Kadis P3AP2KB Riau: Keluarga Jadi Garda Terdepan Cegah Radikalisme
- 24 Jun 2026 11:42 WIB
- Pekanbaru
RRI.CO.ID, Pekanbaru – Keluarga memiliki peran strategis sebagai benteng pertama dalam mencegah penyebaran paham intoleransi, radikalisme, ekstremisme, dan terorisme (IRET). Karena itu, penguatan ketahanan keluarga dinilai menjadi langkah penting dalam membangun generasi muda yang berkarakter, toleran, dan cinta tanah air.
Hal tersebut disampaikan Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (P3AP2KB) Provinsi Riau, Fariza, saat mendukung pelaksanaan Program RATAKAN (Riau Tangkal Ancaman dan Kembangkan Nilai Kebangsaan) yang dijalankan Satgaswil Riau Densus 88 Anti Teror Polri di berbagai sekolah di Provinsi Riau.
Fariza menegaskan, keluarga merupakan lingkungan pertama yang membentuk karakter, moral, serta ketahanan ideologi anak sejak usia dini. Oleh karena itu, orang tua harus menjadi garda terdepan dalam menanamkan nilai-nilai toleransi, penghormatan terhadap keberagaman, dan semangat kebangsaan.
“Keluarga adalah sekolah pertama bagi anak. Sebelum anak mengenal lingkungan luar, mereka terlebih dahulu belajar dari orang tua dan keluarga. Karena itu, pencegahan intoleransi, radikalisme, ekstremisme, dan terorisme harus dimulai dari rumah melalui penguatan nilai-nilai kebangsaan, toleransi, dan kasih sayang dalam keluarga,” kata Fariza, Selasa 23 Juni 2026.
Menurutnya, perkembangan teknologi informasi dan media sosial menghadirkan tantangan baru dalam pengasuhan anak. Akses yang semakin mudah terhadap berbagai informasi membuat anak dan remaja rentan terpapar konten yang mengandung ujaran kebencian, intoleransi, maupun propaganda yang bertentangan dengan nilai-nilai kebangsaan.
Karena itu, ia menilai peran orang tua tidak hanya sebatas mengawasi penggunaan teknologi digital, tetapi juga membangun komunikasi yang terbuka dan memberikan pemahaman yang benar kepada anak.
“Orang tua perlu hadir di tengah perkembangan teknologi yang dihadapi anak-anak. Bukan hanya mengawasi, tetapi juga membangun komunikasi yang terbuka, memberikan pemahaman yang benar, dan menjadi tempat bertanya yang nyaman bagi anak-anak ketika mereka menemukan informasi yang membingungkan di ruang digital,” ujarnya.
Fariza juga mengapresiasi Program RATAKAN yang telah menjangkau puluhan ribu pelajar di Kota Pekanbaru dan Kabupaten Siak. Ia menilai program tersebut menjadi investasi sosial yang penting dalam membangun ketahanan generasi muda terhadap ancaman ideologi kekerasan.
“Kami menyambut baik dan mendukung penuh Program RATAKAN yang dilaksanakan Satgaswil Riau Densus 88 AT Polri. Program ini tidak hanya memberikan edukasi kepada peserta didik, tetapi juga memperkuat kesadaran seluruh elemen masyarakat tentang pentingnya menjaga generasi muda dari pengaruh paham yang bertentangan dengan Pancasila,” katanya.
Sebagai instansi yang bertugas dalam perlindungan anak dan penguatan keluarga, Dinas P3AP2KB Provinsi Riau terus mendorong berbagai program peningkatan kualitas pengasuhan, ketahanan keluarga, serta perlindungan anak dari berbagai ancaman sosial.
Fariza menilai keluarga yang harmonis dan komunikatif akan lebih mampu membangun ketahanan psikologis anak sehingga tidak mudah terpengaruh oleh ajakan maupun propaganda yang mengarah pada perilaku intoleran dan ekstrem.
“Ketika anak merasa dihargai, didengarkan, dan mendapatkan perhatian yang cukup dari keluarga, maka mereka akan memiliki kepercayaan diri serta kemampuan berpikir yang lebih baik dalam menghadapi berbagai pengaruh negatif dari lingkungan sekitar,” jelasnya.
Ia juga mengajak seluruh orang tua untuk membangun budaya diskusi dalam keluarga mengenai nilai-nilai kebangsaan, toleransi, etika bermedia sosial, serta bahaya penyebaran informasi yang mengandung kebencian dan kekerasan.
Menurut Fariza, keberhasilan pencegahan IRET membutuhkan sinergi seluruh elemen masyarakat, mulai dari keluarga, sekolah, pemerintah daerah, tokoh agama, tokoh masyarakat hingga aparat keamanan.
“Membangun generasi yang tangguh tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri. Dibutuhkan kolaborasi antara keluarga, sekolah, masyarakat, dan pemerintah. Ketika seluruh pihak bergerak bersama, maka kita akan mampu melahirkan generasi yang cerdas, berkarakter, toleran, dan cinta tanah air,” tegasnya.
Program RATAKAN sendiri telah menjangkau 94 sekolah dengan total 84.369 siswa, 1.972 guru, 135 guru bimbingan konseling, serta 66 kepala sekolah. Capaian tersebut menjadi bukti nyata kolaborasi antara Satgaswil Riau Densus 88 AT Polri, Pemerintah Provinsi Riau, dunia pendidikan, dan keluarga dalam memperkuat ketahanan masyarakat terhadap ancaman intoleransi, radikalisme, ekstremisme, dan terorisme.
Melalui penguatan keluarga sebagai benteng pertama pencegahan, Provinsi Riau optimistis dapat melahirkan generasi muda yang sehat, berkarakter, toleran, serta mampu menjadi agen perdamaian dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....