Belantara Foundation Ajak Mitra Jepang Tanam Pohon
- 14 Jun 2026 04:28 WIB
- Pekanbaru
RRI.CO.ID, Pekanbaru – Menyambut Hari Penanggulangan Degradasi Lahan dan Kekeringan Sedunia 2026, Belantara Foundation bersama mitra sektor swasta dari Jepang menggelar aksi penanaman pohon secara simbolis di kawasan Taman Hutan Raya Sultan Syarif Hasyim (Tahura SSH), Provinsi Riau, Kamis 11 Juni 2026. Kegiatan ini terlaksana melalui kolaborasi dengan Kesatuan Pengelola Hutan Produksi (KPHP) Minas Tahura serta Kelompok Tani Hutan yang menjadi mitra pengelolaan Tahura SSH.
Salah satu jenis pohon yang ditanam dalam kegiatan tersebut adalah balangeran (Shorea balangeran), spesies pohon lokal yang tergolong langka dan memerlukan upaya pelestarian. Penanaman ini menjadi bagian dari komitmen bersama dalam mendukung pemulihan kawasan hutan yang mengalami degradasi sekaligus memperkuat upaya konservasi keanekaragaman hayati.
Direktur Eksekutif Belantara Foundation, Dr. Dolly Priatna, mengatakan restorasi ekosistem merupakan salah satu agenda global yang mendesak untuk dilakukan. Menurutnya, Perserikatan Bangsa-Bangsa telah menetapkan periode 2021–2030 sebagai Dekade Restorasi Ekosistem untuk mendorong pemulihan kawasan yang mengalami kerusakan di berbagai belahan dunia.
“Dunia menargetkan pemulihan sekitar 1,5 miliar hektare lahan terdegradasi pada tahun 2030. Restorasi ekosistem menjadi salah satu langkah strategis untuk mengurangi dampak perubahan iklim, memperkuat ketahanan pangan, menjaga ketersediaan air, serta melindungi keanekaragaman hayati. Karena itu, keterlibatan semua pihak sangat diperlukan untuk mewujudkan tujuan tersebut,” ujar Dolly, dalam rilis yang disampaikan Sabtu 13 Juni 2026.
Ia menjelaskan, peringatan Hari Penanggulangan Degradasi Lahan dan Kekeringan Sedunia yang tahun ini mengusung tema “Rangelands: Recognize. Respect. Restore” atau “Padang Rumput: Kenali, Hormati, Pulihkan” menjadi momentum penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga lingkungan. Menurutnya, sektor swasta juga memiliki peran besar dalam mendukung upaya pemulihan lahan dan hutan yang rusak.
“Melalui kegiatan ini, kami ingin memperluas keterlibatan sektor swasta dalam program restorasi hutan yang terdegradasi. Pendekatan kolaboratif seperti ini sejalan dengan semangat SDGs, khususnya prinsip no one left behind. Karena itu, kami menggandeng berbagai mitra dari Jepang untuk bersama-sama mendukung gerakan restorasi hutan di Sumatra, khususnya di Provinsi Riau,” katanya.
Dolly menambahkan, kegiatan penanaman pohon tersebut merupakan bagian dari program Forest Restoration Project: SDGs Together! yang telah dijalankan sejak tahun 2020. Program itu tidak hanya bertujuan memulihkan fungsi ekologis kawasan hutan, tetapi juga membantu mengurangi risiko kerusakan lingkungan seperti erosi, longsor, pencemaran sumber air, kebakaran lahan, hingga polusi udara. Selain itu, program tersebut diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar secara berkelanjutan.
Pada kesempatan yang sama, Representative Director APP Japan Ltd., Tan Ui Sian, menyatakan pihaknya akan terus memperluas dukungan dari berbagai pemangku kepentingan di Jepang terhadap program restorasi hutan tersebut. Ia menilai kerja sama yang telah terjalin memberikan peluang lebih besar untuk melibatkan berbagai pihak dalam upaya pelestarian lingkungan.
“Kerja sama dengan KPHP Minas Tahura memberikan nilai tambah yang besar bagi pengembangan program ini. Ke depan, kami berharap semakin banyak pemangku kepentingan dari Jepang maupun negara lain yang bergabung untuk mendukung Forest Restoration Project: SDGs Together! sehingga manfaatnya bisa dirasakan lebih luas,” ujar Tan.
Sementara itu, Kepala KPHP Minas Tahura, Sri Wilda Hasibuan, menjelaskan bahwa Tahura Sultan Syarif Hasyim merupakan kawasan konservasi yang memiliki luas lebih dari 6.000 hektare. Namun, sebagian besar kawasan tersebut saat ini mengalami degradasi akibat aktivitas ilegal seperti perambahan dan pembalakan liar.
“Kami terus berupaya memulihkan fungsi kawasan Tahura SSH melalui berbagai program perlindungan dan restorasi. Namun upaya ini tidak bisa dilakukan sendiri. Diperlukan sinergi dan kolaborasi dengan berbagai pihak. Melalui program Forest Restoration Project: SDGs Together! yang kami jalankan bersama Belantara Foundation dan mitra dari Jepang sejak 2022, kami berharap kawasan hutan yang terdegradasi dapat kembali pulih serta berkontribusi terhadap upaya mitigasi perubahan iklim dan pengurangan emisi karbon di Provinsi Riau,” pungkas Sri.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....