Transformasi Ramadan Memantaskan Keluarga Sakinah di Bulan yang Suci

  • 04 Mar 2026 06:15 WIB
  •  Pekanbaru

RRI.CO.ID, Pekanbaru - Transformasi Ramadan seharusnya membawa kita dari yang tidak baik menjadi lebih baik, dan rumah tangga makin hari makin sakinah. Demikian ditegaskan Prof. Dr. HM Ridwan Hasbi, Lc, MA dalam kajian Shubuh Mutiara Pagi Ramadan bertajuk “Memantaskan Keluarga Sakinah dalam Transformasi Ramadan” yang disiarkan live di Pro-1 RRI Pekanbaru, Rabu 4 Maret 2026.

Kajian fiqh munakahat tersebut membahas bagaimana Ramadan menjadi momentum pembenahan keluarga, baik dari sisi spiritual, ekonomi, maupun pola hidup. Prof. Ridwan Hasbi menjelaskan, secara fenomena kebutuhan pangan pada bulan Ramadan justru cenderung meningkat dibanding hari biasa, meskipun waktu makan hanya dua kali, yakni saat sahur dan berbuka.

Menurutnya, kondisi itu perlu disikapi dengan bijak agar tidak terjadi pemborosan. Ia mengingatkan pentingnya memantaskan ekonomi keluarga selama Ramadan dengan menerapkan pola hidup yang lebih hemat dan terencana.

“Puasa yang kurang lebih 14 jam, sesungguhnya cukup diisi dengan sekitar 14 menit makan dan minum untuk memenuhi kebutuhan lambung kita,” ujarnya, menekankan makna kesederhanaan dalam konsumsi.

Ia menambahkan, esensi transformasi Ramadan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan perubahan karakter dan kualitas kehidupan rumah tangga. Seharusnya, kata dia, semakin bertambah hari di bulan Ramadan, semakin tampak pula ketenangan, keharmonisan, dan nilai sakinah dalam keluarga muslim.

Namun demikian, ia menyoroti fenomena yang kerap terjadi menjelang akhir Ramadan. Jamaah masjid dan mushalla justru cenderung berkurang, sementara pusat perbelanjaan dan pasar semakin ramai. Kondisi ini, menurutnya, menjadi indikator bahwa transformasi spiritual Ramadan belum sepenuhnya tercipta di tengah masyarakat.

Dalam kajiannya, Prof. Ridwan Hasbi juga mengangkat keteladanan Rasulullah SAW dalam menjalani kehidupan yang sederhana, khususnya pada bulan Ramadan. Ia menceritakan kisah ketika Rasulullah SAW tidur beralaskan tikar yang keras. Saat seorang wanita Anshar membelikan kasur wol yang lebih empuk, Rasulullah melalui istrinya, Aisyah RA, mengembalikannya kepada wanita tersebut sebagai bentuk pilihan hidup sederhana.

Kisah tersebut, jelasnya, mengajarkan umat Islam untuk tidak larut dalam kemewahan dan konsumtif, terutama di bulan suci. Kesederhanaan menjadi kunci agar nilai ibadah dan keharmonisan keluarga tetap terjaga.

Melalui siaran langsung Pro-1 RRI Pekanbaru itu, Prof. Ridwan Hasbi mengajak umat Islam menjadikan Ramadan sebagai momentum memantaskan diri dan keluarga. Transformasi yang diharapkan bukan hanya tampak secara ritual, tetapi juga tercermin dalam penguatan ekonomi keluarga, kesederhanaan hidup, serta meningkatnya kualitas ibadah dan kebersamaan dalam rumah tangga.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....