Ketika Pujian Hilang, Kritik Jadi Santapan Harian
- 30 Sep 2025 11:29 WIB
- Pekanbaru
KBRN, Pekanbaru : Bekerja di bawah pemimpin yang kritis adalah hal biasa. Namun, bagaimana jika kritik datang tanpa henti, sementara apresiasi jarang bahkan hampir tidak pernah terdengar? Situasi ini sering membuat karyawan merasa tertekan, serta kehilangan motivasi.
Fenomena pemimpin yang lebih fokus pada kesalahan ketimbang pencapaian bukanlah hal baru. Jack Zenger dan Joseph Folkman dalam Harvard Business Review (HBR) mencatat, banyak manajer memang terlatih menemukan kelemahan, namun minim keterampilan memberi pengakuan.
“Mereka sering berpikir bahwa tugas utama manajer adalah memperbaiki kekurangan, bukan menonjolkan kekuatan,” tulis keduanya.
Menurut data survei Gallup (2022) menunjukkan, 79 persen karyawan yang keluar dari pekerjaannya menyebut kurangnya apresiasi sebagai faktor utama. Gallup menegaskan bahwa pengakuan bukan sekadar formalitas, melainkan faktor penting yang berhubungan langsung dengan keterikatan karyawan, produktivitas, bahkan retensi tenaga kerja.
Psikolog dan penulis Radical Candor, Kim Scott, menekankan pentingnya cara karyawan menyikapi kritik yang datang. “Pisahkan isi kritik dengan cara penyampaiannya. Kritik bisa berguna, meski disampaikan dengan gaya yang kurang enak,” ujarnya seperti dikutip dari artikel HBR.com. Artinya, tidak semua komentar negatif perlu dianggap serangan personal.
Selain mengubah cara pandang, karyawan juga bisa mengambil langkah proaktif. Salah satunya dengan meminta umpan balik yang spesifik. Forbes menulis, teknik meminta dua hal positif dan satu hal yang perlu diperbaiki dapat membantu menciptakan percakapan yang lebih seimbang.
Cara ini juga memaksa atasan untuk melihat sisi baik pekerjaan, bukan hanya kekurangannya. Banyak yang menyebut gaya kepemimpinan seperti ini sebagai fault-finding leadeship.
Strategi lain adalah mendokumentasikan pencapaian.Laporan kerja yang berisi data konkret memudahkan atasan melihat hasil, bukan sekadar kesalahan. Misalnya, menyusun ringkasan capaian mingguan atau bulanan agar kontribusi lebih terlihat.
Jika atasan tetap sulit memberi apresiasi, jangan ragu membangun sumber pengakuan alternatif. Laporan Gallup-Workhuman 2023 menunjukkan, dukungan dari rekan kerja atau mentor dapat menutup celah apresiasi yang tidak diberikan manajer. Budaya saling mengakui prestasi antarpegawai juga terbukti meningkatkan semangat tim.
Dalam konteks Indonesia, perlu untuk menyoroti pentingnya menjaga batas profesional ketika berhadapan dengan atasan yang emosional. Catat setiap insiden yang berlebihan, jaga komunikasi tetap sopan, dan bila perlu manfaatkan jalur resmi HR agar situasi tidak merugikan diri sendiri.
Akhirnya, bekerja di bawah pemimpin yang jarang mengapresiasi memang penuh tantangan. Namun, dengan strategi tepat mulai dari mengubah cara pandang, meminta umpan balik spesifik, mendokumentasikan prestasi, hingga mencari pengakuan dari jaringan lain karyawan tetap bisa menjaga semangat dan arah kariernya.
Apresiasi mungkin tidak selalu datang dari atasan, tetapi itu tidak berarti kerja keras Anda tak bernilai.