Petani Durian Riau Keluhkan Lonjakan Harga Pupuk, Subsidi Dinilai Belum Ada

  • 24 Jun 2026 14:52 WIB
  •  Pekanbaru

RRI.CO.ID, Pekanbaru - Petani dan pekebun bibit durian di Riau, Ridwan Nurbaqin, mengungkapkan kekhawatirannya terhadap terus meningkatnya harga pupuk yang dinilai semakin membebani biaya produksi di sektor perkebunan. Kenaikan harga tersebut dirasakan langsung oleh petani, terutama pada komoditas hortikultura seperti durian yang belum banyak tersentuh program subsidi pemerintah.

Ridwan menyebutkan bahwa harga pupuk di pasaran saat ini sudah berada pada tingkat yang cukup tinggi. Beberapa jenis pupuk bahkan dilaporkan mencapai harga sekitar Rp30.000 per kilogram, tergantung jenis dan kualitasnya. Kondisi ini membuat petani harus mengeluarkan biaya lebih besar untuk menjaga keberlangsungan usaha perkebunan mereka.

“Pupuknya ini macam-macam, dan ada yang harganya sampai Rp30.000 satu kilo. Ini sudah sangat berat bagi kami petani,” ujarnya.

Selain itu, ia juga menyoroti kenaikan harga pupuk jenis NPK Mutiara yang menurutnya mengalami peningkatan cukup signifikan dalam beberapa waktu terakhir. Ridwan menyebutkan bahwa harga pupuk tersebut kini telah menembus angka di atas Rp800.000 per sak, naik dari sebelumnya yang berada di kisaran Rp700.000-an.

“Untuk NPK Mutiara sekarang sudah sekitar Rp800.000 lebih. Naiknya sekitar Rp100.000 dari sebelumnya,” jelasnya, Rabu 24 Juni 2026.

Kenaikan harga pupuk tersebut dinilai berdampak langsung terhadap biaya operasional petani, khususnya bagi pekebun durian yang sangat bergantung pada pupuk untuk menjaga kualitas dan produktivitas tanaman. Dalam kondisi ini, petani dituntut untuk melakukan efisiensi, meski di sisi lain kebutuhan nutrisi tanaman tetap harus terpenuhi.

Ridwan juga mengungkapkan bahwa hingga saat ini belum terdapat program subsidi pupuk yang secara khusus menyentuh komoditas buah-buahan seperti durian. Menurutnya, kebijakan subsidi pupuk masih lebih banyak difokuskan pada sektor tanaman pangan tertentu.

“Untuk saat ini belum ada subsidi pupuk untuk hortikultura, yang ada biasanya untuk padi atau sawit,” ungkapnya.

Ia menambahkan bahwa dirinya tergabung dalam organisasi KTNA (Kontak Tani Nelayan Andalan) Provinsi Riau, namun aspirasi terkait subsidi pupuk untuk komoditas buah belum sepenuhnya terakomodasi dalam kebijakan yang ada. Ridwan menilai perlu ada perhatian lebih terhadap sektor hortikultura yang juga memiliki kontribusi ekonomi bagi daerah.

Menurutnya, keterbatasan dukungan terhadap petani durian berpotensi menghambat pengembangan komoditas tersebut, terutama di tengah meningkatnya permintaan pasar terhadap buah durian dari Riau.

Kondisi ini mendorong para petani berharap adanya evaluasi kebijakan distribusi dan subsidi pupuk agar lebih merata, tidak hanya terfokus pada komoditas tertentu, tetapi juga mencakup sektor hortikultura yang memiliki potensi ekonomi tinggi di daerah.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....