KPPG Tekankan Edukasi Gizi dalam Program Pemenuhan Gizi

  • 10 Mar 2026 16:00 WIB
  •  Pekanbaru

RRI.CO.ID, Pekanbaru - Kepala Kantor Pelayanan Pangan Gizi (KPPG) Wilayah Riau, Kepulauan Riau (Kepri) dan Sumatera Barat (Sumbar), Syartiwidya menegaskan pentingnya edukasi gizi sebagai bagian utama dari keberhasilan program pemenuhan gizi yang saat ini dijalankan di berbagai sekolah.

Menurutnya, program pemenuhan gizi tidak hanya berfokus pada pemberian makanan bergizi kepada peserta didik, tetapi juga harus disertai dengan peningkatan pemahaman masyarakat mengenai pola makan sehat dan seimbang.

“Indikator keberhasilan program ini tentu bukan hanya pemberian makan bergizi kepada peserta didik maupun non-peserta didik, tetapi juga bagaimana edukasi gizi bisa sampai kepada masyarakat,” ujar Syartiwidya di Pekanbaru, Senin 9 Maret 2026.

Ia menjelaskan, peran Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) sangat penting dalam memastikan program tersebut berjalan optimal. Para kepala SPPG diminta untuk aktif mengingatkan para ahli gizi maupun pengawas gizi agar rutin memberikan edukasi di sekolah-sekolah.

“Ahli gizi dan pengawas gizi harus aktif melakukan edukasi gizi di sekolah agar siswa, guru, dan orang tua memahami pentingnya pola makan yang sehat,” ungkapnya.

Selain itu, Syartiwidya juga mendorong setiap SPPG menyediakan ruang konseling gizi yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat, terutama orang tua siswa untuk berkonsultasi mengenai pola makan dan kesehatan anak.

Menurutnya, pendekatan langsung kepada orang tua dan wali murid sangat penting untuk memberikan pemahaman yang benar mengenai program pemenuhan gizi, termasuk menjelaskan berbagai informasi yang sering menjadi perbincangan di media sosial.

“Kepala SPPG perlu mendekati orang tua, wali murid, guru dan kepala sekolah untuk memberikan edukasi gizi sekaligus transparansi terkait program yang dijalankan,” katanya.

Ia juga menyoroti masih adanya kesalahpahaman di masyarakat terkait harga makanan dalam program tersebut. Menurutnya, banyak pihak yang belum mengetahui secara jelas besaran biaya yang digunakan.

“Kita sering disorot soal harga. Padahal harga makanan Rp10.000 untuk porsi besar dan Rp8.000 untuk porsi kecil. Banyak masyarakat yang belum mengetahui hal ini karena edukasinya belum sampai,” ungkapnya.

Karena itu, ia meminta seluruh kepala SPPG lebih aktif melakukan komunikasi dengan masyarakat sekolah agar informasi mengenai program, termasuk anggaran dan manfaatnya dapat dipahami secara terbuka.

Selain edukasi, Syartiwidya juga menekankan pentingnya pemeriksaan status gizi anak-anak di sekolah sebagai bagian dari evaluasi program.

“Pemeriksaan status gizi perlu dilakukan agar dampak program pemenuhan gizi terhadap kesehatan dan pertumbuhan anak-anak dapat terlihat secara nyata,” katanya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....