Alasan Gorengan Jadi Primadona saat Berbuka Puasa
- 20 Feb 2026 15:49 WIB
- Pekanbaru
RRI.CO.ID, Pekanbaru - Momen berbuka puasa di Indonesia hampir tidak pernah lepas dari kehadiran gorengan. Mulai dari bakwan, tahu isi, hingga pisang goreng, pemandangan antrean panjang di penjual takjil pinggir jalan sudah menjadi tradisi tersendiri.
Fenomena ini bukan tanpa alasan; gorengan menawarkan kombinasi tekstur dan rasa yang sangat memuaskan setelah seharian menahan lapar dan dahaga. Daya tarik utama gorengan terletak pada teksturnya yang renyah di luar namun lembut di dalam.
Secara psikologis, suara "kriuk" saat menggigit gorengan memberikan kepuasan sensorik yang instan bagi otak. Selain itu, rasa gurih yang dominan sangat kontras dengan rasa hambar di mulut setelah berpuasa belasan jam, sehingga makanan ini sering dianggap sebagai "hadiah" yang paling dinanti.
Dari sisi kepraktisan, gorengan adalah menu yang sangat mudah ditemukan dan ramah di kantong. Harganya yang terjangkau membuat semua lapisan masyarakat bisa menikmatinya tanpa harus merogoh kocek dalam-dalam. Kecepatan penyajiannya juga sangat cocok dengan budaya masyarakat urban yang memiliki mobilitas tinggi dan ingin segera membatalkan puasa dengan makanan yang mengenyangkan.
Secara ilmiah, keinginan mengonsumsi makanan berminyak saat berbuka berkaitan dengan kebutuhan energi yang cepat. Melansir dari laman kesehatan Healthline serta penjelasan ahli gizi dari Universitas Gadjah Mada, makanan tinggi lemak dan karbohidrat seperti gorengan memberikan lonjakan energi yang instan karena kepadatan kalorinya yang tinggi. Namun, para ahli tetap memperingatkan bahwa konsumsi berlebihan dapat menyebabkan gangguan pencernaan dan kenaikan kolesterol jika tidak dibatasi dengan asupan serat yang cukup.
Meskipun lezat, konsumsi gorengan saat perut kosong sebenarnya memiliki tantangan tersendiri bagi sistem pencernaan. Lemak jenuh dalam minyak goreng membutuhkan waktu lebih lama untuk dicerna, yang terkadang memicu rasa begah atau asam lambung naik. Oleh karena itu, banyak orang yang menyiasatinya dengan meminum air hangat atau menyantap kurma terlebih dahulu sebelum beralih ke gorengan favorit mereka.
Pada akhirnya, gorengan bukan sekadar makanan, melainkan bagian dari warisan budaya kuliner saat Ramadan. Aroma minyak panas dan bumbu rempah yang tercium menjelang azan Magrib seolah sudah menjadi sinyal bagi tubuh untuk bersiap berbuka. Selama dikonsumsi dalam batas wajar dan diimbangi dengan nutrisi lain, gorengan akan tetap menjadi "juara" di meja makan setiap bulan suci tiba.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....