Kunjungan Bersama ke Kampung Adat Desa Buluh Cina Warnai Semarak RRI Fest 2026

  • 22 Agt 2026 16:33 WIB
  •  Pekanbaru

RRI.CO.ID, Pekanbaru - RRI Pekanbaru bersama Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) menggelar Pekan Rakyat Lingkungan Hidup di Kampung Adat Desa Buluh Cina, Kabupaten Kampar, dalam rangka semarak RRI Fest 2026. Kegiatan ini diisi dengan diskusi adat, tradisi makan bajambau, serta aksi penanaman pohon bersama di kawasan Taman Wisata Alam (TWA) Desa Buluh Cina pada Sabtu 22 Agustus 2026.

Acara tersebut dihadiri oleh Kepala Desa Buluh Cina Azrianto, Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau Supartono, serta Dewan Nasional WALHI Muhamad Juaini.

Kepala Desa Buluh Cina, Azrianto, menjelaskan bahwa rangkaian acara dirancang untuk memperkenalkan kekayaan budaya sekaligus merawat alam desa secara bersama-sama. Agenda dimulai dengan diskusi adat yang dipimpin langsung oleh Pucuk Adat Desa Buluh Cina, Datu Amirun Tage selaku Datu Mojelelo, untuk memaparkan kearifan lokal dan tradisi setempat.

"Nanti di sana akan disampaikan pemaparan masalah kearifan lokal dan tradisi-tradisi yang ada di Desa Buluh Cina ini. Dan selanjutnya juga nanti ada namanya makan bajambau... serta sesi penanaman pohon yang akan diikuti oleh seluruh peserta di dalam hutan Taman Wisata Alam Desa Buluh Cina," ujar Azrianto.

Sementara itu, Kepala BBKSDA Riau, Supartono, menekankan pentingnya kerja sama lintas sektor dalam mengelola kawasan konservasi. Menurutnya, pemerintah tidak bisa berjalan sendiri tanpa dukungan dari pemerintah desa, daerah, dan para pemangku adat dalam membangun potensi wisata yang besar di kawasan TWA.

"Kami butuh Pak Kades, kami butuh pemerintah daerah, kami butuh datuk-datuk dalam pengelola wisata karena memang banyak hal yang kita butuhkan, sumber daya yang kita butuhkan untuk membangun wisata," kata Supartono.

Pada kesempatan yang sama, Dewan Nasional WALHI, Muhamad Juaini, mengingatkan bahwa praktik pelestarian alam bukanlah hal baru bagi masyarakat adat. Jauh sebelum istilah konservasi dan ekologi modern dikenal, masyarakat adat telah secara turun-temurun menjaga ruang hidup dan sumber-sumber kehidupan dengan cara yang luhur.

"Jauh sebelum kita mengenal istilah konservasi, istilah ekologi, masyarakat adat itu sudah punya nilai-nilai, sudah mulai menjaga ruang hidup dan sumber-sumber kehidupan dengan cara yang sangat luhur. Dan saya kira itu yang perlu dan patut kita jaga," ungkap Juaini.

Melalui sinergi yang terjalin dalam RRI Fest 2026 ini, besar harapan agar Desa Buluh Cina dapat terus tumbuh menjadi teladan sebagai kampung adat yang mandiri, lestari, dan tangguh dalam ekowisata. Dengan terjaganya kelestarian hutan Taman Wisata Alam serta kuatnya komitmen lintas sektoral, Desa Buluh Cina diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan warganya sekaligus menjaga warisan ekologis bagi generasi masa depan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....