak semua tuntutan dapat dipenuhi karena keterbatasan anggaran negara.
"Melalui dialog, kami akan mencoba menyelesaikan masalah yang memungkinkan untuk diselesaikan. Ada beberapa tuntutan yang tidak bisa sepenuhnya dipenuhi oleh anggaran, tetapi ada juga yang bisa kami tangani," ujar Sheinbaum.
Para guru menilai perundingan yang berlangsung selama ini belum menunjukkan hasil nyata. Mereka menegaskan aksi protes akan terus berlanjut hingga pemerintah memberikan solusi yang konkret.
Gelombang demonstrasi juga mulai memicu kekhawatiran di kalangan pelaku usaha yang berharap Piala Dunia dapat mendatangkan keuntungan ekonomi. Kehadiran tenda-tenda demonstran dan penutupan sejumlah jalan disebut berdampak terhadap aktivitas bisnis di kawasan pusat kota.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....