Peternak Ayam Petelur Kampar Berharap Produksi Lokal Diserap Program Pemerintah

  • 12 Jun 2026 16:40 WIB
  •  Pekanbaru

RRI.CO.ID, Pekanbaru - Kondisi industri peternakan ayam petelur di Kabupaten Kampar kian memprihatinkan. Para peternak lokal mengaku pesimis menghadapi situasi pasar saat ini lantaran tingginya biaya produksi tidak sebanding dengan harga jual telur yang merosot tajam, diperparah dengan lemahnya daya beli masyarakat.

Salah seorang peternak ayam petelur di Kampar, Asril, mengungkapkan rasa pesimisnya terhadap keberlangsungan usaha mereka jika tidak ada intervensi cepat dari pemerintah. Lonjakan harga pakan yang tidak diiringi dengan stabilnya harga telur membuat para peternak mengalami kerugian operasional setiap harinya.

"Jadi untuk biaya produksi per hari ini itu tidak terbanding dengan harga jual. Harga pakan yang tinggi, kemudian harga telur yang anjlok. Dengan kondisi sekarang kami tidak yakin dan pesimis. Pesimis maksudnya daya beli itu masih kurang," ujar Asril, Jumat 12 Juni 2026.

Melihat kondisi yang kian terjepit, Asril mengaku para peternak telah berupaya membangun komunikasi dengan Pemerintah Kabupaten Kampar agar keluhan mereka bisa diteruskan ke tingkat yang lebih tinggi.

"Kami juga sudah berupaya menghubungi Bupati Kampar untuk membicarakan masalah ini agar bisa Pemda itu menolong ataupun menyambung aspirasi kami ini ke tingkat yang lebih tinggi, apakah itu ke provinsi ataupun sampai ke kementerian ataupun ke pusat itu," tambahnya.

Senada dengan Asril, peternak lainnya, Indra Habibie, mengharapkan adanya kebijakan konkret dari pemerintah, baik dalam hal penetapan regulasi harga maupun pemanfaatan potensi lokal. Indra menyoroti peluang besar yang bisa diambil pemerintah dengan menyerap produksi telur lokal untuk menyokong program jaring pengaman sosial atau dapur umum pemerintah.

"Harapan kami para peternak ini, khususnya di Riau, ada nanti kebijakan atau tindakan pemerintah untuk menetapkan harga atau bagaimana peternak ini bisa disondingkan dengan dapur-dapur MBG (Makan Bergizi Gratis)," kata Indra.

Indra juga mempertanyakan kebijakan distribusi yang selama ini dinilai kurang berpihak pada peternak daerah. Ia menyayangkan pasokan telur untuk kebutuhan program di Riau justru didatangkan dari wilayah tetangga, padahal kapasitas produksi peternak Kampar sangat mumpuni.

"Kenapa kita harus mendatangkan telur jauh-jauh dari Payakumbuh, sedangkan kita di Riau ini sudah banyak peternak ayam layer-nya (petelur)," pungkas Indra.

Para peternak berharap Pemerintah Daerah maupun Pusat dapat segera menyelaraskan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan menyerap hasil panen dari peternak lokal. Langkah ini dinilai menjadi solusi paling realistis untuk menyelamatkan sektor peternakan Kampar dari kebangkrutan sekaligus memotong rantai pasok yang tidak efisien.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....