Aktivitas Menyenangkan Menjelang Buka Puasa
- 20 Feb 2026 14:20 WIB
- Pekanbaru
RRI.CO.ID, Pekanbaru - Menjelang azan magrib berkumandang, suasana sore di berbagai daerah di Indonesia berubah menjadi lebih hidup. Anak-anak muda, keluarga, hingga komunitas keagamaan memadati taman kota, masjid, dan pasar kuliner untuk menjalani tradisi yang akrab disebut ngabuburit.
Ngabuburit atau mengabuburit berasal dari bahasa Sunda yang merujuk pada kegiatan menunggu waktu berbuka puasa di bulan Ramadan. Aktivitasnya beragam, mulai dari jalan-jalan santai, berburu takjil gratis, mendatangi pasar kuliner, hingga mengikuti ceramah agama atau mengaji bersama.
Dikutip dari Wikipedia Indonesia, istilah serupa ternyata juga dikenal di berbagai daerah Nusantara dengan penyebutan berbeda. Dalam bahasa Minang, istilah ini dikenal dengan malengah puaso, yakni melakukan kegiatan untuk mengalihkan rasa haus dan lapar.
Sementara dalam bahasa Banjar dikenal sebagai basambang, yang berarti berjalan-jalan saat waktu senja. Di Madura, masyarakat menyebutnya nyarè malem (mencari malam) atau nyarè bhuka'an (mencari bukaan/takjil).
Menurut Kamus Bahasa Sunda terbitan Lembaga Bahasa dan Sastra Sunda (LBSS), ngabuburit merupakan lakuran dari “ngalantung ngadagoan burit” yang berarti bersantai sambil menunggu waktu sore. Kata dasarnya, burit, berarti sore hari, yakni rentang waktu setelah salat asar hingga menjelang matahari terbenam.
Ada pula pendapat yang menyebutkan bahwa kata tersebut berasal dari “burit” yang mendapat imbuhan serta pengulangan suku kata pertama. Pola serupa juga ditemukan dalam kata Sunda lain seperti ngabeubeurang (menunggu siang), ngabebetah (membuat nyaman), dan ngadeudeukeut (mendekati).
Secara nasional, istilah ngabuburit mulai populer pada masa pemerintahan Soeharto setelah ulama Buya Hamka diminta memperkenalkannya secara luas. Seiring waktu, istilah ini juga merambah dunia hiburan. Pada 2012, TransTV menayangkan program bertajuk Ngabuburit yang memadukan komedi dan ceramah agama. Kemudian pada 2018, hadir program serupa berjudul Ngabuburit Happy.
Tak hanya itu, konser musik Ramadan pun kerap menggunakan label ngabuburit. Musisi seperti Slank, Iwan Fals, hingga Sheila on 7 pernah menggelar konser bertema serupa. Pada 2016, film pendek berjudul Ngabuburit (Waiting for Iftar) juga diputar dalam perhelatan Jogja-Netpac Asian Film Festival, mengangkat kisah sepasang suami istri yang berdiskusi tentang mudik di waktu menjelang berbuka.
Kini, ngabuburit tak sekadar aktivitas mengisi waktu. Di berbagai kampus, mahasiswa yang tergabung dalam Kerohanian Islam memanfaatkannya untuk diskusi keislaman, kajian kitab, hingga mempererat silaturahmi. Tradisi ini menjadi sarana menambah ilmu sekaligus memperkuat ukhuwah di kalangan generasi muda.
Di pesisir indah Tanah Melayu, suasana ngabuburit terasa begitu khas. Angin petang berhembus syahdu, langit jingga perlahan meredup, dan masyarakat mulai memadati Pasar Ramadan atau yang dikenal sebagai Pasar Juadah.
Beragam kuliner khas Melayu tersaji menggoda selera. Mulai dari Nasi Lemak, Roti John, hingga Ayam Percik. Aneka kue seperti Karipap dan Cakue berjajar rapi, ditemani minuman segar seperti es kelapa, es sirup, dan teh tarik.
Di Kota Batam, Pasar Juadah di kawasan Nagoya selalu ramai pengunjung. Menu yang ditawarkan mencerminkan keberagaman masyarakat perantau, seperti Otak-otak, Luti Gendang, Gonggong, Mie Tarempa, hingga Kue Bingka Bakar.
Dari Minang hadir Sayur Pakis Santan dan Nasi Padang lengkap dengan teh Talua. Sementara dari Jawa, Nasi Gudeg dengan tempe tahu bacem turut meramaikan pilihan menu berbuka.
Tak hanya kuliner, bazar busana muslim dan perlengkapan Idul Fitri juga menjadi daya tarik tersendiri. Jilbab, peci rajut, hingga aksesori bernuansa Islami dari berbagai negara turut menghiasi lapak-lapak pedagang.
Walaupun berasal dari bahasa Sunda, istilah ngabuburit kini telah menjadi bagian dari kosakata nasional. Bahkan di Tanah Melayu, kata ini kian lazim digunakan untuk menyebut aktivitas jalan-jalan sore sambil membeli takjil.
Di tepi pantai saat senja berlayu, angin berbisik lembut merayu. Ngabuburit menjadi momen bertemu, menunggu azan dengan hati syahdu. Lebih dari sekadar menanti berbuka, ngabuburit adalah tradisi yang merawat kebersamaan, memperkaya budaya, dan menghidupkan semangat Ramadan di seluruh penjuru negeri.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....