Kolaborasi Jaga Alam di PLTA Koto Panjang, Aren Jadi Pilihan untuk Pulihkan Kawasan
- 30 Agt 2026 16:58 WIB
- Pekanbaru
RRI.CO.ID, Kampar - Upaya menjaga keanekaragaman hayati di kawasan PLTA Koto Panjang terus diperkuat melalui penerapan program Biodiversity Safeguard. Program tersebut menjadi langkah bersama untuk menjaga hutan, satwa liar, ekosistem perairan, sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan.
Kegiatan penerapan Biodiversity Safeguard di kawasan PLTA Koto Panjang dilaksanakan pada Sabtu, 29 Agustus 2026. Program ini merupakan pilot project yang dikembangkan oleh Rimba Satwa Foundation (RSF) bersama WWF Indonesia, dengan dukungan Uni Eropa, serta berkolaborasi dengan PT PLN (Persero).
Kepala Desa Pulau Gadang, Kabupaten Kampar, Syofian, mengatakan kawasan hutan di sekitar Batang Ulak memiliki kekayaan alam yang sangat penting untuk dijaga.
Menurutnya, kawasan tersebut memiliki beragam jenis tumbuhan dan hasil hutan yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat. Karena itu, pemanfaatan kawasan hutan perlu dilakukan secara bijak tanpa merusak ekosistem yang ada.
Salah satu upaya yang mulai dikembangkan masyarakat adalah sistem tumpang sari dengan menanam pohon aren di kawasan yang vegetasinya tidak terlalu lebat.
“Sekarang kami lebih mengarahkan kepada sistem tumpang sari. Di kawasan hutan yang tidak terlalu lebat, kami mencoba menanam aren. Kalau dirawat dengan baik, aren ini juga memiliki manfaat ekonomi yang sangat besar bagi masyarakat,” ujar Syofian.
Ia menjelaskan, aren merupakan tanaman kehutanan yang memiliki banyak manfaat. Selain dapat memberikan nilai ekonomi, penanaman aren juga diharapkan dapat membantu menjaga kondisi lingkungan dan ekosistem hutan.
Pemerintah Desa Pulau Gadang telah mulai melakukan penanaman aren di sejumlah lokasi. Ke depan, kegiatan tersebut diharapkan mendapat dukungan melalui kolaborasi dengan RSF, WWF Indonesia, PLN, dan berbagai pihak lainnya.
Syofian menilai perlindungan hutan tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja. Menurutnya, diperlukan kerja sama antara masyarakat adat, pemerintah desa, lembaga lingkungan, pemerintah, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya.
“Untuk menjaga hutan ini, kita harus bersama-sama. Kalau berjalan sendiri-sendiri, bisa muncul ego sektoral. Nenek mamak memiliki peran dan haknya, pemerintah desa memiliki aturan dan regulasi, sementara lembaga lingkungan memiliki keahlian dalam pendampingan. Semua harus berkolaborasi,” katanya.
Ia juga mendorong adanya pembentukan posko lingkungan yang aktif di kawasan tersebut. Posko tersebut diharapkan tidak hanya berfungsi untuk membantu menjaga kawasan, tetapi juga menjadi pusat edukasi bagi masyarakat.
Menurut Syofian, masih terdapat masyarakat yang belum sepenuhnya memahami dampak dari aktivitas seperti penebangan liar dan perburuan satwa liar.
“Edukasi sangat penting. Masyarakat perlu memahami apa dampak kerusakan hutan bagi kehidupan kita dan bagi masa depan anak cucu,” ujarnya.
Sementara itu, Tim Leader Sipil Bendungan dan Lingkungan PLN PLTA Koto Panjang, Yauma Audina, mengatakan terdapat sejumlah titik atau grid yang menjadi perhatian dalam program Biodiversity Safeguard di kawasan sekitar genangan PLTA Koto Panjang.
Dari sejumlah titik tersebut, lokasi yang dipilih untuk kegiatan awal merupakan salah satu area yang dinilai kritis dan relatif mudah dijangkau untuk dilaksanakan bersama.
“Kami memiliki beberapa grid yang telah menjadi perhatian. Untuk program jangka pendek, kami memilih lokasi yang paling memungkinkan untuk segera dilakukan penanganan bersama,” kata Yauma.
Salah satu persoalan yang ingin ditangani melalui kegiatan tersebut adalah sedimentasi. Karena itu, dilakukan penanaman aren sebagai salah satu bentuk upaya rehabilitasi kawasan.
