Puasa Harus Dipahami Generasi Muda sebagai Kebutuhan Ibadah

  • 27 Feb 2026 08:25 WIB
  •  Pekanbaru

RRI.CO.ID, Pekanbaru - Generasi muda mempunyai peran penting dalam menjaga nilai-nilai ibadah di tengah tantangan zaman. Puasa di bulan Ramadhan bukan hanya dimaknai sebagai kewajiban ritual, tetapi juga sebagai kebutuhan spiritual yang membentuk karakter.

Memaknai puasa di kalangan generasi muda tentu memiliki tantangan tersendiri, apalagi di era digital dan serba cepat seperti sekarang ini. Hal ini juga turut menjadi pembahasan dalam program 'Tanya Ustad?' di Programa 2 RRI Pekanbaru, Kamis, 26 Februari 2026.

Dewan Penasihat ICMI Orwil Riau, Prof. Dr. Saktioto, M.Phil. menilai, tantangan generasi muda harus dijawab dengan pendekatan yang tepat.

“Ya, pada generasi sekarang sama saja sebagaimana yang disampaikan Rasul, sebaik-baik umat itu adalah zaman Rasul, kemudian setelah itu adalah zaman setelah Rasul, zaman sahabat. Dan makin jauh dari zaman Rasul, maka akan semakin rendah tingkat dari semua hal, keimanan amal ibadah," ungkap Prof. Dr. Saktioto, M.Phil. melalui zoom meeting.

Ia menjelaskan bahwa perjalanan sejarah menunjukkan adanya tahapan dalam menjaga keimanan.

“Pada zaman Rasulullah dulu tidak ada orang yang mau membaca Al-Quran kecuali menghafalnya. Tapi ketika sudah banyak para sahabat yang meninggal, jumlah penghafal berkurang, mati tentunya dan itu adalah dengan menyiapkan dalam bentuk tulisan. Nah tulisan itu jadilah menjadi suatu kitab Al-Quran itu, kemudian terus berkembang sehingga kita mengharapkan dua-duanya, ada yang banyak menghafal dan banyak juga membaca,” lanjut Prof. Dr. Saktioto, M.Phil.

Menurutnya, generasi milenial perlu didekati secara persuasif dan rasional. Ia menegaskan bahwa manusia memiliki akal untuk menentukan pilihan, dan menutup dengan menekankan pentingnya keteladanan dan pendekatan yang mengedepankan contoh kebaikan.

“Ini salah satu cara pendekatan kepada kelompok muda juga, di samping ketokohan dari kita semua memberikan contoh-contoh. Ya, karena Anak-anak itu suka mencontoh. Boleh contoh itu yang memberikan ketokohan maupun yang memberikan bentuk-bentuk akhlak kepada dirinya.” tutup Prof. Dr. Saktioto, M.Phil.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....