Menurut Yauma, terdapat beberapa lokasi lain yang kondisinya lebih kritis karena vegetasinya telah mengalami kerusakan cukup berat. Namun, sebagian lokasi tersebut berada di wilayah yang lebih jauh dan sulit dijangkau.
Oleh sebab itu, untuk tahap awal, kegiatan difokuskan pada kawasan yang berada lebih dekat dengan area bendungan.
“Untuk jangka pendek, kami mencoba memulai dari lokasi yang paling dekat dengan kawasan bendungan. Semoga ini menjadi titik awal untuk kegiatan yang lebih besar ke depan bersama para pemangku kepentingan lainnya,” ujarnya.
Di sisi lain, Project Leader Biodiversity Safeguard RSF, Git Fernando, mengatakan kawasan PLTA Koto Panjang memiliki potensi keanekaragaman hayati yang sangat tinggi.
Menurutnya, berbagai jenis satwa dilindungi masih dapat ditemukan di kawasan tersebut. Salah satunya adalah lutung yang merupakan satwa khas Pulau Sumatra dan memiliki status perlindungan, selain berbagai jenis satwa lainnya.
“Kawasan di sekitar PLTA Koto Panjang memiliki biodiversitas yang sangat baik. Di sini terdapat berbagai satwa yang dilindungi, termasuk primata, burung migran, serta satwa liar lainnya,” kata Git.
Ia menyebutkan sejumlah satwa yang pernah ditemukan atau teridentifikasi di kawasan tersebut, antara lain beruang, kijang, rusa, kancil jenis napu, serta landak. Tim juga pernah menemukan jejak harimau di kawasan tersebut.
Keberadaan berbagai jenis satwa tersebut, menurut Git, menjadi salah satu indikator bahwa sebagian habitat di kawasan PLTA Koto Panjang masih berada dalam kondisi yang baik.
“Kalau satwanya masih banyak dan tumbuhan pentingnya masih ada, itu menunjukkan habitatnya masih cukup baik,” jelasnya.
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, terdapat 18 grid yang menjadi bagian dari kajian kawasan. Namun, tidak seluruh lokasi berada dalam kondisi lahan kritis.
“Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 18 grid tersebut, tidak semuanya merupakan lahan kritis. Hanya bagian-bagian tertentu yang membutuhkan perhatian dan penanganan khusus. Lokasi ini merupakan salah satu kawasan yang menjadi perhatian,” ujarnya.
Git Fernando menjelaskan konsep Biodiversity Safeguard tidak hanya berfokus pada perlindungan satwa dan lingkungan. Program tersebut juga mempertimbangkan kehidupan dan kebutuhan masyarakat di sekitar kawasan.
Karena itu, pemilihan jenis tanaman yang ditanam harus dilakukan secara selektif agar memberikan manfaat bagi lingkungan sekaligus masyarakat.
“Kita tidak hanya berpikir tentang satwa dan lingkungan, tetapi juga manusia yang tinggal di sekitar kawasan ini. Tanaman yang dipilih harus memiliki manfaat untuk ekosistem dan juga masyarakat,” katanya.
Menurutnya, aren menjadi salah satu komoditas yang sesuai karena memiliki berbagai manfaat. Dari sisi lingkungan, tanaman tersebut dapat membantu menjaga kondisi tanah dan mengurangi laju sedimentasi.
Selain itu, keberadaan vegetasi juga dapat memberikan fungsi ekologis bagi ekosistem perairan, termasuk menciptakan kondisi lingkungan yang lebih baik bagi berbagai organisme.
“Jangan sampai kita hanya menanam, tetapi tanaman tersebut tidak memberikan manfaat. Aren memiliki nilai ekologis sekaligus nilai ekonomi bagi masyarakat,” ujarnya.
Penerapan program Biodiversity Safeguard di kawasan PLTA Koto Panjang diharapkan menjadi langkah awal untuk memperkuat perlindungan keanekaragaman hayati melalui kerja sama berbagai pihak.
Kolaborasi antara masyarakat, pemerintah desa, lembaga konservasi, WWF Indonesia, RSF, PLN, serta pemangku kepentingan lainnya diharapkan dapat menciptakan keseimbangan antara perlindungan lingkungan, keberlanjutan ekosistem, dan kesejahteraan masyarakat.
Melalui program tersebut, kawasan PLTA Koto Panjang diharapkan tidak hanya menjadi kawasan penting dalam penyediaan energi, tetapi juga tetap mampu menjaga hutan, satwa liar, sumber daya air, dan kekayaan keanekaragaman hayati untuk generasi mendatang.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....